Klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia menjadi pelajaran penting bagi generasi saat ini dan yang akan datang. Realitas sudah sejak lama “berbicara” kepada bangsa Indonesia untuk melindungi budayanya, khususnya dalam bidang kesenian. Sayangnya, “dicambuk baru bergerak” justru menjadi “budaya” yang dipelihara bangsa Indonesia hingga saat ini. Karena itulah, ketika kebudayaan yang sesungguhnya diambil negeri tetangga, barulah ramai-ramai bangsa Indonesia mendaftarkan hak cipta; melawan karena merasa harga dirinya diinjak-injak serta dilecehkan. Sesungguhnya, hal demikian tidak akan terjadi jika sejak dulu generasi muda bangsa ini mengetahui pentingnya identitas dan tidak apatis terhadap kebudayaan tanah air. Sehingga kelak, ketika menjadi pemimpin masa depan, mereka mampu mengambil keputusan yang sigap; mengantisipasi tanpa perlu menggadaikan harga diri.

Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengartikan kebudayaan sebagai hasil cipta, karya, dan rasa manusia. Sebagai hasil cipta, rasa, dan karya, kebudayaan membentuk satu konsekusensi logis, yaitu identitas. Hal inilah yang seringkali luput dari pengawasan kita di era globalisasi. Identitas terasa begitu rendah ketika berhadapan dengan tembok kapitalisme. Pada akhrinya, ia menjadi objek konflik serta komoditas yang begitu mahal ketika dihadapkan pada tarik menarik antar berbagai kepentingan. Konflik Indonesia dan Malaysia adalah salah satu contoh dari benturan itu. Produk budaya yang diklaim oleh Malaysia tidak terlepas dari kepentingan lokal sekaligus global.

Klaim serta penetrasi kebudayaan menjadi hal yang sangat rentan terjadi di era global. Dalam konteks yang lebih luas, penetrasi kebudayaan sesungguhnya bisa jadi lebih mengancam identitas bangsa dibandingkan dengan klaim Malaysia. Ketegasan pemerintah terhadap Malaysia sudah terlambat, jangan sampai lagi menambah daftar panjang persoalan negeri karena tak mampu mengatasi problem penetrasi budaya yang masuk ke tanah air.

Alih-alih mengantisipasi terjadinya penetrasi, generasi muda saat ini justru dibiarkan bangga terhadap kebudayaan luar. Fakta di lapangan menunjukan bahwa pemuda sekarang cenderung lebih berbangga dengan kebudayaan barat. Saat ini televisi bahkan telah menjadi referensi budaya tanpa kita sadari. Berbagai acara yang diadopsi dari luar menghiasi layar kaca sehingga tidak sedikit generasi muda yang terbawa dan tidak mengenal budaya bangsanya. Akibatnya, generasi muda mengalami krisis identitas dan apatis terhadap budaya tanah air. Wajar jika para pendahulu begitu telatnya mendaftarkan hak cipta produk budaya karena kebudayaan lokal dibiarkan begitu saja, sekadar jadi tontonan, sementara kebudayaan luar disanjung dan dikemas sedemikian rupa karena pragmatisme ekonomi.

Berdasarkan kenyataan di atas, diperlukan suatu upaya untuk melindungi kebudayaan bangsa agar kita bisa terus diwariskan kepada generasi mendatang. Setidaknya, ada tiga upaya untuk terus menanamkan nilai-nilai identitas bangsa kepada generasi muda. Pertama, menanamkan nilai-nilai  kearifan lokal dengan tetap mempertahankan ciri khas kebudayaan lokal masing-masing. Kedua, menggagas kurikulum berbasis budaya, seperti mata pelajaran bahasa daerah, hari memakai baju batik, juga pelajaran budi pekerti luhur yang disesuaikan dengan budaya ketimuran. Ketiga, sadar wisata. Banyak tempat-tempat wisata di negeri ini yang menarik untuk dikunjungi. Hal ini bisa menjadi pengetahuan tersendiri bagi generasi muda, sekaligus menanamkan nilai-nilai cinta budaya tanah air.

Dengan demikian, melestarikan budaya adalah visi kolektif bangsa. Identitas bangsa dilihat oleh dunia melalui budayanya. Maka menjaga kebudayaan bangsa adalah harga mati yang tak bisa ditawar. Menjadi tugas kita bersama untuk melestarikan, melindungi, memajukan kebudayaan, serta menjauhkan sikap apatis terhadap kebudayaan tanah air. Tidak ada gunanya  jika kita terus menerus mengutuk kegelapan tanpa adanya upaya menyalakan lilin untuk melindungi kebudayaan bangsa(*)

Alfi Syahriyani

Mahasiswi Program Studi Inggris UI