Sejarah meletakkan pemuda pada posisi yang strategis sekaligus mitologis. Setidaknya, itulah mainstream yang beredar saat ini. Pemuda selalu dikaitkan dengan semangat yang menggugah, jejak kepahlawanan, sumpah pemuda, dan perjuangan demi merebut kemerdekaan. Sejarah menampilkan sosok pemuda dalam dimensi yang unik. Seakan-akan mereka menjadi besar karena sejarah. Terkadang sosoknya begitu dikultuskan, hingga Soekarno pernah mengatakan, “Berikan sepuluh pemuda kepadaku maka akan kuguncang dunia”.

Kita memang perlu melihat sejarah untuk belajar, akan tetapi tidak selamanya kita bernostalgia hingga melupakan tantangan yang ada saat ini, apalagi tidak mampu membaca peluang yang ada di masa sekarang. PR besar pemuda sejatinya adalah kini dan nanti. Artinya, pemuda boleh berkaca dari sejarah, namun refleksi historis tersebut haruslah dimaknai sebagai satu stimulan atau “guru” untuk menjadi lebih baik, bukan sekadar romantisme. Di masa penjajahan, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Singgih menuntut Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan, maka setelah bangsa merdeka, realitas menuntut para pemuda untuk berkiprah lebih dari itu, tidak hanya mengisi kemerdekaan dengan prestasi gemilang, tapi juga menjawab tantangan global, sekarang dan yang akan datang.

Setiap masa memiliki tantangannya tersendiri. Maka dari itu, kemampuan untuk membaca situasi haruslah menjadi salah satu karakter yang dimiliki para pemuda. Pemuda yang hidup dalam nuansa pergolakan akan cenderung lebih kritis dibandingkan mereka yang hidup dalam zona kenyamanan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemuda yang hidup di masa pascakemerdekaan. Bagaimanapun, kepribadian kuat pemuda terbentuk karena realitas yang mendukung mereka untuk melakukan transformasi sosial: tantangan dan tuntutan. Akan tampak naif jika kita terus menerus bergelut dengan teks-teks sejarah tanpa meneruskan perjuangan para pendahulu untuk mengatasi persoalan yang ada.

Selain itu, hal yang perlu diingat pemuda adalah bahwa ia merupakan elemen pembaharu. Baju “sejarah” yang membesarkan nama pemuda menuntut pembuktian di masa kini. Ketika eksistensi bangsa ini semakin rapuh maka pemuda berkewajiban untuk melakukan satu pembaharuan. Permasalahan seperti korupsi, terorisme yang bahkan dilakukan oleh pemuda, kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, dan sederet daftar panjang permasalahan negeri membutuhkan sentuhan para pemuda yang kritis dengan sikap yang bisa dipertanggungjawabkan. Keadilan menjadi isu yang sejatinya diangkat oleh para pemuda, tanpa jebakan pragmatisme politik. Mereka adalah agen pembaharu, sekaligus pemimpin masa depan.

Singkatnya, pemuda haruslah melawan mitos sejarah karena tantangan yang dihadapi bangsa saat ini bukan lagi masalah lokal, tapi juga global. Persaingan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kesempatan yang besar bagi pemuda untuk mengembangkan kompetensi dan potensi diri. Kekuatan pemuda terletak pada kemampuan berfikirnya yang idealis, segar, dan tidak tumpul. Item seperti itulah yang semestinya terus diasah dengan cara aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, bukan kegiatan yang membuat posisi pemuda terhimpit dalam arus pragmatisme dan konsumerisme.

Para pendahulu telah membuktikan bahwa mereka mampu melakukan gebrakan di tengah himpitan. Ketika Jepang sudah terdesak karena gempuran bom Amerika Serikat, para pemuda melihat celah kemudian mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Belajar dari sejarah maka sifat kritis pemuda diperlukan untuk melihat peluang di tengah krisis, tidak lantas mengeluh dan bermental lembek. Selain itu, sinergi antara orangtua dan pemuda juga diperlukan agar kontrol sosial yang dilakukan para pemuda tetap proporsional dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekedar luapan emosi yang terkadang menimbulkan anarkisme. Sejarah telah membentuk image pemuda sedemikian rupa maka pemuda selaiknya bergerak agar jaya bukan sekadar nostalgia(*)

dimuat di sindo, Juli 2009

Alfi Syahriyani

Mahasiswi Program Studi Inggris UI