Ciputat, 13 Agustus 2010

Tepat di depan sebuah ruangan aku duduk bersila. Di atas lantai yang dingin, tanpa alas. Gerimis membuat Jum’at begitu berbeda. Hari itu kupandangi satu-persatu langkah sepatu.Orang-orang lewat tanpa peduli sebelah kanan dan kiri, apalagi sekedar melirik aku yang memangku sebuah novel. Kutopangkan dagu, berpikir cukup lama. Sesekali kudongakkan kepala ke atas langit-langit koridor, lalu kuhirup udara siang itu.Cuping hidungku bergerak pelan, bau tanah siraman hujan itu tercium: melegakan.

Bagiku tidak ada yanglebih nikmat dibandingkan keluar dari rutinitas dan mengamati realitas di luarseorang diri, atau duduk membaca buku di Klaster, atau berdiam diri di kamarmenyelesaikan berbagai coretan. Siang itu aku memilih untuk membaca sendiriansaja di koridor sebuah gedung, tahu-tahu saja aku tersenyum, ada sesuatu yangsedang memainkan limbikku: d-i-a

“Waktu kecil kau seringsekali berkhayal” katanya kepadaku

“Oh yah?”

“Yah, sampai kau dudukdi bangku SMP kelas satu, sulit sekali menghentikan kebiasaan itu. Kaumenghabiskan waktu di teras rumah, atau naik pagar di samping kebun, bicaraseorang diri”

Seperti ada yangmenyentil hati, aku tersenyum, mengekal memori beberapa tahun silam. “Ya, akuingat, aku sering sekali mengarang cerita sampai berbulan-bulan,bertahun-tahun, saling terkait tanpa ending, tapi tidak pernah kutulis” responkukepadanya.

Siang jadi makin dinginkarena hujan turun deras.

“Dan suatu hari kauberdoa pada Tuhan, “ya Tuhan, aku berjanji pada-Mu, aku akan menghabiskanwaktuku untuk belajar, aku tidak mau lagi mengarang cerita tidak penting danbicara seorang diri”, tapi kau langgar janjimu, nakal sekali”

“Ya, aku ingat. Akudulu tersiksa sekali dengan dramaku sendiri, jarang ada yang bahagia, sulitsekali untuk kuhentikan. Bahkan pernah aku berharap masuk ke dalam sebuahlukisan nenek tua dan seekor burung, atau bahkan menjadi….”

“Menjadi?”

“…hujan…”

Lawan bicaraku terdiam,lantas memandang wajahku lama sekali. Orang-orang masih bolak-balik dihadapanku dengan sepatunya. Kututup lembaran novelku.

“Oh ya, bagaimana masakecilmu?” giliran aku yang bertanya padanya. Tak ada jawaban. Kulihat sebelahkanan, hening. Sebelah kiri, tak ada siapapun.

Lalu aku terdiam cukuplama. Tahu-tahu saja aku tertawa kecil.

“Ah, kau, kenapa kau selalumenganggu aku?” kataku keras, membuat orang yang lewat sejenak berhentimelirikku, lalu jalan lagi. Aku tergidik, segera sadar.

Untuk kali kedua kuhirup udara, rasa-rasanya baru saja aku kembali ke masa kecil. Harum tanah menyeruak, hujan mulai mereda: hari terang (*