Mari mari…sini, Kawan, saya akan menceritakan suatu kisah untuk kita renungi sejenak. Merenung tentang sebuah pertanggungjawaban hakiki: menjadi orangtua. Semoga dari sini kita bisa belajar, bagaimana saling menghormati dan memahami peran kita masing-masing dalam keluarga.

Salah satu hal yang patut saya syukuri benar adalah bahwa saya dan kedua adik saya lahir dalam lingkungan keluarga yang religius. Karena orangtua saya sewaktu muda aktif di HMI (tapi HMI yang jaman doeloe), jadi sejak dini kami—anak-anaknya—sudah diajari apa itu aqidah-akhlaq. Karena itu, kalaulah kami (pernah) bandel, pasti saja ada orangtua yang mengingatkan.

“Nak, Allah gak suka itu, tapi Allah suka yang ini”, nasihat ibu saya sewaktu saya kecil. Beliau adalah orang yang paling berharga dalam hidup saya. Ummi yang sering menceritakan saya cerita tentang para nabi sewaktu saya balita, mengajari baca-tulis al-qur’an dan pengetahuan umum, membelikan saya kaset nasyid anak-anak, dan banyak lagi, mulai dari pentingnya kebersihan, ketekunan, rasa syukur, menjalin silaturahim, hingga yang paling sering orangtua saya ajarkan: mengasihi fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang sekitar yang butuh pertolongan..

Yah, ibu saya (saya memanggilnya ummi) adalah orang yang sampai sekarang pun membuat saya dan keluarga besar saya bingung! Pasalnya, ayah saya suka menegur beliau karena gajinya tiap bulan sering habis hanya untuk dibagi-bagikan kepada keluarga besar yang butuh pertolongan. Sangat sensitive. Bahkan yang hanya nampak di televisi, beliau akan langsung menangis dan pucat. Kalau begitu, saya pasti geleng2 kepala dan menenangkan. Beliau tak pernah segan memberi, dalam keadaan sesempit apapun, pasti tak pernah lupa “berinfaq” untuk orang2 sekitar.

Di sekolah tempat mengajarnya pun (anak-anak juga memanggilnya ummi), tak jarang ia mati-matian memperjuangkan beasiswa untuk anak muridnya yang kekurangan, sampai ayah saya pernah bilang, “mi, udahlah…jangan terlalu banyak ngurus orang lain, ummi juga punya hak untuk istirahat”. Wajar kalau banyak muridnya yang sering SMS dan telepon beliau sekedar curhat, karena saking dekatnya dengan para murid, siapapun mereka. Sosok guru yang belum pernah saya temukan sejak saya TK sampai kuliah. Oh yah, dari saya bocah, kayaknya udah gak keitung juga ibu saya ngejodohin orang…ckckckck.

Setelah saya telusuri kenapa ibu saya “sosial(is)” benar, saya dapat jawabannya. Ternyata, ibu saya lahir dalam lingkungan keluarga yang bersahaja. Walaupun kakek saya termasuk orang yang berada, tapi ia tahu bagaimana mengajarkan anak-anaknya hidup sederhana. Setiap hari anak-anaknya diberi makan satu telor asin yang dibagi tujuh (karena anaknya ada tujuh orang), pun untuk urusan uang saku, tak pernahlah beliau beri lebih. Bahkan waktu SD pun ibu saya hanya pakai sandal jepit dan tidak pakai seragam, padahal bisa saja ia minta dibelikan sepatu dan seragam, tapi kakek mau ngajari “hargailah orang-orang sekitar yang kekuarangan”. Ya, kakek saya “hematnya” untuk keluarga kebangetan. Tapi kalau urusan sumbang-menyumbang untuk membangun kampung, beliau termasuk orang yang paling disegani. Oh yah, kakek saya orang yang paling rapi yang pernah saya temui, baju safarinya sampai tipis karena seringnya disetrika berkali-kali. Alamak…lipetannya rapi jail. Lebih rapi dari anggota dewan kali.

Pun nenek, perempuan yang hanya tamat kelas dua SD ini adalah perempuan besi. Ia yang mengajarkan bagaimana ketujuh anaknya berlaku sopan santun dan tegar menghadapi kerasnya hidup. Nenek akan benar-benar marah kalau sampai anaknya ada yang ketahuan pinjam satu barang dari kawannya, atau ada anak yang gak mau ngaji, pasti disabet pakai sapu lidi. Kalau gak mau shalat….jangan ditanya hukumannya kayak apa.

“Jangan dibiasain ngerepotin orang, kalau kita gak punya abc, jangan dibiasakan pinjem, syukurin yang ada! Kalau memang benar2 butuh, kembalikan secepat mungkin!” (kata-kata ini sering diucapkan nenek dan ibu saya kepada anak-cucunya)

Saya ingat, nenek saya adalah orang yang paling sering mengajarkan saya mengaji sampai saya berkeringat. Bayangkan saja, saya harus mengulang berkali-kali dari awal sampai selesai sekian lembar hingga saya lancar benar mengaji. Kalau belum lancar, saya disuruh ulang lagi ulang lagi ulang lagi dari awal sampai akhir, sampai kerudung saya basah karena keringat, takut melihat gertakan nenek saya yang ortodidak tahfidz qur’an. Kalau belum lancar juga pasti dipukul. Aw! Orangtua saya dulu juga begitu, sebelum anak-anaknya baligh, kalau saya males shalat, pasti disabet pakai sapu lidi…sakit…tapi subhanallah, gunanya kerasaaaaa banget!

Pulang kampung jadi cerita tersendiri bagi saya. Saya akan bersilaturahmi ke rumah nenek saya yang tinggal satu-satunya itu (kakek udah meninggal, orangtua dari ayah juga), saya kangen nenek..kangen berat. Beliau sudah lamaaa sakit-sakitan, kalau saya bilang adik saya dirawat rumah sakit, pasti penyakit tuanya kumat lagi, makanya keluarga besar milih tutup mulut daripada nenek saya kepikiran.

Ah, nenek, aku ingat saat kau menangis karena minta aku tidak pergi ke Depok dulu, minta kutemani tidur… L aku akan mengunjungimu besok…luv u full (halah)

Next story: cerita orangtua dari ayah…

“Bapak tidak meninggalkan harta untuk anak-anak bapak, tapi ilmu…” (kata2 kakek dari ayah sebelum meninggal)