A lecturerSenin kemarin, tidak tahu apa yang menggerakkan tangan saya untuk merapikan tumpukan skripsi tanpa cover yang saya taruh di atas lemari baju. Kalau dilihat-lihat, sepertinya kamar saya sudah tidak nyaman, saking banyaknya tas yang berisi hand out kuliah, file organisasi, dan buku-buku koleksi. Sumpek. Butuh kamar yang lebih luas. Ditambah lagi, di depan kamar saya sedang dibangun bangunan baru. It means, saya harus berbesar hati karena setiap kali menyapu pagi, pulang sore kamar sudah sangat berdebu.

Selagi beres-beres, mata saya tertumbuk pada tumpukan folder. Ada empat, warna biru, hitam, pink, dan hijau. Salah satunya berisi sertifikat atau dokumen-dokumen untuk apply beasiswa atau lomba, atau sejenis itu.Adayang menggelitik ketika saya dapati CV mapres, “Hahaha, masa lalu!” gelak saya dalam hati, lalu spontan tangan saya memasukkannya ke tempat yang tidak seharusnya.

Tiba-tiba ada satu karton berwarna pink dan ungu yang cukup mengganggu, dengan empat tempelan putih memenuhi lembaran, serta gambar bunga-bunga hijau di kanan kirinya (jangan dibayangkan). Beberapa tulisan saya tulis dengan spidol merah, sudah tidak terlihat karena tiga tahun yang lalu saya menulis itu. Satu setengah tahun yang lalu tempelan itu selalu terlepas karena lemnya tidak kuat. Maklum, kosan saya cat temboknya gak berkualitas, jadi copot terus. Makanya, saya malas menempel lagi.

Kertas itu membuat saya terpaku cukup lama. Wah, tiga tahun yang lalu ternyata saya punya cita-cita. Satu, masuk surga. Dua, dosen. Tiga, penulis. Empat, pengusaha. Lama-lama saya malah tertawa. Dosen, penulis, dan pengusaha. Muluk amat anak muda. Saya tidak memiliki step khusus untuk menuju ke arah sana, selain tentunya melakukan apa-apa yang saya suka. Tapi dipikir-pikir, ternyata semua hampir menjadi nyata.

Alur menuntun saya sesuai dengan minat, bukan karena ingin menggapai mimpi saya yang saya tempel dulu, bahkan sudah saya lupakan sejak dua tahun yang lalu. Tapi saya bersyukur, ternyata langit menuntun saya tanpa sadar. Jadi penulis, mmh..walaupun belum, tapi lumayan, tulisan saya cukup sering dimuat di media, dan sejak tahun lalu saya jadi punya banyak sahabat di komunitas sastra bentukan bersama. Jadi pengusaha, haha, walau waktu awal kuliah saya rajin berbisnis serampangan, tapi baru setahun yang lalu saya diberi kesempatan untuk mengelola proyek sosial-bisnis secara lebih serius. Jadi dosen???

Kamar tiba-tiba jadi lebih sumpek. Saya mendadak diam, padahal tadinya senyum-senyum lugu. Mimpi itu terkubur selama dua tahun karena saya lebih berminat di bidang jurnalistik. Tapi belakangan, melihat apa yang sudah dilakukan di belakang, dan jejak CV yang ada, barangkali mengabdi untuk almamater lebih bisa diterima. InsyaAllah, banyak jalan menuju Roma.

Setidaknya, kiprah ayah saya sebagai akademisi tergantikan oleh anak pertamanya, atau menantunya??? Haha, boleh deh.