BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

M

embaca. Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata itu? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca hanya menyita waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan materi.

Padahal, kalau kita mau berpikir kritis, kita akan menemukan begitu banyak manfaat dari kegiatan membaca. Dengan membaca suatu bacaan, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan.

Buku sebagai media tranformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas-batas geografis suatu negara, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia. Semakin banyak membaca buku, semakin bertambah wawasan kita terhadap permasalahan di dunia. Karena itulah buku disebut sebagai jendela dunia.

Era globalisasi yang menciptakan iklim persaingan menuntut kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Karena itulah reading society dan learning society diperlukan untuk menciptakan persaingan yang sehat, sekaligus membentuk komunitas masyarakat yang gemar membaca dan belajar. Melalui membaca dan belajar, masyarakat dapat menyerap ilmu pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dicita-citakan dapat terwujud.

B. Minat Baca Indikator Kualitas Bangsa

Salah satu indikator dalam menentukan kualitas pendidikan suatu negara  adalah tinggi-rendahnya minat baca. Ukuran tersebut menentukan kemajuan di bidang pendidikan karena dapat dijadikan tolok ukur dalam menentukan tinggi-rendahnya kemampuan membaca. Dalam artian, sejauh mana seseorang dapat menangkap informasi yang tertera dalam bacaan, maupun secara kritis menyikapi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsanya.

Rendahnya kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi menurunkan angka melek huruf. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya minat baca di Indonesia, yang secara langsung menentukan kualitas bangsa. Publikasi UNDP (United Nations Development Program), Human Development Report 2003 menyebutkan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia berada di peringkat 112 dari 174 negara. Berada tiga tingkat di bawah Vietnam yang menempati urutan ke-109. Sangat ironis mengingat negara kita yang telah lebih dari setengah abad mengenyam kemerdekaan, berada di bawah negara yang lebih dari 20 tahun yang lalu menikmati kemerdekaannya usai perang saudara. Seburuk itukah kualitas SDM bangsa kita?

Apabila pemerintah tidak menanggapi masalah ini secara serius, dapat dipastikan negara kita akan tetap menduduki peringkat kedua terbawah di antara negara-negara di Asia dalam hal pendidikan. Konsekuensinya, negara kita akan mengalami “infertilisasi” masyarakat terdidik (educated society), dalam arti tidak mampu mencetak generasi-generasi unggul akibat peningkatan minat baca yang tertatih-tatih.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan elemen masyarakat. Kalangan pelajar merupakan salah satu elemen masyarakat yang memiliki peran yang strategis dalam menentukan kualitas pendidikan di Indonesia karena dari pelajarlah kita dapat mengukur standar tinggi-rendahnya minat baca di Indonesia.

Untuk menumbuhkan minat baca di kalangan para pelajar dibutuhkan suatu stimulus yang dapat merangsang motivasi mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan. Motivasi itu timbul apabila didukung oleh sarana dan prasarana yang menunjang. Perpustakaan sekolah merupakan sarana yang perlu mendapat perhatian khusus dalam rangka menumbuhkan reading society dan learning society di kalangan pelajar.

Sejarah telah membuktikan bahwa perpustakaan mampu menjadikan suatu bangsa besar dan maju. Bangsa Mesir kuno, bangsa Asyria, bangsa Romawi, serta bangsa Yunani adalah sederetan bangsa-bangsa yang maju karena memiliki perpustakaan yang lengkap pada zamannya. Di masa keemasan Islam kita mengenal Cordoba dan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan. Keberadaan perpustakaan-perpustakaan yang lengkap menjadikan kedua kota tersebut sebagai pusat kegiatan belajar bagi sarjana muslim. Masa keemasan itu berakhir tatkala tentara Mongol menyerbu Baghdad dan menghancurkan perpustakaan-perpustakaan yang ada di sana. Semua buku yang terdapat di perpustakaan tersebut dibuang ke sungai Eufrat dan Tigris, sehingga airnya berubah menjadi hitam legam akibat tinta dari buku-buku yang dibuang ke sungai. Karena itulah, sudah sepatutnya kita belajar dari sejarah, agar kita bisa berpikir dewasa dan penuh pertimbangan. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarah?

BAB II

EKSISTENSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

A. Perpustakaan Sebagai Tempat Rekreasi ilmiah

Eksistensi perpustakaan di sekolah, baik tingkat SD, SMP maupun SMA merupakan hal yang wajib ada dalam lingkungan pendidikan (wiyatamandala). Ibarat sebuah jantung, perpustakaan sekolah merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu para siswa (curiousity). Alasannya, karena perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan, pusat kegiatan belajar bagi siswa (learning center), pusat informasi (information center) bagi warga sekolah dan tempat rekreasi (recreation place) dalam arti tempat penyegaran otak, rohani dan jasmani. Perpustakaan juga merupakan pusat integrasi dimana siswa, guru dan pustakawan dapat bekerjasama dalam memperluas ilmu pengetahuan baik individu maupun kelompok.

Fungsi perpustakaan sekolah sebagai gudang ilmu dapat terabaikan manakala perpustakaan tidak dikelola dengan baik. Suasana perpustakaan yang tidak  menarik menyebabkan perpustakaan sekolah seakan rumah kosong tak berpenghuni. Para siswa enggan berkunjung ke perpustakaan karena fasilitasnya yang kurang memadai. Akibatnya, eksistensi perpustakaan sebagai denyut jantung sekolah seakan mati. Ungkapan perpustakaan sebagai gudang ilmu berubah menjadi gudang buku-buku.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan fasilitas di perpustakaan sekolah adalah salah satu faktor signifikan penyebab rendahnya minat baca di kalangan siswa. Terbatasnya jumlah buku dan suasana perpustakaan yang kurang mendukung menjadi pemicu rendahnya minat baca siswa. Baik di sekolah negeri maupun swasta, koleksi perpustakaannya hanya terbatas pada buku-buku paket kiriman pemerintah. Kalaupun ada koleksi lainnya, jumlah judul dan eksemplarnya sedikit, serta kondisi bukunya  tak laik untuk dibaca.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pengelolaan perpustakaan dan peningkatan minat baca perlu dilakukan secara beriringan. Menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat rekreasi ilmiah diperlukan untuk menciptakan suasana perpustakaan yang menyenangkan karena meningkatkan minat baca tidak bisa dengan hanya menyediakan buku. Harus ada faktor pendorong yang dapat menjadikan perpustakaan ibarat magnet. Menarik begitu banyak pengunjung, seperti halnya mal dan objek wisata. Untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat rekreasi ilmiah diperlukan hal-hal sebagai berikut :

1) Penataan Ruang

Kesan formal yang masih kuat pada gedung perpustakaan sekolah dapat mempengaruhi minat baca siswa. Kondisi gedung yang terkesan kaku dan tidak menyenangkan menyebabkan siswa tidak betah berada di perpustakaan sekolah. Luas lahan yang sempit, ventilasi yang kurang, serta aksesoris yang tidak menarik menyebabkan siswa malas mengunjungi perpustakaan sekolah.

Karena itulah, agar perpustakaan terpelihara dan tidak terlihat kumuh, pihak perpustakaan hendaknya menguasai seni mengelola perpustakaan (the art of the library). Bangunan perpustakaan didesain sedemikian rupa agar dapat menarik banyak pengunjung. Contohnya yaitu dengan mengecat dinding perpustakaan semenarik mungkin, atau memajang lukisan dan slogan-slogan yang dapat menumbuhkan minat baca siswa, misalnya, “buku adalah jendela dunia” atau “perpustakaan adalah gudang ilmu”.

Pihak sekolah juga hendaknya membangun perpustakaan di areal yang luas. Bila perlu, di dalam perpustakaan sekolah dibangun toilet agar siswa, pustakawan dan warga sekolah yang berkunjung leluasa melakukan kegiatannya di perpustakaan sekolah.

2) Kebersihan dan Kerapihan Perpustakaan

Perpustakaan sekolah yang bersih akan membuat siswa merasa nyaman melakukan kegiatan belajarnya. Menjaga kebersihan perpustakaan merupakan tugas semua warga sekolah. Orang yang cinta akan kebersihan adalah orang yang peduli akan  kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani. Menjaga kebersihan juga merupakan cermin kepribadiaan seseorang karena orang yang mengerti  pentingnya memelihara kebersihan adalah orang yang terdidik. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?

Selain kebersihan yang terpelihara, kerapihan perpustakaan juga menjadi modal utama. Apabila katalogisasi atau klasifikasi buku di perpustakaan sekolah tidak ditata dengan rapi, siswa atau pengunjung lainnya akan bingung mencari buku. Karena itu, agar kerapihan dan ketertiban perpustakaan terjaga, pihak perpustakaan hendaknya mengklasifikasikan buku sesuai dengan jenisnya.

3) Kelengkapan Sarana

Apabila perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar siswa belum mampu menyediakan sarana yang memadai, maka dapat dipastikan perpustakaan tersebut akan miskin pengunjung. Suasana dan sarana perpustakaan yang kurang mendukung, seperti minimnya persediaan meja dan kursi untuk membaca, pencahayaan yang kurang baik, serta penataan buku yang tidak teratur menyebabkan siswa malas mengunjungi perpustakaan sekolah.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan gairah siswa dalam membaca, pihak sekolah harus proaktif dan progresif membenahi pengelolaan perpustakaan, mulai dari segi administrasi, kepengurusan, serta persediaan sarana yang lengkap, seperti meja, lampu, kipas angin atau AC (air conditionar), dan rak buku.

4) Penambahan Variasi Koleksi Pustaka

Pihak perpustakaan seyogyanya tidak hanya menyediakan koleksi non-grafis seperti ensiklopedia, kamus, novel, dan buku-buku pelajaran, tetapi juga menyediakan koleksi grafis seperti CD film dokumenter dan teknologi canggih seperti internet yang tidak lain adalah perpustakaan dunia di era globalisasi.

Khusus untuk koleksi pustaka non-grafis, pihak perpustakaan dapat menyediakan buku-buku pelajaran dalam bentuk komik yang mendidik karena tampaknya, anak-anak lebih tertarik membaca komik daripada buku pelajaran. Pemerintah dan penerbit sebetulnya dapat melirik hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca. Dengan format tulisan dalam gambar, anak akan lebih mudah memahami isi buku. Kinerja otak kanan dan kiri anak akan bekerja secara optimal. Otak kanan sebagai pengolah daya imajinasi dan otak kiri sebagai pusat logika  akan bekerja secara seimbang.

5) Kegiatan Alternatif Insidentil

Untuk dapat meningkatkan minat baca siswa, pihak perpustakaan sekolah dapat mengadakan kegiatan-kegiatan alternatif insidentil. Kegiatan tersebut dimaksudkan agar siswa tidak merasa jenuh berada di perpustakaan. Contohnya dengan mengadakan diskusi pada jam di luar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau diadakannya  acara bedah buku. Pihak sekolah dapat menyediakan waktu khusus untuk melaksanakan kegiatan tersebut, misalnya, seminggu sekali setelah pulang sekolah atau pada waktu istirahat.

Sejauh yang kita cermati, banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka selama 15 menit pada waktu istirahat, sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya sempat membuka-buka lembaran majalah. Akibatnya, intensitas membaca siswa terhadap buku-buku pelajaran, pengetahuan maupun fiksi berkurang. Dalam hal ini, pihak sekolah perlu menyediakan jam khusus untuk merealisasikan kegiatan tersebut, sehingga kegiatan di perpustakaan sekolah tidak terkesan monoton.

Selain menghilangkan rasa jenuh, kegiatan variatif tersebut juga dapat mengembangkan kemampuan psikomotor siswa. Kemampuan tersebut diasah melalui kegiatan bermain sambil belajar. Dalam hal ini, siswa dituntut aktif bersosialisasi dengan guru dan teman-temannya. Apabila kemampuan psikomotor telah terasah dengan baik maka kesadaran siswa untuk membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Dalam kegiatan diskusi, misalnya, seorang siswa dituntut untuk mengungkapkan argumen atau menanggapi permasalahan yang terjadi di daerahnya. Tanpa membaca surat kabar atau buku-buku pengetahuan, siswa akan mengalami hambatan untuk mengungkapkan gagasan. Adalah langkah yang cerdas apabila pihak sekolah mau menyediakan waktu khusus untuk menyelenggarakan diskusi ilmiah sebagai bentuk kegiatan yang dapat merangsang siswa untuk membaca.

Selain itu, pihak sekolah dapat menginformasikan buku-buku baru dalam bentuk display. Buku-buku baru tersebut dipajang di kaca informasi yang diletakkan di luar perpustakaan agar dapat dilihat oleh siswa. Dengan demikian, siswa akan penasaran dan tergerak untuk membaca. Mengadakan lomba karya tulis, membaca cepat (quick reading) dan resensi buku dengan iming-iming hadiah yang menarik juga merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan minat baca.

Bagi siswa yang aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di perpustakaan baik membaca, meminjam buku, mengikuti kegiatan diskusi atau pun bedah buku, pihak perpustakaan sekolah dapat memberikan penghargaan setiap tahunnya. Penghargaan tersebut bertujuan agar siswa terdorong untuk mengunjungi perpustakaan secara kontinu (berkesinambungan).

6) Peran Guru dan Pustakawan Yang Kompeten

Untuk dapat menunjang proses belajar-mengajar melalui perpustakaan, peran guru bidang studi sangat dibutuhkan. Guru perlu memberikan tugas yang intinya siswa harus mencari informasi atau referensi dari buku-buku yang terdapat di perpustakaan. Contohnya yaitu dengan mengadakan penilaian bedah buku antar kelompok di kelas, atau menugaskan membuat makalah. Melalui cara ini, siswa akan termotivasi untuk membaca buku.

Begitu juga dengan peran pustakawan. Pihak sekolah hendaknya merekrut seorang pustakawan yang murni berasal dari pendidikan perpustakaan, baik itu sarjana muda (D-3) atau sarjana (S-1) yang memiliki kemampuan manajerial yang baik. Tapi realitasnya, pustakawan yang ada di perpustakaan sekolah kebanyakan ditunjuk dari guru yang mungkin tingkat mengajarnya tidak banyak, atau staf tata usaha yang boleh jadi kompetensi dan minat tentang ilmu perpustakaannya terbatas. Dari satu sisi ini saja, bagaimana bisa mengharapkan perpustakaan yang bermutu?

Di tengah perekrutan pegawai negeri sipil (PNS) yang cukup besar untuk sektor pendidikan, terlihat hanya satu atau dua formasi saja untuk posisi pustakawan. Padahal, di tingkat kabupaten dan kota terdapat ratusan sekolah dasar dan menengah yang membutuhkan pustakawan berlatar belakang pendidikan perpustakaan. Sungguh ironi. Bagaimana tidak? Di satu sisi negara kita ingin meningkatkan mutu pendidikan lewat perpustakaan, tapi di sisi lain pemerintah belum menanggapi hal ini secara serius.

B. Kendala dan Tawaran Solusi

Kurangnya dana merupakan faktor signifikan yang menyebabkan minimnya sarana dan prasarana di perpustakaan sekolah. Koleksi pustaka berupa buku-buku baru yang bervariasi tidak bisa didapatkan tanpa adanya dana. Karena itulah, untuk mewujudkan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, diperlukan kerjasama yang sinergis antara pemerintah, pihak sekolah dan masyarakat.

1) Pemerintah

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah melalui Proyek Inpres, yaitu dengan menyediakan bahan bacaan yang banyak dan bervariasi di perpustakaan sekolah. Namun karena krisis moneter yang berkepanjangan, proyek tersebut tidak segencar dulu lagi, sehingga pemerintah lebih berkonsentrasi untuk menerbitkan buku-buku paket pelajaran. Hal ini menjadi langkah mundur bagi dunia perbukuan, karena para penulis yang berlatar belakang tenaga kependidikan berkurang akibat menyempitnya lahan yang ada.

Ketidakpedulian akan sarana dan prasarana perpustakaan dalam suatu lembaga pendidikan dapat memberikan dampak negatif terhadap minat baca siswa. Karena itulah, untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, pemerintah perlu segera merealisasikan dana dari RAPBD untuk bidang pendidikan sebesar 20%. Karena tanpa adanya dana yang cukup, eksistensi perpustakaan sekolah akan terabaikan.

2) Pihak Sekolah

Jika dana telah dialokasikan secara optimal, pihak sekolah bertanggungjawab untuk membangun infrastruktur perpustakaan. Pemberdayaan dan pendayagunaan infrasruktur perpustakaan adalah syarat mutlak untuk mengembalikan eksistensi dan fungsi perpustakan itu sendiri. Dalam hal ini, harus ada kerjasama antara pihak sekolah dan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustakaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Sebagai contoh, di sekolah-sekolah Jepang sejak tahun 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother library yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka menyumbang buku-buku untuk perpustakaan sekolah atau mendistribusikan buku-buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau perpustakaan keliling.

3) LSM dan Kalangan Masyarakat Yang Peduli Pendidikan

Selain pemerintah dan pihak sekolah, pemberdayaan perpustakaan juga perlu  melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kalangan masyarakat yang peduli pendidikan. LSM dan kalangan masyarakat perlu menggiatkan gerakan hibah buku yang hasilnya didistribusikan ke sekolah-sekolah yang koleksi perpustakaannya memprihatinkan.

Untuk dapat merealisasikan hal tersebut, hendaknya pemerintah mulai membenahi perpustakaan setahap demi setahap. Pemerintah dapat memulainya dari tingkat bawah, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Dengan demikian, pengelolaan perpustakaan sebagai tempat rekreasi ilmiah dapat dilakukan secara optimal. Nah, kapan Indonesia akan mencapai tahap ini?

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1)      Minat baca merupakan indikator kualitas bangsa, karena dapat dijadikan tolok ukur dalam menentukan tinggi-rendahnya kualitas pendidikan di suatu negara.

2)      Eksistensi perpustakaan sekolah merupakan hal yang wajib ada dalam lingkungan pendidikan. Ibarat sebuah jantung, perpustakaan sekolah merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu siswa.

3)      Fungsi perpustakaan sekolah sebagai pusat kegiatan belajar bagi siswa (learning center), pusat informasi (information center) bagi warga sekolah dan tempat rekreasi (recreation place)

4)      Untuk menjadikan perpustakaan sekolah sebagai tempat rekreasi ilmiah diperlukan hal-hal sebagai berikut : pertama, penataan ruang yang baik. Kedua, kebersihan dan kerapihan perpustakaan sekolah yang terjaga. Ketiga, sarana dan prasarana yang lengkap. Keempat, penambahan variasi koleksi pustaka. Kelima, kegiatan alternatif insidentil. Keenam, peran guru dan pustakawan yang kompeten.

5)      Kurangnya dana merupakan faktor signifikan yang menyebabkan minimnya sarana dan prasarana di perpustakaan sekolah.

6)      Untuk mewujudkan tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, dibutuhkan kerjasama yang sinergis antara pemerintah, pihak sekolah dan LSM atau kalangan masyarakat yang peduli pendidikan.