Search

Bengkel Budaya

Menyemai Insan Cendekia

Hijaunya Rumput Tetangga

Beberapa hari yang lalu saya terlibat obrolan cantik dengan mahasiswi-mahasiswi saya.

“Miss ya ampuun, hidup udah enak banget ya. Miss umur 24 udah nikah masak, suami di migas kurang apalagi coba, udah PNS pula, udah ada anak lagi. Kayaknya enak aja gitu hidup. Da kita mah apa atuh”

Saya tertawa renyah, sekaligus membatin “Wah kagak tahu aja pait-paitnya”

“Other’s grass always looks greener ya” jawab saya sekenanya

“Yah miss, gimana donk ini kita masih gini-gini aja. Bisa gak yah, pada saat usia segitu, kita udah ngelakuin yang selevel gitu”

Saya menepok jidat saya.

“Lagian miss ngapain sih kerja, udah tinggal kipas-kipas duit suami juga, hahaha”

Bagian yang ini seringkali ditanya sama kawan-kawan saya.

Obrolan mengalir ngalor ngidul, dan dari percakapan tersebut, saya jadi berpikir, “apakah banyak orang lain yang iri dengan saya karena begini dan begitu, sementara terkadang saya juga masih selalu melihat rumput tetangga yang lebih hijau? Saya yang tidak begini dan begitu, saya yang merasa selalu kurang karena tidak begini dan begitu, saya yang menyesal karena salah mengambil jalan hidup, saya yang rasanya biasa-biasa saja dibandingkan si A, si B, atau si C. Saya yang masih berpikir saya harus bekerja karena saya merasa butuh tantangan lain dalam hidup.

Ah, capek sekali rasanya membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Toh, ketika orang melihat rumput saya yang hijau, saya pun seringkali tidak pernah puas dengan diri saya. Saya pernah menyesal mengapa saya tidak kuliah ke luar negeri, sehingga ada masanya saya memendam rasa iri dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu S2 ke LN. “Duh, harusnya gue bisa banget kayak gitu tuuuh, kenapa buru-buru banget sih kuliah di dalem”. Tapi suami saya selalu menghibur “Ntar aku susah ini modusnya kalau dulu kamu ke luar”. Saya hanya tertawa menghibur diri.

Pernah, saya merasa iri dengan kawan yang bisa beli macam-macam barang karena tinggal ambil duit dari ATM suami. Tapi, walaupun mungkin gaji suami saya se-wow yang orang-orang pikirkan, saya seringkali memutar otak agar belanja bulanan tidak melebihi dari budget, agar saya sehemat mungkin berbelanja dan tidak terjebak gaya hidup. Agar suami saya tidak selalu bertanya dan bertanya duit larinya ke mana. Apa enaknya mencatat setiap detail belanjaan agar semuanya jelas? Walau pada akhirnya saya berkesimpulan ini adalah sesuatu yang akan menjaga keharmonisan saya dengan suami.

Saya juga sering sekali dengar kawan saya yang melulu protes soal mertua begini dan begitu. Adik ipar yang begini dan begitu. Tapi, saya merasa tidak pernah ada masalah besar seperti mereka. Semua terasa baik. Subhanallah, mertua dan adik ipar saya itu baiknya benar-benar luar biasa jika dibandingkan dengan curcolan kawan-kawan saya. Tapi, pasti ada tantangan lain yang Allah beri pada saya. Allah menitipkan adik ipar yang down syndrome kelak kepada saya dan suami. Dan saya selalu berfikir bahwa memang rizki suami saya itu adalah rizki adiknya juga, juga rizki bagi berjuta orang baik yang tidak kami kenal. Allah Maha Adil bukan?

Dan, ini pikiran yang tidak habis-habis melintas, kapan saya bisa hidup normal bersama suami seperti yang lain? Bertemu setiap hari, saat anak sakit ada yang menenangkan, saat butuh hal-hal teknis soal rumah ada yang langsung turun, saat butuh ke tempat jauh ada yang mengantar. No matter how I choose to view this LDR, but it never change the fact, right?

Tapi there is no free lunch. Saat memilih jalan hidup, saya yakin akan selalu ada take and give as well as up and down. Saat melihat orang yang WOW, saya selalu yakin ada kelemahan atau sesuatu yang menyedihkan yang menjadi ujian bagi dia. Saat melihat orang yang menurut kita NGGAK WOW, saya selalu yakin dia punya kelebihan dan sesuatu yang kita tidak pernah bisa melakukan itu. Saya selalu yakin Allah Maha Adil dalam memberikan kita rizki.

“Iyah nih, gue belum dikasih anak juga”

“Ada waktunya pasti, kalau gak gini, mana bisa lu conference melanglang terus ke luar negeri. Anak lu masih nete, terus lu harus banget gitu presentasi sana-sini”

“Iyah ni, kapan yah gue nikah?”

“Duh, harusnya lu bersyukur karena lu masih bisa ngelakuin ini itu tanpa terikat ini dan itu”

“Iyah ni, gaji gue segini-gini aja”

“Ada orang yang gajinya gede, tapi kerja di tengah laut 23 jam, elu mau? Tuh ada orang-orang kecil yang kerjaannya nambang timah melulu tapi masyaAllah dihargai berapa sih secapek itu?”

Dalam hidup, selalu ada ruang untuk mengalihkan diri dari rasa sombong karena memiliki segala, atau rasa inferior karena merasa kurang dari yang lain. Saya selalu yakin, bahwa Allah itu Maha Adil dalam membagi rizkinya. Hanya saja, jarang sekali kita merenungkan berbagai alasan baik mengapa Allah menempatkan kita di posisi A, B, atau C. Kita selalu tak pernah puas, selalu mebanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan tak pernah bisa memberikan ruang untuk berprasangka baik, bahwa rizki bukan sekedar uang, bahwa keberkahan adalah bukan suatu kesenangan semata. Keberkahan itu datang, saat kita bisa mendekatkan diri pada Allah baik dikala senang maupun sedih #NTMS

 

Kumpulan Website Belajar Bahasa Inggris

https://nunungnuraida.wordpress.com/2012/01/31/kumpulan-websites-bagus-untuk-belajar-bahasa-inggris/

1. Listening

Listening termasuk ke dalam passive skill. Artinya, kita tidak perlu memproduksi atau dalam hal ini menghasilkan ucapan dalam Bahasa Inggris. Kemampuan listening adalah kemampuan memahami wacana atau ujaran dalam Bahasa Inggris. Untuk melatihnya, kita harus sering-sering mendengar exposure berbahasa Inggris, misalnya mendengar lagu-lagu berbahasa Inggris, menonton film berbahasa Inggris, mendengarkan dialog atau monolog berbahasa Inggris.

Beberapa situs yang cukup representative adalah:

www.soundsenglish.com

www.esl-lab.com/

www.englishclub.com/listening/

www.englishlistening.com

www.elllo.org/

iteslj.org/links/ESL/Listening/

2. Speaking

Speaking Skill termasuk active skill dimana kita harus memproduksi ujaran dan ucapan dalam bahasa Inggris. Speaking skill memang lebih efektif jika dipraktekkan dengan lawan bicara. Namun, berlatih pengucapan secara sendirian minimal dapat meningkatkan olah vokal kita dalam melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris.

www.eslgold.com/speaking.html

www.english-at-home.com/speaking/

www.englishclub.com/speaking/

letspeakenglish.info

3. Reading

Reading skill sama dengan listening skill, termasuk dalam passive skill. Beberapa situs yang bisa dijadikan media pembelajaran adalah:

www.rhlschool.com/reading.htm

www.englishclub.com/reading/

www.funbrain.com/…/ReadingBrain/Reading

www.pearsonlongman.com/…/practicereading

4. Writing

Sama dengan speaking, writing adalah active skill yang perlu dilatih dengan mempraktekkannya. Beberapa situs yang sering digunakan adalah:

www.abcteach.com › Subjects › Language Arts

www.englishclub.com/writing/

www.writingfun.com/

5. Vocabularies

Vocabularies Building juga menjadi salah satu aspek pembelajaran bahasa Inggris yang penting. Untuk itu perlu elicit/pengulangan yang sering dilakukan sehingga pembelajar akan lebih mengingat lagi kosa kata yang pernah dipelajari.

www.vocabulary.co.il/

www.vocabulary.com/

iteslj.org/cw/

Itu beberapa web sites yang sering saya gunakan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Semoga bermanfaat bagi teman-teman guru khususnya dan masyarakat umumnya.

A Note of A Working Mom

The main reason why I write this is…because…I want to pour down my overwhelming emotion. Writing is healing, healing, yes healing.

To tell you the truth, it’s not that easy to be a working mom. In the morning, I have to race against time to make sure that everything is already in order; getting up earlier to prepare baby’s needs, cooking pourage, feeding the baby, bathing him, washing bottles, ordering groceries, and giving some instructions to my maid. But, yesterday was worse because my maid refused to go back to my house after we spent ‘mudik’ in Serang. Well, she is planning to get married. So, today…my husband and I should do some chores together and take care of our baby.

Sometimes I feel guilty to be a working mom because time seems so limited, so to erase that feeling, I try hard to have quality time with my son before working. When my maid worked in my house, I didn’t let her take care of my baby before I went to office. Well, actually I didn’t want my son prefers to be with my maid rather than me. So, before working and after working, my son is mine, never, never, never anyone else touches him.  No matter how tired I am, my time is for my son. Yes. I force to do one’s best in a demanding situation, but unfortunately I failed to focus on my Ramadhan😦

In the beginning, so many argues arise. Mars versus venus. My husband let me work, but if I can’t manage time, then I ignore and skip many things, it’s time to give my ears to listen to him, all day long. One day my husband said, “don’t be too emotional, please be rational. Every choice has a consequence, and you have to bear with it, like or dislike. If you don’t like this and this and this, better you quit. If you can’t manage time, better you quit. Ramadhan is time for worshipping, never your love to your son is much bigger than your love to God, If someday Allah takes Elfaz back, what would you feel?”.

I took a deep breath, once I cried to be in this position. Well, I will teach in September, but I should stay as a full time worker for a year as a candidate of civil servant before I become the real lecture. I don’t like this position, and so does my husband. My husband hugged me and said sorry. But I hope, soon, I will get used to it. Yes. I just now adapt with it, yes I’m adjusting my self to this new circumstance.

I’ve been working in academic office for two months, soon I will get through it. I convince my self to think that everything is OK, though I realize that time for my husband is getting limited, and so is my son. That’s why, to heal this feeling, when break time at 12 a.m, I go home to (breast)feed my baby and meet my husband. Then I go back to work again. Always, and always like that. If I feel exhausted, I remember that many other women left their children longer than me, trapped by traffic jam, with the very tight schedule, but luckily, my husband provides us a house which is closer to the campus.

My husband? Yes, he is with my baby at home, during his “three weeks off” . At first, I demanded him to be with the baby, full time. Because I worry if my son lost a moment with his daddy. But man is man. To some extents, he is less capable to do some baby’s stuffs, so sometimes my maid handled him. But now, we should do it together. :O

I feel sorry, sorry for demanding my husband much. Because it’s so exhausting to take care of the baby alone. I should have been on one’s mettle because this is my choice. I should, now, and always remember that I am an ordinary person who tries do the best but never forget that Allah determines the destiny. Now, I have a big homework to search for day care since no one can take care of my son. I should get out of this terrible condition. I am the leader, the leader of myself. I need better change. Better change.

A Day to Remember

I remember the moment three years a go. When I sat in front of my office PC, working on a pile of translation sheets. Someone called me from far a way. He told me to check my email. A very shocking, surprising, and touching moment. Something appeared on the computer screen cried me a river. It was a birthday gift.

I remember the moment two years a go. When somebody invited me to a gathering, giving me something with a white ribbon. I smiled and said, “thank you for the birthday chocolate”

I remember the moment last year. When a man came to my house with  a motorbike without helmet. When I was up set and wondered why he came home late. But I let my anger go when I realized that he hid something inside his helmet. It was a birthday cake.

I remember the moment three months a go. At four a.m he brought his laptop to my bedroom, showed me and my ittle boy some instructions on screen,  then he gave me some small paper rolls like a lottery. He got me to choose one of them, and the chosen paper said, “500.000 rupiah and dating in a luxurious restaurant”, though we finally spent it in a simple traditional restaurant. That was the first time we celebrated my birthday with our little son.

My husband, he always has his own way to make me happy each year. Year by year passed, but he never forget my birthday.

And now, in his birthday today, I recall our marriage journey. I will never forget this. Almost two years we unite our heart together, going through developmental stages and unpredictable moments. We grow to “give in”, and try hard to throw away “give up”. We grow to accept each other and throw away our ego. We try hard to reach our dreams together, though we realize that there are a mountain of obstacles we should face. But those challenges make us stronger and stronger.

I don’t know how to make a surprise for you, but I, and of course you, must agree that a strong family is now the best gift we ever have.

Happy Birthday My Dearest Husband. I love you, will always love you.

26 Juni 2015

World Meet My Baby (Part 2-habis)

Dokter belum datang, saya disuntik obat relaks dulu agar pinggang saya nggak sakit banget. Kontraksi yang terlalu cepat katanya buat jantung bayi sport juga, jadi saya ditenangkan dulu lah ceritanya. Alhamdulillah saya jadi lebih rileks. Di saat-saat itulah saya minta maaf sama ibu saya yang nungguin saya di samping ranjang. Waktu itu suami saya sedang booking asuransi dan kamar. Jadilah momen bareng ummi membuat hati saya jadi rintik-rintik.

Begitu suami, mama, dan ayah mertua datang, saya jadi salaman dulu sama mereka minta maaf kalau-kalau ada salah.  Beberapa saat kemudian, nakes datang lagi, dan saya gak tahu kalau ternyata mereka memasukkan selang melalui an*s saya. Jebret, saya tiba-tiba jadi ingin buang air besar. Haha. Terbirit-biritlah saya ke kamar mandi. Katanya harus BAB dulu, biar kalau mengejan pas melahirkan yang keluar dedeknya aja, bukan “yang lain”, hahaha. *ya Allah, ada tahu orang ngelahirin ampe “yang lainnya” keluar-keluar saking ngejannya*. Di kamar mandi saya bingung membedakan mana mules mau ngelahirin ama mules pengen BAB. Untung obat rileksnya masih mujarab, kalau gak, dunia rasanya kayak sejengkal.

Suami saya akhirnya datang lagi begitu saya menyelesaikan hajat. Di momen ini saya masih bisa mesem-mesem karena obat rileks masih bereaksi. Nakes datang lagi dan melakukan VT lagi. Bukaan 6 tipis katanya. Berlanjut ke bukaan 7, obat rileksnya udah hampir habis dan pinggang saya sakit lagi. Dokter udah datang ajah tuh dan tahu-tahu melakukan VT untuk memecahkan ketuban saya. Selanjutnya beliau ke luar ruangan lagi. Tiba-tiba….ada perasaan ingin muntah. Dan yak, betul sekali saya muntah-muntah, Saudara! Karena ketuban pecah, alhasil kepala bayi sudah menyundul diafragma jadi saya mual-mual. Hebohlah seorang nakes buru-buru ngambil plastik, tangan suami saya yang genggam saya juga udah kotor kena muntahan saya. Dan akhirnya beberapa nakes sigap mengganti baju saya. Urat malu rasanya udah putus kalau ngelahirin @_@

Begitu bukaan 8 dan ketuban udah pecah….jeeeeeng….ampuuun, masih inget mulesnya kayak apaan tahu. Disuruh jangan ngejan dulu, tapi macam ada rasa ngejan spontan yang ga bisa ditahan. Bener-bener persis kayak mau BAB. Nakes ngarahin saya biar tarik dan buang nafas agar tidak mengejan dulu. Saya udah genggam keras tangan suami saya ajah tuh sambil megap-megap, ampe akhirnya bukaan 9 dan berlanjut ke bukaan 10.

Begitu bukaan 10 alias bukaan lengkap, beberapa nakes langsung modifikasi ranjang saya dan secara sigap membuat kedua paha saya telentang. Saya disuruh tarik nafas begitu terasa mulas, lalu mengejan sambil merapatkan gigi atas dan bawah saya macam orang geregetan karena susah BAB. Saya gak sadar dan gak tahu kalau jari-jari suami saya saya genggam terlalu keras ampe dia kesakitan, apalagi di jarinya ada cincin kawin. Haha. Bahkan kata suami saya, nakes sempat bilang sama saya “Ibu, tangan suaminya jangan digituin” tapi saya ga dengar.

Akhirnya, alhamdulillah, kuasa Allah, pelan-pelan rambut bayi keliatan *kata suami saya, kalau saya yah mana bisa liat*, lalu begitu lima kali mengejan dan buang nafas, dokter ambil gunting dan menggunting bagian genital yang dekat dengan anus, sampai seorang makhluk kecil hadir dan ditaruh di dada saya untuk melakukan IMD (inisiasi menyusui dini). Rasanya antara lega, bahagia, sekaligus zonk karea bingung kenapa ada makhluk kecil keluar dari lubang sekecil itu, haha. Spontanlah saya ucapkan hamdallah berkali-kali.

Btw, saking mulesnya, saya gak tahu kalau genital saya sempat digunting. Itu juga kata suami saya. Kalau saya tahu dari awal pasti saya shock. Sambil melakukan IMD, jalan lahir dedek pun dijahit sama dokter. Macam dicubit-cubit aja sih, haha. *ngibur diri*. Dan sempet-sempatnya dokter dan para bidan ngegosip sambil ngejait. Sementara saya dan suami memperhatikan debay yang sedang berusaha menjangkau nipple saya agar mau menyusui. Tapi sayang, 1 jam ditungguin biar mimik, si dedek malah ketiduran dan akhirnya diangkat suster buat dimandiin.

Dan you know what, suami saya udah gak sabar ajah. Saat dedek ditaruh di dada saya, dia azanin dedek kagak pake nunggu dibersihin. Saking puyeng dan lemesnya, saya mau kasih masukan jadi gak keurusan juga, haha. Maksudnya biar dedek dibersihin dulu dan diazanin sambil digendong doi ajah, cuman ayahnya pengen cepet ajah, hehe. Yah, demikianlah, alhamdulillah, saya bisa melahirkan secara spontan, normal, tanpa tindakan induksi, padahal berat anak saya cukup besar, yaitu 3.5 kg. Gak tahu deh ni ada berapa jaitan.

Syukur yang tidak terkira kepada Allah SWT, doa-doa saya dikabulkan selama saya hamil. Setiap hari saya berdoa agar suami saya yang bekerja jauh di Papua sana bisa mendampingi saya saat melahirkan, agar bayi saya beratnya maksimal 3.5 kg (gak lebih karena takut banget ama cesar, hehe), agar saya bisa lahir normal tanpa tindakan induksi, agar anak saya lahir sehari atau dua hari saja setelah ayahnya tiba di rumah. Maklum, karena rute pekerjaan suami saya yang seorang engineer adalah 3 pekan on di Papua dan 3 pekan off di Jakarta, rasa cemas kadang menghantui saya sebagai calon ibu. Akhirnya, tepat pada 29 Oktober pukul 19.03 di Rumah Sakit Pondok Indah anak saya lahir dengan selamat.

Semua keluarga menyambut gembira kelahiran putra pertama kami, sekaligus cucu pertama dari kedua belah pihak. Dia adalah bayi yang ditunggu-tunggu kelahirannya. Bayi yang disayang-sayang semasa di dalam kandungan. Bayi yang kami namai Elfaz Afaren Nasution. Elfaz (arabic) dari alfauz yang berarti kemenangan atau kebahagiaan. Sedangkan Afaren (Persi) berarti menciptakan atau terpuji. Kalau diartikan, semoga anak kami bisa menjadi seorang lelaki yang menciptakan kemenangan atau kebahagiaan yang terpuji. Amiiin😀

Next: melahirkan bukan akhir dari rasa sakit, masih ada perjuangan lainnya, yaitu mengurus bocil. Gimana ceritanya? Tunggu part selanjutnya.

Ini sebenarnya dah di upload dari kapan tahu di tumblr, gue lupa naruh di wordpress gue. Pas dibaca lagi ternyata gue open banget ya, hahaha. Ngilu, geli, dan kocak apa adanya, semoga bisa jadi pelajaran ajah. Peace!

Syukur

Tidak semua hal di dunia ini bisa diukur dengan hitungan matematis. Memang ada banyak pilihan hidup yang harus dipertimbangkan secara matang dan rasional, tetapi beberapa di antaranya tentu tidak bisa digantikan dengan materi. Bahagia adalah suatu keharusan, tetapi menjalani kehidupan dengan angka-angka hanya akan membuat kita tampak seperti gerbong kereta tua. Maka dari itu, kita perlu merasa. Merasa bahwa hidup adalah sesuatu yang perlu kita perjuangkan dan syukuri. Pun, jika kita harus menjalani banyak peran ganda.

Syukur, adalah lentera jiwa yang membuat kita tetap hidup. Dalam kondisi apapun, syukur adalah bahan bakar yang meredam rasa angkuh karena memiliki segala, sekaligus juga rasa sempit dalam menghadapi banyak perkara. Rasa syukur yang membuat kita melihat setiap ujian sebagai tantangan. Yang membuat kita melompat dari kehidupan yang nyaman ke kehidupan yang dinamis. Yang membuat kita pindah dari jalan yang lurus ke jalan yang berkelok-kelok. Dari jalan yang datar ke jalan yang mendaki. Dari karpet merah ke kubangan lumpur. Rasa syukurlah yang selalu membuat kita merasa menjadi manusia yang bermanfaat dan rendah hati.

Kita berbahagia, pun karena ada syukur di sana.

Note: Rupanya, 2015 menjadi tahun yang menarik bagi saya sekeluarga, karena di tahun ini saya betul-betul belajar menjadi seorang ibu bagi seorang putra berusia 2.5 bulan, baru dapat pekerjaan menjadi dosen PNS juga di UIN Jakarta, dan yang mengejutkan, mendapat kabar bahwa suami dipindahtugaskan ke Jakarta mulai Juni nanti. Kelihatannya ideal, normal, dan cukup menyenangkan, tapi sebetulnya, kami menghadapi banyak pilihan yang benar-benar baru. Baru karena membutuhkan banyak penyesuaian. Mulai dari mencari rumah di sekitar Ciputat, memikirkan teknis penitipan anak sementara nenek kakek semua bekerja, penyesuaian pengeluaran rumah tangga yang aduhai, kesiapan mental menghadapi tumbuh kembang anak, agenda-agenda organisasi yang sampai sekarang saya masih jadi ketuanya, hingga penyesuaian-penyesuaian dengan khadimat yang menginap di rumah. Ada kekhawatiran akan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga. Hanya bisa berdo’a, semoga Allah tunjukkan jalan terbaik.

World, Meet My Baby (Part 1)

baby

“Nah, mules lagi. Yak, tarik nafas, ngeden…ngeden…terus…ayo terus…buang…baguus”

Kata-kata dokter dan nakes (tenaga kesehatan) yang mengurusi saya di kamar bersalin RSPI masih jelas terngiang-ngiang di telinga. Rasa “sakit” yang seriously gak bisa saya gambarin dalam tulisan ini. Kali pertama merasakan dahsyatnya rasa mulas dan sakit pinggang sampai ke ubun-ubun. Barangkali benar apa kata orangtua, melahirkan adalah perjuangan antara hidup dan mati.

28 Oktober, pukul 03.00

“Bang, bangun, Bang….” suami saya yang masih tidur pulas terbangun. Sedikit terkejut karena waktu itu masih jam 3 pagi.

“Aku kok kayak keluar cairan gitu ya. Kuning, lumayan deres tadi…tapi belum mules. Flek apa ya”

“ Ya itu flek, ayo ke Rumah Sakit sekarang…” respon suami saya tegas.

Karena saya ragu, saya sempat mencari seperti apa flek melahirkan di google. Maklum, waktu itu saya belum mulas. Tapi suami saya entah kenapa yakin setelah memastikannya lebih lanjut. Ia pun segera meminta saya bersiap-siap ke rumah sakit. Waktu itu saya sedang di rumah mertua. Semua keluarga juga masih tidur.

Aduh, karena flek muncul seminggu sebelum HPL (hari perkiraan lahir), saya pun belum menyiapkan tas untuk ke rumah sakit, padahal suami saya sudah wanti-wanti, kalau-kalau waktu melahirkan saya maju dari HPL. Sebenarnya saya menunggu suami saya pulang dari Papua dulu untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tapi, antara lucu dan alhamdulillah, baru jam 7 malam suami saya pulang, eh subuhnya saya langsung flek. Akhirnya, dengan persiapan seadanya, kami pun cus ke RS setelah membangunkan mama yang juga yakin bahwa cairan yang keluar itu adalah flek. Lama-lama flek kuning itu berubah menjadi coklat lalu merah, persis seperti haid.

Kami bertiga, saya, suami, dan mama akhirnya melaju ke RSPI dan sampai ke pintu emergency. Begitu sampai di ruang kala (tempat mengecek/menunggu bukaan), nakes di sana segera mengecek jantung debay dan keteraturan kontraksi saya. Tapi kok belum mules juga yah, saya jadi agak panik. Tiba-tiba 30 menit kemudian seorang nakes meminta saya untuk meregangkan kedua paha saya. Saya waktu itu tidak tahu akan diapakan, baru saya ketahui setelah lima jari tangan dengan sarung tangan yang berdarah terlihat oleh mata saya. Astaga, saya tidak sadar kalau dia barusan melakukan VT (vaginal touch) sampai menyentuh mulut rahim. 20 cm jarak mulut rahim ke permukaan genital kita, Guys. Pantas rasanya maknyus sekali.

“Bukaan satu” katanya, yang membuat saya sedikit lebih lega. Mungkin memang sudah waktunya.

“Hasilnya sudah kami kirim ke dokter, Bapak segera booking kamar ya?” kata nakes yang lain. Dengan perasaan mengharu biru saya telepon orangtua saya di Serang. Mereka datang menjelang siang. Ibu saya sudah heboh karena bawa Teh Marwah, Asisten Rumah Tangga yang didatangkan dari Serang untuk membantu saya kalau sudah lahiran nanti. Adik lelaki saya yang kebetulan ngekos di Ciputat juga datang sama temannya.

Saya tiba-tiba jadi zonk, ini emang beneran gue mau melahirkan yah. Belum mules-mules padahal. Beberapa saat kemudian, kamar sudah siap dan saya bersegera ke sana. Nakes RSPI meminta saya untuk kembali ke ruang kala jam 10.00. Lama kelamaan perut saya agak kram dan seperti jelang-jelang haid, tapi begitu kembali ke ruang kala, kontraksi saya masih belum teratur dan belum kuat, hanya rasa-rasa “mau dapet”. Nakes meminta saya datang lagi jam 13.00. Kecewa, setelah dokter menerima laporan terakhir, ia datang ke ruang kala dan meminta saya serta keluarga pulang lagi ke rumah. Padahal, baru 2 jam yang lalu orangtua saya datang dari Serang. Dan masyaAllah, udah 3 kali nakes melakukan VT pada saya tapi masih juga bukaan satu, hiks. Sakitnya tuh di sini, haha

“Pulang aja ya dulu Mbak Alfi, masih lama…tenang aja yah. Nanti ke rumah sakit lagi kalau kontraksi sudah 5 menit sekali. Kalau mulas, tarik dan buang nafas ya di rumah. Lalu nanti yang nyetirnya jangan panik ya, hehe”. Kata dokter Karmini sambil memeriksa denyut jantung bayi saya, dan rada-rada melirik suami saya.

“Itu padahal udah berdarah-darah, gak papa dok?” kata mama.

“Gak papa kok…”

Terang saja mama dan ummi (ibu kandung saya) kebingungan dan minta saya stay di RS saja, tapi suami saya, dengan tampang tenang bilang “ya udah pulang aja, kan kata dokter pulang. Bisa lama itu bukaannya. Dia kan pasiennya banyak, kayak gini udah pengalaman kali” Huuuf, akhirnya kami memutuskan untuk balik. Padahal sudah dari subuh sampai sore di RS saya jalan-jalan menyusuri koridor dan taman RS agar bukaan lebih cepat, tapi ternyata belum juga ada hasil.

Akhirnya, karena ibu saya sudah terlanjur izin mengajar di sekolahnya, beliau ikut saya ke rumah untuk menginap dan menunggu bukaan, siapa tahu aja malem udah bukaan lengkap, tapi kalau ampe berhari-hari, kasian juga izinnya jadi banyak. Sementara itu ayah saya balik lagi ke Serang karena ada urusan penting di kampus tempatnya ngajar. Suami saya memutuskan agar saya dan ibu saya tidak stay di rumah mama, tapi ke rumah kami sendiri.

Kami sampai di rumah menjelang maghrib, dan sungguh malamnya saya tidak bisa tidur karena entah kenapa mulesnya semakin bertambah, kontraksi ringan satu jam sekali. Tapi ah, masih ringan dan macam nyeri-nyeri haid saja. Saya ngeluh-ngeluh sama suami saya, tapi fail, dia tepar karena kecapean nyetir, haha

29 Oktober, pukul 06.00

Malam berlalu, subuh menjelang. Pinggang bagian belakang saya sudah mulai sakit, mulas saya semakin terasa juga. Saya dan suami memutuskan untuk mengecek bukaan ke bidan dekat rumah dulu, khawatir disuruh pulang lagi dari RS.

“Ke RS aja kalau begitu pagi ini ya” kata ummi

“Kita ke bidan aja dulu cek bukaan, kalau udah maju baru ke RS” kata saya.

Begitu bidan melakukan VT, bukannya saya senang, malah jadi tambah panik. Masak kata bidan belum ada bukaan, padahal kemarin RS bilangnya sudah bukaan satu. Aaah, harusnya kan udah maju.

“Jenis mulut rahimnya tebal, saya jadi susah mau menjangkaunya. Kepala bayinya sudah di bawah sekali dan nutup mulut rahimnya. Mau saya lowok lagi tapi mbaknya udah kesakitan” terangnya. Kecewa berat, saya pulang lagi ke rumah. Pinggang dan perut semakin bertambah sakit. Ibu dan suami saya sudah berpesan agar saya ke RS saja. Tapi karena saya keukeuh takut dimacem-macemin dan akhirnya gak jadi lahiran normal, saya tahan-tahan aja tuh rasa sakit di rumah. Masih sempat juga pinjam gymball tetangga saya agar saya bisa goyang inul. Katanya sih buat mempercepat bukaan. Tapi alamak, lama-lama saya jadi stress karena pinggang masyaAllah sakitnya kayak kebakar dan mau copot.

Menjelang siang, tiap 10 menit sakit, tiap itu juga saya minta suami atau ibu saya tekan pinggang belakang saya. Sesekali mereka nyuapin saya makan sambil nahan sakit. Karena gak tahan, akhirnya saya nangis sendiri di kamar. Tampang suami dan ibu saya udah prihatin aja. Ada kalanya saya marah karena mereka buat ruwet saya, haha. Udah tahu sakit, jalan-jalan pake diikutin di belakang, pake diliat-liatin kayak orang pesakitan, haha. Yak maklum namanya orang sakit jadi emosi jiwa. Padahal maksudnya mereka mau menunjukkan perhatian, tapi saya malah teriakin mereka sambil nangis-nangis. Haha.

“Udah..udah..diem diem! Pokoknya jangan ada yang deket-deket, biar tenaaang!!” teriak saya macam orang stress. Suami saya udah bengong dan diem aja karena bingung harus ngapain. Serba salah dah. Pelajaran senam hamil dan artikel-artikel tentang hypnobirthing yang saya baca biar tenang menghadapi kelahiran jadi lupa semua, hahaha.

Kalau giliran gak sakit, saya jalan dan nungging-nungging di ruang tamu, atau main gymbal goyang inul sambil dipegangin suami. Giliran sakit, saya tarik nafas dan nahan nangis. Puncaknya waktu udah 5 menit sekali. Ibu saya panik karena saya nangis lagi tapi dipaksa ke RS gak mau. Padahal suami udah telepon mama biar cus ke RSPI. Karena saya tetep gak mau (takut disuruh pulang karena belum ada bukaan), mama belokin taksi ke rumah saya. Waktu itu sejujurnya saya kemakan omongan bu bidan yang belum ada bukaan, jadi saya pikir sorean aja lah ke RS. Begitu mama datang jam 14.00, beliau berkata pada saya yang lagi guling-guling di kasur sambil nangis.

“Ayo sayang…kita ke RS aja yah. Siapa tahu di sana ada tindakan yang bisa melunakkan mulut rahim yang tebal”

Tuing tuing, otak saya jadi mikir, “yah juga sih” haha. Kalaupun belum ada bukaan kan setidaknya ada tindakan macam itu. Akhirnya kami berempat cus ke RSPI, dan Teh Marwah ditinggalin aja di rumah. Sampai RS, saya masuk lewat pintu emergency pake kursi roda karena udah 2 menit sekali kontraksi. Sumpah saya gak bisa jalan lagi. Sampai di ruang kala, nakes melakukan VT lagi dan bilang udah bukaan 5. Antara lega dan nahan sakit, saya dibopong ke kamar bersalin. Whaaat? Secepat ini yah gue mau ngelahirin.

Bersambung

Sembilan Bulan

Dulu saya tak pernah membayangkan bagaimana rasanya mengandung. Ketika awal menikah dulu, yang ada dalam diri saya adalah rasa was-was dan takut, karena sejujurnya, dulu saya tak ingin cepat-cepat memiliki anak. Sungguh kufur diri ini, yang sempat berpikir bahwa hamil cepat-cepat hanya akan menambah beban studi S2 saya, hamil cepat-cepat hanya akan membuat momen-momen indah dengan sang suami berkurang, hamil cepat-cepat hanya akan membatasi aktivitas saya di luar rumah, hamil cepat-cepat hanya akan membuat saya sedih karena saya sadar, waktu itu saya mungkin belum cukup beradaptasi dengan rute kerja suami saya yang bolak-balik Jakarta-Papua.

Alhasil, Allah tahu betapa saya belum siap benar, sehingga baru pada bulan keenam Dia memberi saya amanah ini, tentu saja setelah saya menelan beragam pertanyaan khas orang Indonesia, kalau tidak boleh saya sebut ‘tekanan sosial’, dan hasil tes kesehatan saya dan suami yang sempat membuat shock, hingga akhirnya saya bersujud dan berusaha mengenyahkan segala buruk sangka. Saya menerima, dengan sepenuh jiwa. Dan amanah itu justru datang di waktu yang terbaik.

Dengan doa yang tak henti-hentinya, Allah memberikan saya anugerah yang luar biasa, setelah saya membuka hati, merasai betapa bersyukurnya memiliki keturunan yang bisa menjadi penentram jiwa. Saya akhirnya hamil, setelah menyadari betapa fase ini adalah fase menakjubkan yang harus dirasai oleh setiap perempuan. Sebuah fase yang pasti akan mengubah perspektif saya terhadap hubungan orangtua dan anak. Sebuah fase yang menggetarkan, yang mengubah rasa sakit menjadi demikian manisnya.

Sembilan bulan terlewati sudah. Ada banyak perubahan fisik yang membuat kesabaran saya diuji sedemikian rupa. Saat empat bulan pertama, saya jarang sekali bisa makan dengan enak. Selalu memilih-milih makanan karena kalau tidak cocok, saya akan memuntahkan makanannya lagi. Saya memang tidak mengenal ngidam, tapi saya tahu, suami saya pasti kerepotan karena saya susah makan. Minta A, akhirnya dibelikan, tapi nanti sampai rumah tidak dimakan. Minta B, akhirnya dibelikan, tapi nanti bilang, “perutnya gak enak kalau dimakan”. Kalimat favorit suami saya di fase ini adalah, “jadi kamu maunya apa?”. Terbayang wajah dia yang super menahan sabar🙂 karena perubahan hormon kehamilan membuat saya sering sekali kesal dengan suami saya, persis seperti PMS :p. Pernah waktu itu dia bertindak lucu, bukannya mengambilkan air hangat waktu saya muntah, dia malah membuat video tanpa saya ketahui. Katanya, biar dedek tahu perjuangan bundanya dulu :O

Di bulan kelima, saya sudah bisa makan enak. Alhamdulillah, ini terjadi justru ketika Ramadhan datang. Allah tahu, saya tidak boleh sembarangan makan dan perlu asupan nutrisi lebih, maka ia menahan saya dengan puasa semampunya. Di bulan ini juga saya sedang hectic diburu deadline tesis. Dulu saya pernah berpikir saya tidak akan mampu kalau harus mengerjakan penelitian saat saya sedang mengandung, tapi alhamdulillah, semuanya terlewati dengan izin Allah. Adanya janin dalam perut saya justru menjadi motivasi terbaik agar saya cepat menyelesaikan studi.

Menginjak bulan keenam, masalah lain pun timbul. Beberapa bagian tubuh saya gatal-gatal karena tubuh saya semakin lebar, jadilah timbul stretch markyang saya tidak tahu ini bekasnya akan hilang kapan. Kandung kemih saya juga sakit kalau buang air kecil sambil jongkok. Untung saja WC di rumah WC duduk, jadi tidak begitu membebani, walaupun setiap pergi saya kerepotan karena sering sekali buang air kecil. Menginjak bulan ke tujuh, kaki saya sering kram dan kesemutan, karena menahan berat bayi yang semakin besar. Seringkali saya terbangun tengah malam dan berteriak-teriak sakit. Dan lagi-lagi, saya terbayang wajah suami saya yang dulu bingung harus berbuat apa, hehe.

Begitu juga saat hamil delapan bulan, saya merasa betapa sulitnya berjalan panjang, mudah sekali ngos-ngosan. Ini baru saya sadari ketika saya ke Singapura menemani suami training. Tahun lalu kami backpack tidak masalah jalan panjang-panjang, tapi bulan lalu, saat berjalan menyusuri lorong MRT saja, tubuh rasanya pegal dan lelah sekali. Lagi dan lagi, saya terbayang betapa super sabarnya suami saya yang menuruti kemana maunya saya, padahal fisik sudah tidak memungkinkan lagi ;p.

Lalu bulan ke sembilan itu pun datang. Mungkin ini yang disebut Al-Quranwahnan ‘ala wahnin, kelemahan yang bertambah-tambah. Posisi tidur sungguh serba salah karena bayi saya semakin besar, berjalan pun sudah pincang-pincang karena pinggang rasanya sakit sekali. Naik tangga susah, jalan juga pelan-pelan, masak dan beres-beres rumah pun gampang sekali capeknya. Saya jadi ingat ibu saya kalau sudah begini. Akhirnya, saya diminta hijrah ke rumah mertua saja, dan suami saya…tak usah ditanya :p dia terbang ke Papua dan baru tiba satu minggu sebelum HPL (hari perkiraan lahir).

Ingin sekali rasanya memiliki suami yang siaga 24 jam, hehe, tapi hidup memang pilihan, dan saya sudah sangat bersyukur memiliki pasangan hidup yang sangat perhatian dan luar biasa, walaupun jarak memisahkan kami berdua. Kami selalu mengajak bayi kami bicara, agar lahir kalau ayahnya sudah tiba di rumah saja. InsyaAllah HPL saya 3 November, yang katanya bisa maju bisa mundur satu sampai dua minggu dari perkiraan dokter. Ya, tinggal menghitung hari. saja Semoga Allah mudahkan persalinan saya karena saya yakin Dia tahu waktu yang terbaik (*)

Happy First Wedding Anniversary!

My husband’s note :’)

17 August 2014

I am writing this 1500 km from where you are now. From Papua, the black diamond on the far east of Indonesia. But I know, my heart is left there with you, Sayang. The love is growing bigger and bigger every single day. Do you remember? What is special today? Google says, “our doodle is special today, showing the view of Indonesian Independence ceremony, with a background of Indonesian traditional houses and the diverse of its people, from Aceh to Papua.” Our founding fathers, if they are still alive, would say, “Thanks God Indonesia is still in unity while many people didn’t believe that Indonesia can hold its unity just like many believers finally proof their thought when The Soviet Union was broken apart on 1991, or when the Korea was broken into North and South on 1948..” Workers in Tangguh LNG site (where I work now) also say that today is special, because we had to conduct the independence day ceremony in a blistering rain on the middle of the ceremony. For me, what special today is you. Yes, you, Sayang.. You are the special one, not only today, but on every single day, every single second I take my breath in, you are and will always be special.

Today, another special thing is we are celebrating our first wedding anniversary. One year ago, we know each other as friend, I know you as a beautiful smart girl who likes to read and write, enjoying to be involved in student activities, and having so many friends around. Now it will take hundreds and hundreds of pages to describe all the good things about you, Sayang.. You are the best wife who cook many delicious foods and always take care of the house really really neatly.🙂 You are the best wife who always hold me when I fall and always make my day; even though we are far apart, your single word, “semangat”! can boost my spirit high.. Your story about your study, thesis, teaching is always interesting to be heard and coloring my day here. You are the one who always remind me if I have done my tilawah or not, and wake me up when the prayer time comes, although sometimes it’s  very hard for me to wake from my sleep until you put some water in my eyes. Hehe. And soon, you are going to be the mother of my children.. A mother of da’is and da’iahs, statesmen, and sholeh/sholehah children.

As what you have written in your blog, I know and realize that marriage is not all about happiness. It also consists of challenges, argues, and sometime tears. But I will give all my best to keep our wedding promise: Surga, Cita, Cinta. Together, building this family to achieve His Jannah (Surga), Supporting each other to achieve family and individual goals (Cita), with love (Cinta) which we always keep. Our marriage age now is still very young, Sayang.. Just like what you have written in your blog, the marriage needs acceptance, hard work, and effort so that it will be everlasted ever and forever. Our parents have taught us how to build an everlasting love, a great family, though. I hope on the next 5, 10, 20, and 50 years, you will still be here, with me and our children until the death comes. And in His Jannah, I will meet my Creator holding you and our children in my arm..

Happy 1st Anniversary Sayang..

Alhamdulillah. Segala Puji Bagi Allah yang telah menyatukan kami sampai detik ini.

Papua, 17 Agustus 2014

Bang Ayi

PS: Just like my marriage proposal, I am writing this in English so I can express it all. :p

Blog at WordPress.com.

Up ↑