Padang Pasir yang tandus. Di sana seorang lelaki berdiri sambil memandang wajah seorang perempuan. Lelaki itu mengelus lembut pipi sang perempuan.Pasak-pasak pasir, matahari, dan desir angin gurun menjadi saksi bisu.

“Akupergi” kata lelaki itu. Perempuan yang ada di depannya mendadak menahan sesak.Seperti ada pedang es yang menghunus ke dalam hatinya, membuat beku seluruh persendian, dan terasa sekali getar-getar halus bukit Mekkah membisik.

“Apakah ini perintah Tuhan?” sang perempuan itu bertanya. Digenggamnya tangan sang lelaki, tangan yang lembut, tangan yang pernah bersamanya menengadah, memohon agar diberikan keturunan setelah lama tak ada tanda.

Si lelaki hanya terdiam. Tapi tak lama kemudian, sigap ia lepaskan tangannya dari genggaman tangan sang istri. Ia lantas pergi, melangkah dengan berat, tapi ia berusaha keras untuk meringankannya. Karena ia tahu, untuk siapa ia pergi, dan untuk siapa ia kembali.

“Aku ridha” Hajar berdiri. Didadanya mendekap bayi yang masih merah. Ia pandangi punggung sang suami, juga bekas jejak langkahnya yang terukir di atas pasir. Langit seakan rubuh, batu-batu pecah menyaksikan sejarah perpisahan belasan tahun itu.

Belajar dari Ibrahim

KisahIbrahim di atas adalah kisah yang mengharukan sekaligus memberikan pelajaran. Ibrahimdan Hajar, pasangan yang Allah berkahi dengan cobaan berat, yaitu ‘memilih’. Bapakpara nabi itu diuji dengan ujian yang sesungguhnya, memilih antara melaksanakanperintah Allah atau tetap tinggal bersama keluarga. Sedikit orang yangbenar-benar mampu untuk melakukan hal ini, yaitu mengorbankan kepentingan duniauntuk kepentingan akhiratnya. Di bulan Ramadhan seperti sekarang, di titikinilah kita belajar menempa diri, memurnikan cinta pada Ilahi, menahan segalamacam kepentingan dan nafsu-nafsu duniawi.

Ibadahpuasa adalah wujud kecintaan kita kepada Allah. Sebagaimana Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman telahdiwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelumkamu agar kalain bertakwa” (QS 2: 183). Dengan demikian, kitamenyerahkan diri sepenuhnya untuk benar-benar rela mengosongkan perut, membawaserta lapar haus dalam aktivitas kita karena taqwa. Sesungguhnya, Ramadhanadalah bulan syahrul jihad, yaitubulan untuk mengendalikan hawa nafsu, kesungguhan kita untuk meninggalkanperbuatan maksiat.

Marikita lihat keseharian kita ke belakang. Di hari-hari biasa, mungkin kita seringmemakan makanan mewah, atau pergi ke café yang kita suka. Namun, sebagaimanakisah Ibrahim memberikan pelajaran, di bulan Ramadhan kita justru dihadapkan padapilihan yang sulit: cinta pada kehidupan di dunia, atau cinta pada Allah yang akanmengantarkan kita mengetuk pintu Ar-Rayan, yaitu pintu surga khusus untukorang-orang yang berpuasa.

Ibadahpuasa adalah pilihan atas cinta. Sebelum Ramadhan barangkali kita sering bangunkesiangan, atau menghabiskan malam dengan menonton, mengobrol, dan bersendagurau. Namun, di bulan syahru’ttarbiyah(bulan pendidikan) ini, kita menempa diri menjadi pribadi yang disiplin. Kalausaja kita mau, kita tak perlu bangun dini hari untuk shalat atau sahur bersama,namun sebagaimana Ibrahim memilih menjalankan kewajibannya, kita pun demikian,senantiasa bersyukur atas waktu yang kita miliki, sehingga tak ada pekerjaansia-sia yang kita lakukan. Di akhirat sana, bahkan hari baru pun turut menjadisaksi atas apa yang dilakukan manusia. “Wahai Ibnu Adam, aku adalah hari barubagimu. Manfaatkanlah aku dengan sebaik mungkin karena aku takkan berulang”,katanya nanti. Oleh karena itu, puasa adalah pilihan atas cinta, memilih untuk terikatdengan ketentuan Sang Pengatur Waktu, memilih untuk terus memperbaiki diri ditiap bilangan hari.

IbadahPuasa, kita memilih dengan penuh kesadaran, bahwa ini adalah bagian darikewajiban, dilakukan atas dasar cinta kepada Allah semata. Kalau kita melihatsekitar, betapa banyak orang yang buta karena kecintaan lebihnya terhadapdunia. Mereka mengantarkan diri mereka sendiri ke dalam jurang kehancuran. Perniagaanyang diusahakan, istri yang selalu mendampingi seharian, anak-anak, dan saudara-saudara,terkadang memaksa hati kita untuk tunduk pada dunia, lupa bahwa segalanya fana,lupa bahwa hanya amal salih yang akan mengantar kita kepada kehidupan akhiratyang sesungguhnya. Ramadhan mengajarkan kita bahwa setiap jengkal yang kitalakukan bernilai ibadah (syahrul ibadah),yaitu amalan-amalan kekal yang akan membuat kita ingat bahwa materi hanyalahtitipan, tidak lebih, dan tentu saja tidak dapat menolong kita di akhirat sana.

Mendengarkan Suara Hati

Ruh ramadhan tak akan terasa jikakita tidak hadir, ada, dan menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya karenacinta, harap, dan takut. Ramadhan sejatinya adalah waktu bagi kita untukmerenung, mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan di belakang.

Ramadhanmengingatkan pada kita tentang tanggung jawab sebagai seorang khalifah,sebaik-baiknya beribadah, dan sebaik-baiknya mengajak pada kebenaran. Satubulan ini idealnya menjadi chargerbagi kita untuk melaksanakan kegiatan sebelas bulan ke depan.

Kisah Ibrahim adalah satu buktikeimanan, pilihan atas cinta kepada Allah karena suara hati, lahir daribekas-bekas amalan yang pernah dilakukan. Ketika kita terbuai dengan kecintaanterhadap dunia atau terlalu keras mengejar materi, tentu saja suara hati untukmemilih kebenaran tak akan terdengar. Sebaliknya, hati kita justru diliputikekosongan, hitam pekat bagai aspal. Dengan puasalah kita melatih diri untukpeka memilih yang benar, mendengarkan suara hati yang berasal dari Sang Khalik,dorongan sifat-sifatnya yang sejak dalam rahim ia tiupkan.

“Aku ridha kalau ini perintah Allah” kata Ismail, untuk kedua kalinya Ibrahim diujidengan mimpi, setelah lama meninggalkan Hajar belasan tahun lamanya. Suaradalam mimpi itu menggetarkan, memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail,putranya yang telah beranjak remaja.

Mengejutkan,keyakinan Ismail sama seperti ayahnya dulu. Ia memilih untuk ta’at,mendengarkan suara hatinya untuk sebaik-baiknya beribadah kepada Allah. Namun,dengan kekuasaan-Nya, sembelihannya diganti oleh kambing. Tinggal sebuah suarayang membisik halus telinga Ibrahim, “Ini adalah ujian yang sesungguhnya, ujianyang nyata”. Ibrahim, Hajar, dan Ismail telah memilih untuk sepenuhnya mengabdikepada Allah. Sama seperti ibadah puasa yang mengingatkan kepada kita bahwacinta dan kebahagiaan sejati itu bersumber dari suara hati: keimanan (*)