Tauhid: Basis Keilmuan Peradaban Islam

Posted: December 7, 2009 in Critical Essay
Tags:

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam telah memberikan sumbangsih yang luar biasa terhadap berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang keilmuan. Puncak kejayaan peradaban Islam yang menggiatkan tradisi keilmuan terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah, yaitu ketika Harun al-Rasyid menjadi khalifah. Di bawah kepemimpinannya, tradisi keilmuan berkembang pesat dengan didirikannya akademi pertama umat Islam, yaitu Bayt al-Hikmah. Setelahnya, aspek keilmuan semakin gemilang di bawah kekhalifahan putra Harun al-Rasyid, yaitu al-Ma’mun. Ketika Eropa dihantui dengan doktrin gereja yang mengekang kebebasan berpikir, Islam justru memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi para ilmuwan untuk melakukan petualangan intelektualnya.

Antusisme para ilmuwan muslim untuk menggiatkan tradisi keilmuan tentu bukan tanpa alasan. Ada spirit agung yang mendasari rasa ingin tahu mereka yang besar, yaitu spirit tauhid. Secara historis, perbedaan yang kentara antara peradaban Islam dan peradaban barat sesungguhnya adalah eksistensi agama. Ketika peradaban barat mampu maju dengan sekulerisasinya maka Islam maju dengan spirit tauhidnya. Barat meninggalkan agama karena ada rasa traumatik ketika warisan agama Kristen yang dipahaminya tidak memberikan kebebasan berpikir dan otonomi manusia. Sebaliknya, di saat yang sama dan di belahan dunia lain, Islam justru maju berkat warisan Rasulullah yang menjadi dasar dari spirit Tauhid, yaitu al-Qur’an dan as-sunnah, yang memerintahkan umat untuk berpikir dan berbuat. Ketika umat Islam memiliki keyakinan yang tinggi akan kebenaran keduanya maka pada level ini, akan lahir banyak penemuan besar yang juga mendukung tranformasi sosial.

Memang akan tampak begitu naïf saat diulas kembali betapa majunya umat Islam di masa dahulu. Oleh karena itu, agar sejarah umat Islam tidak sekedar menjadi nostalgia, maka  pada karya tulis ini penulis tidak hanya akan mendeskripsikan geliat keilmuan di masa itu, tapi juga akar yang menyebabkan kemajuan itu terjadi. Saat ini, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sipirit itu. Barat, misalnya, saat ini maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, tapi sesungguhnya mereka sedang mengalami kemunduran dalam hal spiritualitas. Ketika etos kerja warganya tidak diimbangi dengan spirit ketuhanan maka yang lahir kemudian adalah egosentris, ketidakadilan, hingga menempatkan materialisme di atas segala-galanya. Lain halnya dengan Islam, dimensi spiritualitaslah yang justru menjadi pemicu motivasi terbangunnya peradaban.

Dasar-dasar pemikiran ilmiah yang terdapat di dalam al-Qur’an, memotivasi manusia agar sungguh-sungguh melakukan pengamatan, pengumpulan data, pembuatan kesimpulan dan verifikasi. Itulah yang terjadi di masa peradaban Islam. Semangat untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan terus berkobar karena keyakinan yang kuat atas prinsip tauhid; iman, ilmu, dan amal. Tercatat berbagai nama tokoh ilmuwan muslim dalam peradaban Islam yang memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan dunia dari berbagai bidang, khususnya filsafat dan ilmu pengetahuan alam (sciences), seperti Ibnu Sina, al-Ghazali, Abu Nafis, dan lain sebagainya. Sayangnya, mereka menjadi pahlawan tak dikenal karena arus modern dan postmodern yang sangat menyilaukan.

  1. B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalahnya itu:

  1. Bagaimanakah konsepsi Tauhid dalam Islam?
  2. Apa sajakah pengaruh tauhid terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada masa peradaban Islam?
  3. Bagaimanakah para ilmuwan muslim mengaplikasikasikan konsep tauhid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di masa peradaban Islam?
  4. Apa sajakah sumbangan ilmuwan muslim dalam bidang filsafat dan ilmu alam yang bermanfaat bagi dunia?
  1. C. Tujuan penulisan

Adapun tujuan penulisan ini, yaitu:

  1. Untuk menjelaskan konsepsi Tauhid yang mendasari kuatnya semangat para ilmuwan muslim menggali ilmu pengetahuan
  2. Untuk mendeskripsikan geliat ilmuwan muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga memberikan manfaat bagi dunia
  3. Untuk mengetahui para tokoh ilmuwan muslim dalam bidang filsafat dan ilmu alam, serta karya-karyanya yang berbasis tauhid

  1. D. Metode Penulisan

Penulis menggunakan metode kepustakaan dalam menyusun tulisan ini, baik melalui buku maupun media massa.

  1. Sistematika Penulisan

Sistematika karya tulis ilmiah ini terdiri dari kata pengantar, daftar isi, bab I yang berisi pendahuluan, dengan subbab, yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisa. Selanjutnya bab II yang membahas tentang tauhid sebagai akar peradaban, dengan subbab yang terdiri dari: pengertian tauhid, warisan rasul: al-qur’an dan as-sunnah, dan peran tauhid dalam peradaban ilmu. Kemudian bab II yang membahas tentang warisan intelektual muslim, dengan subbab yang terdiri dari: kejayaan Peradaban Islam dan kontribusi para intelektual peradaban Islam. Di bab IV terdiri dari kesimpulan yang merangkum semua bahasan. Selanjutnya bagian terakhir berisi daftar pustaka.

BAB II

TAUHID SEBAGAI AKAR PERADABAN

  1. A. Pengertian Tauhid

Kata “tawhid” (diindonesiakan menjadi “Tauhid”) adalah kata benda kerja (verbal noun) aktif, sebuah derivasi atau tashrif dari kata-kata ‘wahid’ yang artinya “satu” atau “esa”. Maka makna harfiah “tawhid” ialah menyatukan atau mengesakan. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk arti “mempersatukan” hal-hal yang terserak-serak atau terpecah-pecah, seperti penggunaan dalam bahasa Arab “tawhid al-kalimah” yang kurang lebih berarti mempersatukan paham, dan dalam ungkapan “tawhid al-quwwah” yang berarti “mempersatukan kekuatan”. Sedangkan secara istilah teknis dalam ilmu kalam, kata-kata tawhid dimaksudkan sebagai paham meng-Esa-kan Tuhan atau monoteisme (madjid, 1992: 72).

Sejatinya, tauhid tidak hanya berarti mengesakan Allah saja, tetapi juga mencakup pengertian yang benar tentang siapa Allah yang kita percayai itu dan bagaimana kita bersikap kepada-Nya, serta kepada objek-objek selain Dia (Madjid, 75: 1992). Ketika di masa jahiliah, kaum musyirikin percaya kepada Allah, tetapi tidak merenungi pengertian Allah yang sebenarnya. Berdasarkan QS al-zumar:38, di masa jahiliyah kaum musyrikin percaya bahwa Allah yang menciptakan alam semesta. Namun demikian, mereka tidak bisa disebut sebagai kaum beriman dan kaum bertauhid karena mereka menyertakan “oknum” dalam hal ketuhanan, seperti menyembah berhala, percaya bahwa Allah mempunyai anak, serta memitoskan bintang-bintang. Dengan demikian, tauhid yang sesungguhnya bermakna juga “pembebasan”, yaitu bebas dari kepercayaan-kepercayaan yang menyekutukan Allah SWT.

Di dalam ilmu tauhid, ada enam bidang yang dibahas. Pertama, iman kepada Allah. Keikhlasan dalam beribadah merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan keyakinan kepada Allah SWT. Kedua, iman kepada malaikat Ketiga, iman kepada kitab-kitab para nabi dan rasul. Keempat, iman kepada rasul-rasul Allah. Artinya, umat harus mengetahui sifat-sifat rasul, baik yang bersifat keteladanan maupun sifat mustahilnya, serta mu’jizat yang ada pada dirinya. Kelima, iman kepada hari akhir. Keenam, iman kepada takdir Allah (Qadha dan Qadar)

  1. B. Warisan rasul: Al-Qur’an dan As-Sunnah

Peradaban Islam memiliki kerangkanya tersendiri dalam mengembangkan kepribadian manusia dan peraturan sosial. Kerangka tersebut bersumber atas dasar wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Selain itu, Sunnah juga merupakan pedoman mutlak berdirinya peradaban Islam. Kedua warisan rasul inilah yang selanjutnya menjadi rujukan para ilmuwan muslim dalam mendirikan peradaban ilmu berbasis tauhid.

Bentuk kesadaran seorang muslim adalah mengesakan Allah dengan sebenar-benarnya. Kesadaran beriman kepada Allah ini kemudian diwujudkan dengan melakukan amalan. Di antara iman dan amal ada “ilmu” yang menengahi. Artinya, seperti sebuah segitiga, maka aspek keilmuan menjadi penengah antara iman dan amal. Banyak hadits yang menyinggung soal ini, di antaranya yaitu, “barangsiapa menempuh jalan dan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”, “carilah ilmu, sekali pun di negeri Cina, dan “menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim, lelaki dan perempuan”

Selain al-hadits, al-Qur’an juga banyak menyinggung tentang pentingnya menuntut ilmu. Salah satunya terdapat dalam al-Qur’an surat al-mujadalah:11, “Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kamu dan yang dikaruniakan kepadanya ilmu bertingkat-tingkat”. Di masa peradaban Islam, keyakinan yang tinggi akan ayat al-Qur’an tersebut memacu semangat produktif para ilmuwan muslim. Bahkan, kebenaran ayat-ayatnya terbukti seiring dengan berkembangnya zaman.

Di dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat tentang rahasia ilmu pengetahuan alam. Disebutkan bahwa alam memperlihatkan keteraturan, ketepatan waktu, pengetahuan, kekuasaan, pimpinan, kecerdasan, ketersusunan, kesiapan, pencegahan, dan bebeberapa ciri lainnya yang semata-mata merupakan milik akal (Mahmudunnasir, 5: 1991). Tidak ada kitab suci di dunia ini yang lembaran-lembarannya mendahului kemajuan ilmu pengetahuan di abad ini. Karena banyaknya ayat yang bertutur tentang ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang eksakta maka para ilmuwan muslim melakukan eksperimen dan menguji kebenarannya. Di dalam QS ar-Ra’d ayat 19 Allah SWT berfirman:

أَ

فَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)

Di suatu malam Rasulullah pernah menangis ketika menerima surat Ali Imran ayat 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulil-albab)”. Kemudian setelah rasul bersabda “…sungguh, celakalah bagi orang yang membacanya kemudian tidak berfikir tentangnya”.

Ayat tersebut menandakan bahwa tauhid mengokohkan keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli yang sudah pasti kebenarannya. Ilmu Tauhid dapat menghilangkan keraguan serta menyingkap kebatilan orang kafir, kerancuan, dan kedustaan mereka. Dari ayat tersebut juga dapat dapat disimpulkan bahwa Tauhid atau teologi Islam merupakan akar dari peradaban ilmu. Dengan kitabnya yang terbesar, yaitu Al-Qur’an—yang di dalamnya terdapat konsep-konsep seminal tentang ilmu pengetahuan—maka dari situlah peradaban Islam lahir. Setelah ilmu berkembang maka lahirlah sistem-sistem ketatanegaraan, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Singkatnya, keyakinan para ilmuwan terhadap tradisi intelektual tak dapat dilepaskan dari akarnya itu sendiri, yaitu tauhid.

  1. Peran Tauhid Membangun Peradaban Ilmu

Al-Ghazali, melalui teori cerminnya berpendapat, aktivitas kemanusiaan yang tidak diterangi dengan cahaya keilahan bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap. Sebaliknya, orang yang sekedar percaya kepada Tuhan tanpa menumbuhkan sifat-sifat agung Tuhan di dalam dirinya bagaikan iblis. Artinya, kualitas motivasi manusia akan menjadi rendah ketika Tuhan tidak lagi menjadi pusat orientasinya. Berdasarkan kenyataan tersebut, basis tauhid menjadi hal yang sangat krusial dalam mendorong berkembangnya tradisi keilmuan di masa peradaban Islam.

Peradaban telah menghasilkan para ilmuwan ternama dari berbagai bidang karena keyakinan kuatnya terhadap ajaran agama Islam. Bidang yang paling menonjol di masa itu adalah ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Penyelidikan yang dilakukan yaitu mengenai proses kejadian jagat raya dan isinya. Allah telah memberikan informasi tentang kejadian-kejadian alam di dalam al-Qur’an. Di antaranya dapat dilihat dalam surat Yunus: 101, Al-Anbiya: 30, Adz-Zariyat: 47, Fushshilat: 11,12 dan 53, Al-Ghasyiyah: 17-20. Selain itu, perintah al-Qur’an untuk membaca (QS al-‘alaq) juga menjadi spirit bagi para ilmuwan muslim untuk melakukan penelitiannya dan membuat karya-karya fenomenal.

Ajaran tauhid yang juga memerintahkan untuk menyebarkan dakwah juga turut memberikan motivasi tersendiri. Ilmuwan masa peradaban Islam berdakwah ke seluruh manusia dengan cara-cara yang tepat dan bijaksana. Setelah mapan, mereka membuat ladang-ladang baru untut menuntut ilmu hingga tersebar ke seantaro dunia. Ilmuwan yang memiliki tauhid yang benar sangat potensial untuk mengemban amanah dakwah. Dalam surat An-Nahl: 125 disebutkan “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Pada masa ini, banyak kalangan intelektual muslim yang mengadopsi pemikiran asing karena peradaban yang dominan saat ini adalah peradaban berat. Silaunya peradaban barat menyebabkan tradisi pemikiran islam menjadi menurun bahkan terkontaminasi oleh arus modern dan postmodern. Oleh karena itu, diperlukan adanya pemurnian kembali untuk mengembalikan sifat ilmu pengetahuan sesuai dengan kerangka Islam. Dalam konteks ini, tauhid selaiknya menjadi pijakan bagi para intelektual muslim untuk mengembalikan ilmu pengetahuan seperti di masa peradaban Islam. Ilmu yang bersumber dari tauhid maka harus dikembalikan lagi sesuai kerangka tauhid. Di sinilah, pentingnya islamisasi ilmu pengetahuan—yang didasarkan pada tauhid–membebaskan ilmu dari hal-hal yang bersifat sekuler.

BAB III

WARISAN INTELEKTUAL PERADABAN ISLAM

  1. A. Kejayaan Peradaban Islam

Ada beberapa fase dalam peradaban Islam dan masing-masing fase memiliki karakteristiknya tersendiri. Di fase pertama, kepemimpinan kaum muslimin dikelola oleh orang-orang yang mengacu pada manhaj (cara) kepemimpinan nabi. Aktor-aktornya yakni para khulafaurrasyidin. Kemudian setelah berlalu, terjadi masa ketika para penguasa berlaku angkuh, tidak lagi mengikuti manhaj kepemimpinan nabi, tapi masih tetap menggunakan hukum-hukum Islam sebagai dasar perundangan negara. Fase kedua ini, memang telah lewat dan diakhiri dengan runtuhnya khilafah Islam Internasional Turki Utsmani pada 1924. Namun, terlepas dari akhirnya yang tragis karena Perang Salib dan serangan bangsa Mongol, fase kedua meninggalkan satu masa yang tidak bisa kita lupakan. Kejayaan peradaban Islam mengalami puncaknya justru di masa ini, ketika geliat keilmuan para ilmuwan muslim begitu luas pengaruhnya sampai ke dataran Eropa, sebelumnya akhirnya mengalami penurunan dari genenari ke generasi.

Di masa kejayaan inilah tauhid memberikan dampak yang luar biasa terhadap geliat keilmuan peradaban Islam. Al-qur’an yang memberikan kebebasan kepada umatnya untuk menggali rahasia ilmu, menyebabkan kemajuan peradaban yang tidak ada tandingannya. Kemajuan pengembangan ilmu pengetahun pada masa peradaban Islam mencapai puncaknya pada masa Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun. Di masa dinasti ‘Abbasiyah, disiplin ilmu berkembang dan tokoh imuwan muslim banyak bermunculan, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-farabi, al-Ghazali, dan lain sebagainya. Apalagi semenjak Harun al-Rasyid mendirikan akademi pertama umat Islam di Baghdad, yaitu Bayt al-Hikmah.

Di masa itu juga, perpustakaan-perpustakaan besar berdiri kokoh dan menjadi pusat kajian ilmiah. Senada dengan surat al-‘alaq yang memerintahkan umat Islam untuk membaca maka para ilmuwan muslim tak henti-hentinya mengkaji berbagai disiplin ilmu. Lebih lanjut lagi, di masa kekhalifahan tersebut banyak dilakukan aktivitas penerjemahan berbagai karya ilmiah. Para penerjemah berasal dari berbagai etnik, seperti Naubakht dari Persia, Muhammad nin al-Fazari dari Arab, dan Hunain bin Ishaq yang semula seorang penganut Kristen Nestorian dari Hirah.

Perintah al-Qur’an untuk membaca membuat masyarakat di masa Peradaban Islam keranjingan untuk membaca. Sejatinya, syarat terbangunnya sebuah peradaban adalah dengan membaca. Spirit untuk menuntut ilmu yang diperintahkan di dalam al-Qur’an menjadikan tingkat melek huruf di kalangan kaum Muslim mencapai level tertinggi pada abad 11 dan 12 M. Bahkan, koleksi buku seorang ulama di Baghdad mencapai 400 ribu judul, sementara isi perpustakaan raja Prancis hanya 400 judul buku. Dari membaca ini kemudian lahir tradisi keilmuan yang melahirkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, berdiri banyak perpustakaan yang mampu mengakomodir rasa ingin tahu dan semangat keilmuan para ilmuwan muslim, di antaranya:

Sayagnya, setelah masa tersebut lewat, saat ini, masa yang dihadapi umat Islam adalah masanya para penguasa zhalim. Akibatnya, begitu banyak persoalan yang menghantui negeri muslim di berbagai belahan dunia. Artinya, dari fase ke fase jelas ada penurunan generasi umat Islam; penyalahgunaan kekuasaan, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Bercermin dari peradaban, umat Islam di masa itu, baik penguasa, ilmuwan, ulama, dan sebagainya menjadikan Allah sebagai pusat orientasinya. Peradaban Islam lahir karena semangat tauhid dan maju karena semangat tauhid.

  1. B. Kontribusi Para Intelektual Peradaban Islam

Dalam perkembangan peradaban muslim awal, pengaruh pengetahuan (‘ilm) sangat besar dan merembes ke mana-mana, ‘ilm pada kenyataannya merupakan salah satu konsep Islam yang paling mendasar dan kuat. Sebagai unsur formatif, dia membentuk pandangan muslim mengenai peradaban. Para sarjana muslim awal memberikan sumbangan pemikiran yang sangat besar pada seluruh lapisan masyarakat dan seluruh jenjang pendidikan. Mereka menyaksikan berbagai definisi pengetahuan yang sedang dikembangkan pada masa itu. Bagi mereka, peradaban Islam tanpa ‘ilm benar-benar tak terbayangkan; dan, dalam tinjauan kembali, hal itu makin jelas sekarang ini (Sarda, 42: 1989).

Peradaban Islam sejatinya telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap kemajuan dunia saat ini. Dasar-dasar ilmu pengetahuan atau sains sesunggunnya berasal dari para intelektual muslim. Sayangnya, saat ini mainstream yang beredar adalah bahwa kebangkitan intelektual berasal dari barat. Padahal sesungguhnya, aktor-aktor intelektual yang pada awalnya berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya bidang filsafat dan ilmu pengetahuan alam, adalah para ilmuwan muslim.

  1. 1. Bidang Filsafat (falsafah)

Pengembangan ilmu pengetahuan di masa peradaban Islam tidak pernah lepas dari alqur’an dan as-sunnah. Walaupun di masa itu Islam begitu terbuka terhadap kebudayaan luar, tapi para ilmuwan muslim memiliki kerangkanya tersendiri dalam melakukan observasi atau verifikasi. Benturan memang kadang terjadi ketika kebudayaan Yunani perlahan masuk dan memberikan pengaruh bagi disiplin ilmu di masa peradaban Islam, terutama dalam bidang falsafah. Benturan tersebut terbilang wajar mengingat betapa hegemoninya penerjemahan karya-karya filsfuf Yunani yang tidak diterima di dataran Eropa, tapi berkembang luas di dataran Mesir dan Persia. Ada dinamika tokoh per tokoh dan karya-karyanya yang fenomenal. Adakalanya kontroversial, tapi selalu ada pembaharu di setiap zaman.

Di antara para filsuf yang pada mulanya secara sistematis mempopulerkan filsafat Yunani di kalangan ummat ialah Ya’qub ibn Is’haq al-Kindi (wafat sekitar 257H/870M) (Madjid, 25: 1984). Al-Kindi diketahui sebagai seorang penulis yang ensiklopedis dalam filsafat dan ilmu pengetahuan (Madjid, 26: 1984). Demi menjinakkan paham Yunani Aristotes, al-Kindi membuat dua risalah pendek tentang Tauhid dan Akal.

Selain itu, terdapat juga nama al-Asy’ari yang mempopulerkan ilmu kalam. Ilmu ini mendapat kedudukan yang tinggi dalam bangunan intelektual Islam. Dalam analisa terakhir, Asy’arisme, seperti halnya dengan ilmu kalam pada umumnya, adalah suatu buah kegiatan intelektual orang-orang Islam dalam usaha mereka untuk memahami agama secara lebih sistematis, dalam bentuk “suatu teologia alami yang dibangun di atas metodologi skolastik dan Aristotelian, dan disusun mengikuti berbagai ketentuan yang jelas merupakan problematika yang bersifat Hellenik-Patristik (Madjid, 1984: 29).

Namun, dunia pemikiran Islam tidak sampai berhenti dengan munculnya al-‘Asy’ari.  Al-Farabi menjadi penerus tradisi ilntelektual al-Kindi. Ia adalah seorang ahli logika dan metafisika pertama termuka dalam Islam. Bahkan al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida falsafah dalam Islam. Dasar itulah yang kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya untuk menghadapi serbuan gelombang Hellenisme kedua (???). Jika Hellenisme pertama terjadi ketika mundurnya rezim Muawiyyah di Damaskus dan bangkitnya ‘Abbasiyah maka gelombang kedua terjadi ketika kekuasaan di Baghdad mengalami kemunduruan. Namun, di tengah porak porandanya dunia Islam, muncul seorang anak remaja yang memiliki kapasitas intelektual yang sangat tinggi, bahkan dengan sangat cepat menguasai ilmu logika yang pelik melebihi gurunya. Ia adalah Ibnu Sina.

Ibnu Sina, sama halnya seperti al-Farabi, menegakkan bangunan Neoplatonis di atas dasar kosmologi Artistoteles-Ptolemi (Madjid, 33, 1984). Ia menggabungkan konsep pembagian alam wujud menurut paham emanasi dan berusaha membuktikan adanya nabi. Berbeda dengan al-Farabi yang mengaitkan nubuwwat dengan bentuk imajinasi tertinggi, Ibnu Sina mengaitkannya dengan akal, bagian tertinggi daripada sukma. Alhasil, lahirlah sebuah risalah tentang peneguhan kenabian dan tafsir akan simbol-simbol serta lambang-lambang para nabi. Risalah ini banyak menuai kritik para sarjana, khususnya kaum agamwan ortodoks.

Setelah rentang satu generasi, muncullah al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M) yang mengkritik filsafat Neoplatonisme al-Farabi dan Ibnu Sina.  Ia diakui sebagai pemikir paling hebat dan orisinal. Pengaruh dan peranannya yaitu menata dan mengukuhkan kembali ajaran-ajaran keagamaan.  Ia menolak filsafat Ibnu Sina, tapi menggunakan metode filsafat Ibnu Sina sendiri. Karya utamanya yang berjudul Ihya’ ‘Ulum al-Din (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama) dan Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filsuf), telah berhasil membendung gelombang Hellenisme yang kedua, sebagaimana al-Asy’ari yang membendung gelombang hellenisme pertama. Pantaslah ia dijuluki “Hujjat al-Islam” (Argumentasi Islam).

Pemikiran al-Ghazali yang menstabilkan pemahaman umat untuk kembali kepada agama, akhirnya seakan-akan menimbulkan kemandekan pemikiran dalam bidang filsafat. Namun, sepeninggal al-Ghazali, tampillah Ibnu Rusyd yang memecahkan sel ghazalisme dan membuat tandingan karya al-Ghazali berjudul “Tahafut al-tahafut” (kekacauan buku kekacauan). Selain mengkritik al-Ghazali, Ibnu Rusyd juga mengkritik pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina. Ia mengatakan bahwa kebenaran agama dan kebenaran filsafat adalah satu, meskipun dinyatakan dalam lambang yang berbeda-beda. Ibnu Rusyd juga sangat memahami fiqh yang diketahui sebagai karya dengan sistematika terbaik di bidang jurisprudensi Islam karena keahliannya di bidang filsafat. Ketika masa kempimpinan Abu Yusuf Ya’qub al-Manshur di Seville, karya-karya Ibnu Rusyd dibakar karena pemikirannya dianggap menyesatkan, kecuali pemikiran yang sifatnya murni (science). Pemikiran Ibnu Rusyd, yaang hendak membangkitkan Aristotelianisme, akhirnya mengalami kegagalan. Sebaliknya, pemikiran tersebut lebih berkembang di kalangan Yahudi dan Kristen Eropa Barat.

Selang satu generasi setelah gelombang hellenisme kedua terlewati, muncul sosok pemikir pambaharu dari Damaskus. Ialah Ibnu Taimiyah yang menyadari bahwa ada kesalahan prinsipil dari bangunan Falsafah dan Kalam. Ibnu Taimiyah membongkar kepalsuan logika Aristoteles (ilmu manthiq) yang menguasai pola piker para sarjana muslim. Ia telah menulis berbagai karya, salah satunya yang fenomenal yaitu al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin (Bantahan Kepada Para Ahli Logika). Karya lainnya yaitu al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah (Penyingkapan Berbagai Metode Pembuktian).

Setelah masa Ibnu Taimiyah, dunia intelektual Islam mengalami masa yang realtif sunyi akibat meredanya gelombang hellenisme. Namun, ketika dunia Islam kehilangan banyak momentu, muncul nama Ibnu Khaldun (wafat 808 H/1406). Ibnu Khaldun adalah salah seorang ilmuwan muslim yang mendapat tempat di hati para sarjana modern. Arnold Toynbee, misalnya, berpendapat bahwa nama-nama Plato, Aristoles, Augustine, dan lain-lain tidak pentas disebut sejajar dengan Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ilmu sejarah dan sosiologi adalah berasal dari dua ilmu yang sama. Ia berpendapat bahwa seorang sejarawan tidak boleh terpengaruh oleh pertimbangan spekulatif maupun teologis. Selain itu, seperti halnya al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun juga mengkritik habis filsafat, terutama dalam bidang metafisika, sebagai usaha memahami kebenaran final. Sebaliknya, baik al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, maupun Ibnu Khaldun menyatakan bahwa kebenaran final tak bisa dipahami kecuali dengan tetap bersandar kepada sumber-sumber agama Islam, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sebetulnya masih banyak sederet ilmuwan muslim yang Kontribusi para ilmuwan muslim sangat berpengaruh terhadap terhadap kemajuan barat. Ini yang tidak sering disinggung oleh dunia. Ketika Ibnu Khaldun mempelajari filsafat di abad 14, justru Eropa tanpa ia tahu sedang mengembangkan ilmu pengetahuan yang selama itu didominasi umat Islam. Dunia Islam yang terbuka terhadap kontak kebudayaan lain, menyebabkan Eropa tersadarkan dan akhirnya bangkit hingga lahirnya zaman Renaisance. Dengan demikian, tak dapat dipungkuri bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan dunia, yang sayangnya, saat ini bergilir dimonopoli oleh barat.

  1. 2. Bidang Ilmu Pengetahuan Alam (Scince)

Tidak banyak orang yang tahu tentang penemuan-penemuan besar ilmuwan muslim. Keadaan yang terjadi sekarang, masyarakat dunia meliahat barat sebagai pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semenjak zaman Renaisance. Padahal sesungguhnya, begitu banyak nama ilmuwan muslim yang menemukan berbagai macam teori eksakta jauh sebelum Galileo, Keppler, Newton, Bacon, dan sederet ilmuwan barat lainnya. Mereka adalah peletak dasar berkembangnya ilmu pengetahuan modern, sekaligus pahlawan tak dikenal di kalangan masyarakat dunia. Ilmuwan barat tahu dan memuji karya mereka, tapi label Islam seakan tertutupi dengan diubahnya nama ilmuwan muslim begitu penemuan fenomenalnya sampai ke Eropa. Sebagian para filsuf muslim yang tersebut di bagian sebelumnya juga termasuk ahli ilmu eksakta, seperti fisika, matematika, biologi, farmasi dan kedokteran. Para ilmuwan muslim yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap dunia ilmu pengetahuan alam (science) di antaranya:

  1. a. Ibnu Sina

Ibnu Sina dikenal oleh barat dengan nama Aveciena. Ia adalah seorang ensiklopedis, dokter, psikolog, sekaligus penulis kaidah kedokteran modern. Ibnu Sina lahir pada 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan. Ayahnya berasal dari Balkh Khorasan, seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

Sejak usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran dan juga ilmu-ilmu agama lainnya. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Lalu pada usia 17 tahun ia memulai profesinya di bidang kedokteran. Kepopuleran Ibnu Sina bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Pada waktu itu, banyak tabib yang tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, selama sang raja dalam proses penyembuhan. Namun, Ibnu Sina menolaknya dengan halus. Sebagai gantinya, ia meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Dari sanalah ilmunya makin bertambah dan terasah. Selain mempelajari ilmu kedokteran, ia juga ahli dalam bidang matematika, logika, fisika, geometri, astronomi metafisika, dan filosofi. Di usia 18 tahun, ia didaulat menjadi seorang fisikawan.

Ibnu Sina menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes, dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran. Ia juga mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Ia berkesimpulan bahwa setiap bagian tubuh manusia dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berkaitan. Karya-karyanya yang terkenal yaitu Qanun Fi Thib (Canon of Medicine) dan Asy-Syifa.

Ibnu Sina juga merupakan tokoh yang mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu pathology dan farmasi. Ia belajar banyak pada seorang sastrawan dan ulama besar, Abu Raihan al-Biruni di Jurjan, kemudian mengembari lagi ke kota Rayy dan Hamdan. Di perjalanan ia banyak menghasilkan karya-karya besar.

Ibnu Sina wafat pada 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau telah banyak menyumbangkan banyak hal kepada khazanah ilmu kedokteran, dan karya-karyanya memberikan manfaat yang masih terasa hingga kini dan selamanya.

  1. Ibnu Nafis

Ibnu Nafis atau al-Nafis adalah dokter pertama yang mampu merumuskan dasar-dasar sirkulasi. Ia menemukan sirkulasi dalam paru-paru, jantung, dan kapiler. Berkat jasanya ia diberi gelar “Bapak Fisiologi Sirkulasi”. Prestasi itu ditorehkannya di abad 13 M. Sayangnya, hal itu baru terungkap pada abad 20, padahal Ibnu Nafis telah menemukannya pada masa kejayaan Islam. Klaim barat yang menyatakan bahwa William Harvey-lah yang menemukannya terpatahkan sudah.

Al-Nafis terlahir pada tahun 1213 M di Damaskus, Suriah. Nama aslinya Ala al-Din Abu al-Hassan Ali ibn Abi-Hazm Al-Qarshi Al-Dimashqi. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Rumah Sakit Al- Nuri Damaskus. Ketika berusia 23 tahun, Al-Nafis memutuskan hijrah ke Kairo, Mesir. Ia memulai karirnya sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Al-Nassri dan Rumah sakit Al- Man souri. Di rumah sakit itulah, dia menjadi dokter kepala. Al-Nafis mempublikasikan karyanya yang berjudul The Commentary on Anatomy in Avicenna’s Canon. Dalam kitab ia berhasil mengungkapkan penemuannya dalam anatomi manusia, yaitu mengenai sirkulasi paru-paru dan jantung.

Risalahnya yang berjudul Cammentary on the Anatomy of Canon of Avicenna, yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Prussia, Berlin, Jerman berhasil dikuak oleh fisikawan Mesir, Muhyo al-Deen.  Kontribusi Al-Nafis dalam dunia kedokteran tak hanya di bidang fisiologi. Ia juga dikenal sebagai dokter yang menyokong kedokteran ekperimental, postmortem otopsi, serta bedah manusia. Sejarah juga mencatat Al-Nafis sebagai dokter pertama yang menjelaskan konsep metabolism, lalu mengembangkan aliran kedokteran Nafsian tentang sistem anatomi, fisiologi, psikologi, dan pulsologi. Aliran Nafsian bertujuan untuk menggantikan doktrin kedokteran yang dicetuskan pendahulunya yakni Ibnu Sina alias Avicena dan Galen – seorang dokter Yunani. Al- Nafis menilai banyak teori yang dikemukakan kedua dokter termasyhur itu keliru. Antara lain tentang denyut, tulang, otot, panca indera, perut, terusan empedu, dan anatomi tubuh lainnya.

Di usia 31 tahun, Ibnu Nafis juga menerbitkan karyanya yang berjudul The Comprehensive Book on Medicine. Ia telah menyelesaikan karyanya di bidang kedokteran hampir 300 volume, dan hanya berhasil dipublikasikan sebanyak 80 volume. Itu merupakan ensiklopedi terbesar dalam bidang kedokteran di masanya. LEbih hebatnya lagi, dihasilkan dalam kondisi sosial politik yang tidak menentu ketika umat Islam tengah menghadapi ancaman perang Salib dan invasi bangsa Mongol.

Selain menjadi pakar anatomi, fisiologi, bedah, ophtamologi, ia juga merupakan penghafal Alquran, ahli hadits, ahli hukum, novelis, sosiolog, sastrawan, astronomi, ahli bahasa, dan sejawaran. Sang ilmuwan besar itu wafat pada 17 Desember 1288 atau 11 Dzulqaidah 687 H. Di akhir hayatnya, Al-Nafis menyumbangkan rumah, perpustakaan dan klinik yang dimilikinya kepada Rumah Sakit Masuriyah agar digunakan bagi kepentingan masyarakat. Ia telah banyak memberikan khazanah keilmuan dunia, khususnya dalam bidang kedokteran. Karya-karyanya bahkan diakui ilmuwan dunia Barat, seperti Coppola, George Sarton, dan Max Meyrholf. Ibnu Nafis dianggap dokter penerus kehebatan Ibnu Sina, bahkan sebagian mengatakan ia lebih hebat dari pendahulunya.

  1. Al-Khawarizmi

Nama lengkapnya, Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi hidup pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833) zaman khalifah Abasyiah, di kawasan Khwarizmi sebuah daerah di timur laut Kaspia. Karyanya yang terkenal adalah kitab Aljabr Wal Muqabalah. Bahasan yang paling sering dinukil ilmuwan barat adalah tentang persamaan kuadrat.

Al-Khawarizmi juga menulis kitab Al-Jam wal Tafriq bi Hisab al-Hid (Book of Addition Substraction by the Methode Calculation). Edisi asli berbahasa Arab sudah hilang, tapi versi lainnya ditemukan pada tahun 1857 di perpustakaan Universitas Cambridge. Karyanya itu dikenal sebagai buku pelajaran pertama yang ditulis dengan menggunakan sistem bilangan desimal. Walau masih bersifat dasar, ini merupakan titik awal penyeimbangan ilmu matematika dan sains.

Al-Khawarizmi wafat pada 850 M dengan meninggalkan karyanya dalam bidang matematika dan ilmu bumi yang sangat bermanfaat dan diakui dunia. Bahkan, ia menyatakan bahwa bumi itu bulat jauh sebelum Galileo melalui karyanya, yaitu Kitab Surah al-Ardh.

  1. d. Al-Battani

Nama aslinya Abu Abdallah Muhammad Ibn Jabir Ibn Sinan al-Battani. Di Eropa ia dikenal Albatenius. Ia lahir di Battan, Harran, Suriah pada sekitar 858 M. Keluarganya merupakan penganut sekte Sabbian yang melakukan ritual penyembahan terhadap bintang. Namun, ia tak mengikuti jejak langkah nenek moyangnya dan lebih memilih memeluk Islam. Ketertarikannya dengan benda-benda yang ada di langit membuat Al Battani kemudian menekuni astronomi. Secara informal ia mendapatkan pendidikan dari ayahnya yang juga seorang ilmuwan, Jabir Ibn San’an Al-Battani.

Penemuannya tentang berapa lamanya bumi mengelilingi pusat tata surya diakui oleh dunia. Ia merumuskan bahwa bumi mengelilingi matahari selama 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Perhitungannya mendekati perhituangan terakhir di masa ini. Penelitiannya tentang hal tersebut dilakukan selama 42 tahun di Raqqa, Suriah. Ia mendapati bahwa garis bujur terjauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan Ptolemy, membuahkan penemuan yang penting tentang gerak lengkung matahari. Selain itu, al-Battani juga menentukan secara akurat kemilringan ekliptik, panjang musim, dan orbit matahari. Ia bahkan menemukan orbit bulan dan planet, serta menentukan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan baru.

Bukunya tentang astronomi yang paling terkenal adalah Kitab Al Zij. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari karyanya itu masih ada di Vatikan. Tidak hanya dalam bahasa latin, tapi juga bahasa dunia lainnya. Terjemahan ini keluar pada 1116 sedangkan edisi cetaknya beredar pada 1537 dan pada 1645. Sementara terjemahan karya tersebut ke dalam bahasa Spanyol muncul pada abad ke-13. Pada masa selanjutnya baik terjemahan karya Al Battani dalam bahasa Latin maupun Spanyol tetap bertahan dan digunakan secara luas. Hal ini tentu saja telah memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap masa pencerahan di Eropa.

Sesungguhnya, masih terdapat banyak nama ilmuwan yang memberikan kontribusi besar dalam bidang keilmuan, bukan hanya filsafat dan ilmu alam, seperti sosiologi, seni, geografi, dan sebagainya, tapi tokoh-tokoh ilmuwan yang tersebut di atas semoga bisa mewakili betapa besar kontribusi peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan alam. Berbeda dengan dahulu, saat ini peradaban Islam sedang mengalami kemunduruan. Tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban Islam berawal dari sains dan berakhir di politik. Namun, menjadi kewajiban umat muslim saat ini untuk terus mengembalikan kejayaan peradaban dengan cara membaca dan rajin melakukan penelitian hingga dapat memberikan sebesar-besar manfaat bagi umat. Amatlah tragis jika akhirnya yang maju kemudian adalah peradaban barat, sementara umat Islam semakin tertinggal di belakang. Padahal, era pencerahan sendiri tak lepas dari peran para ilmuwan muslim di masa peradaban Islam. Di fase sekarang ini, banyak para orientalis dan ilmuwan sekuler yang menutupi kenyataan ini, bahkan begitu semangat mempengaruhi orang-orang muslim yang cerdas dengan logika berifikir yang tidak sesuai dengan kerangka tauhid. Oleh karena itu, mengembalikan peradaban Islam adalah kewajiban bagi setiap muslim, tanpa terkecuali.

BAB IV

KESIMPULAN

Peradaban Islam terbukti telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan menjadi pendorong lahirnya era pencerahan di belahan Eropa. Puncak kejayaan peradaban Islam di masa dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh Harun al-rasyid, disusul oleh putranya al-ma’mun, telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan termashyur dengan segala dinamikanya. Kejayaan itu tidak terlepas dari keyakinan mereka yang teguh memegang ajaran Islam. Spirit tauhid yang terbangun atas dasar dua warisan rasul, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah memotivasi para ilmuwan untuk terus membaca, mengumpulkan data, mengolah, melakukan observasi dan verifikasi.

Ketika peradaban Eropa tidak memberikan kebebasan berfikir bagi para ilmuwan, Islam justru sebaliknya, al-Qur’an meletakan dasar-dasar pemikiran yang merangsang rasa ingin tahu umat Islam terhadap kejadian-kejadian di alam. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang bertutur tentang proses kejadian alam semesta. Pemikiran para ilmuwan muslim terbangun atas dasar wahyu, juga aqidah yang kuat terhadap kebenaran ayat-ayatnya. Semakin terbukti kebenarana, semakin tinggi rasa ingin tahunya. Itu semua terjadi karena Allah dijadikan pusat orientasinya. Di titik ini, iman, ilmu, dan amal dapat saling bersinergi satu sama lain.

Peradaban Islam telah meninggalakan warisan intelektual yang sangat berharga bagi dunia, khususnya dalam bidang filsafat dan sains. Dua disiplin ilmu ini dulu begitu hegemoni dalam percaturan peradaban. Banyak ilmuwan muslim tercetak di masa ini. Hebatnya, mereka tidak hanya menguasai satu bidang, tapi juga banyak bidang. Masing-masing memiliki kelebihannya tersendiri, dan karya-karyanya hingga saat ini masih menjadi rujukan, bahkan oleh ilmuwan sekuler sekalipun.

Sayangnya, peradaban Islam saat ini sedang mengalami penurunan di berbagai bidang. Menjadi tugas semua umat Islam untuk mengembalikan kejayaannya agar tidak hanya menjadi nostalgia. Dengan banyak membaca, melakukan pengamatan, pengumpulan data, observasi dan verifikasi, sama artinya dengan menjalankan perintah Allah untuk berfikir. Peradaban Islam mengajarkan umat Islam banyak hal, baik untuk mengevaluasi diri, maupun untuk memetakan, serta merancang berdirinya kembali peradaban agung, peradaban ilmu berbasis Tauhid.

DAFTAR PUSTAKA

Madjid, Nurcholish.Islam dan Doktrin Peradaban.1992.Yayasan Wakaf Paramadina: Jakarta

Mahmudunnasir, Syed.Islam Konsepsi dan Sejarahnya.1991.PT Remaja Rosdakarya: Bandung.

Sardar, Ziauddin.Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim.Terj.Rahmani Astuti.Mizan: Bandung

Khazanah Intelektual Islam.1984.PT.Bulan bintang: Jakarta.

Internet

http://www.dakwatuna.com/2008/mengenal-ilmu-tauhid/ir umat Islam

http://www.geocities.com/tadrismatk/alkhawarizmi.htm

http://www.islamic-center.or.id/-slamiclearnings-mainmenu-29/fiqih-mainmenu-46/25-fiqih/868-ibnu-sina-bapak-kedokteran-dunia

http://www.republika.co.id/berita/34124/Al_Battani_Ahli_Astronomi_yang_Mendunia

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/7155-ibnu-al-nafis-bapak-fisiologi-sirkulasi.html

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s