Barangkali sejak kejadian itu aku tak lagi percaya kata pepatah. Seharusnya toh tak ada peribahasa yang mengatakan bahwa ketiadaan membuat hati lebih mencintai. Kalau saja benar bahwa perpisahan membuat hati tak lebih menyayangi. Atau andaikan saja jarak itu memang betul-betul menyiksa, sesiksa-siksanya. Seperti perempuan itu. Barangkali saat ini ia adalah orang yang paling malang di dunia. Rintihannya, lirihnya, bahkan hingga gelak tawanya, adalah karena ketiadaan.

Hujan. Ia terlalu mencintai hujan. Ia selalu menangis ketika tak ada hujan, dan selalu tertawa ketika melihat hujan, suara hujan, rintik-rintiknya yang memantul atap jembatan penyebrangan. Karena ia selalu berdiri di sana menggenggam tepi jembatan, dilewati beragam orang yang kadang sekali-kali melirik tak peduli. Apalagi kalau hujan turun deras, yang terdengar hanya langkah kaki yang cepat tanpa bisikan. Di Jakarta, segalanya soal waktu; lari, atau tertinggal bus dan bersiap pulang kemalaman.

“Ayo kita pulang…” kataku, untuk ke sekian kalinya

“Tidak, hari ini deras. Sangat”

“Aku rindu kita satu meja makan”

Perempuan itu melirikku, tajam. Sekian detik kemudian matanya sudah membentur jarum-jarum jatuh. Ia tak acuh. Yang dipedulikannya hanyalah jembatan, hujan, dan memori masa silam.

“Ayolah, ia sudah tak ada”

“IA MASIH ADA. Masih ada hujan. Berarti ia masih ada. Kau yang tak pernah peduli” jawabnya, dingin

Aku membuang sengal. Rasa-rasanya ia sedang menghunus dadaku dengan pedang es. Sesak. Lalu mengekal memori sepekan silam. Puzzle itu masih berseliweran di kepala. Tentang lelaki yang baru pulang dari sebuah pemilihan, tentang coretan di atas kertas yang robek tak karuan. Suara yang menikam: kekalahan. Ia adalah lelaki paruh baya yang berlari dari macetnya Jakarta, naik ke atas jembatan penyebrangan di waktu hujan, tertawa seorang diri, dan…terjun.

“Tapi ayah su..dah tak a..da, Bu..” aku melirih

“Tinggalkan aku dan ayahmu!”

Aku mengalah. Berat aku melangkah memunggungi beliau. Kubuka payung, turun dari jembatan. Di bawah orang ramai mengerumuni sesuatu di tengah jalan. Tapi ingar mereka tetap kalah oleh suara hujan. Tiba-tiba aku membeku di bawah jembatan. Ada merah, juga tubuh perempuan yang kukenal(*)

Ditulis pas hujan😀