Di sini kita berguru. Di sebuah tempat di tepi Mahoni. Menyampai pesan tentang budak belian berkulit hitam. Lantangnya suara sang auliya. Para ulama yang menulis dengan arang di penjara. Hingga fitnah cacian yang membuat patah gerak kita.

Di sini kita bekerja. Di sebuah tempat di dekat Puspa. Menyimpul benang-benang perjuangan. Tidak butuh karena paksa. Karena laku kita sejatinya adalah sebening tulus. Saat waktu itu lekas, kita ‘kan tetap bekerja membalik tanah*). Seperti budak belian itu ketika lirih berkata “Ahad”. Sesempit penjara sang ulama yang melempar arang ke luar penjara. Sesakit batu-batu yang dilempar ke arah kita…

Di antara jalan di dekat kubah dan bangunan coklat berkerucut itu. Seringkali merenung di anak tangga. Di sini kita bersama. Membebas tawa melerai duka. Tapi kadang ada rinai hujan yang turun. Kita bekerja seperti sendiri-sendiri. Tangan dan kaki memang berjanji. Tapi sujudnya hati kita laiknya menyimpan benci

Di sini kita belajar merendah hati. Mengorganisasi jiwa-jiwa kita. Menggagas cinta misi kita. Mengkhusyukkan kerja batin kita. Merengkuh kelembutan saat ego membadai. Meneduhkan janji-janji. Melukis misi dengan doa-doa rabithah setiap hari

Di sini kita berpisah. Tapi ah, bukankah Rumi bilang perpisahan hanyalah tipu daya waktu? Raga memang tak saling butuh. Tapi jiwa akan tetap berpeluk. Dan kita masih akan tetap bekerja bersama. Membuka-buka simpul ikhwal cinta misi kita

Serang, 2 Januari 2010

-Alfi-

*)bekerja membalik tanah kata2 dari Rendra