Tidak ada hujan malam itu. Tidak juga ada angin. Tidak ada yang perlu dibicarakan secara melankolik. Hanya untuk meredakan luka paragraf ini ditulis suatu pagi. Mungkin kita harus berhenti bertanya-tanya dan mengalah pada perasaan sendiri. Tapi kenyataannya, bayangan akan kita dulu selalu teringat-terlupa, teringat-terlupa. Kadang terkubur oleh kesibukan, kadang muncul kembali karena kepenatan, kadang muncul dalam keragu-raguan lewat sebuah pertanyaan: apakah kita masih takut untuk saling memunggungi?

Kita tak hendak menjadi Qais dan Laila yang cintanya berakhir tragis dengan kematian, atau Nashr bin Hajaj yang juga mati karena mencintai istri orang lain dan tak berbalas. Tapi sesungguhnya, tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, kata Rumi, karena tangan tak akan bertepuk tanpa tangan yang lain.

Tidak ada hujan malam itu. Tidak juga ada angin. Tidak ada prakata yang memancing kita untuk memulai pembicaraan. Bahkan ketika kita bicara tak saling tatap. Hanya suara roda mobil dan keheningan yang begitu dingin. Menahan untuk sebisa mungkin tak bertanya tentang hal itu. Menahan sebisa mungkin untuk menganggap bahwa tidak terjadi apapun di antara kita. Menahan sesuatu yang tidak wajar rupanya.

Kita memang sudah saling berubah. Tak seperti awal mula. Tidak ada kesepakatan langsung bahwa kita saling mencintai. Dan tidak ada juga kesepakatan langsung untuk kita saling memunggungi. Kita hanya bersepakat untuk bermain dengan segala kemungkinan. Kita bersandar pada apa yang mungkin kekal, mungkin juga tak kekal, kata GM. Kita bersandar pada mungkin, kita bersandar pada angin.

Pada akhirnya kita memilih jalan masing-masing. Kesenangan kita memang sama, selalu kita dipertemukan karena kesenangan. Tapi ternyata konsep hidup kita berbeda, tak bertemu di satu titik. Rasa khawatir kita mungkin berbeda, tapi logika kita sama: bahwa tidak seharusnya bersandar pada ketidakpastian, bahwa tidak seharusnya melulu ada pertanyaan menggelayut, “sampai kapan?”. Ada masanya kita harus mengakui, bahwa kesejatian tak hanya diperoleh dari saling bersandar. Salah satunya harus mengalah. Salah satunya harus memutuskan. Salah satunya harus memilih. Barangkali berakhir dalam sebuah ikatan, atau kata Sapardi, bersitahan terhadap rasa sakit, atau mungkin kita bersepakat untuk saling menjaga dan mengikuti kemana takdir bermuara.

Memang selalu saja alur menuntun kita pelan-pelan. Karena awal maupun akhir tak pernah ada janji. Sama seperti sekarang, jika salah satu, atau kita berdua, masih saling mencintai, kita tak yakin kita bersandar pada apa. Mungkin Tuhan, mungkin juga bukan.

Tapi kita hanya meyakini satu hal, bahwa kita dipertemukan oleh-Nya untuk bisa saling belajar….