Thailand Muslim BoysSuatu hari, sebelum aku mendapat kesempatan untuk datang ke sini, aku selalu berharap agar bisa merasakan bagaimana menjadi muslim di negeri yang mayoritas penduduknya bukan Islam. Pasti akan sangat menantang. Apa rasanya, bagaimana tanggapan penduduk lokal, apakah ada perasaan inferior atau merasa terdiskriminasi? Bisa jadi pengalaman orang berbeda-beda untuk kasus yang satu ini. Bagi yang sekadar berlibur mungkin tidak terlalu bermasalah. Nah, bagaimana jika seorang muslim tinggal (cukup) lama di Negeri Gajah?

Menjadi minoritas memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum kedatanganku kemari, aku sempat khawatir soal makanan halal dan tempat shalat. Benar saja, setiap kali makan di restauran, selalu saja mereka menjual daging babi. Maka tak jarang saat sedang dimasak, bau babi yang khas menyeruak, membuatku ingin muntah.

Aku selalu berpikir, penjual di restauran hanya memiliki satu pisau kan, bagaimana juga kalau minyak gorengnya adalah bekas menggoreng babi, lalu piring, gelas sendok, dan segala hal-hal detail yang membuat ketakutanku menjadi-jadi. Tak jarang juga anjing-anjing berkeliaran di restoran, hampir saja kakiku dijilat kalau aku tidak lari. Sulit sekali mencari restauran halal. Kalaupun ada, itu hanya di pojokan food court bandara atau pasar besar. Di sekitar rumah penduduk, jangan berharap ada. Untuk kasus yang satu ini, tentu saja aku percaya, Allah Maha Pengampun.

Selain makanan, tempat shalat juga menjadi masalah utama. Jika sedang berpergian, mesjid hanya ada di dekat pusat kota paling ramai di Thailand. Alhamdulillah, di kampus Thammasat, tepatnya di Fakultas Liberal Arts (FIB) disediakan ruang ‘muslim prayer room”. Walau ukurannya kira-kira hanya 2×4 meter. Pernah suatu kali ruangan itu dibongkar karena hendak dipindahkan. Aku yang hendak ke sana jadi tiba-tiba lemas. Kata dosen ruangannya dipindah ke lantai enam. Waktu itu aku dan kawanku tak tahu kalau ada lift. Terpaksa kami naik ke lantai enam dengan ngos-ngosan, tapi kami tak temui apapun. Kemudian, begitu turun, kami jumpai ternyata ada lift untuk menuju ke atas. Biasanya hanya dipakai untuk memindahkan barang-barang berat. Akhirnya, aku menjamak shalat di asrama.

Lain lagi jika melihat patung Budha yang ada di mana-mana. Entah mengapa aku selalu gemetar. Mungkin karena belum terbiasa melihat orang-orang bergantian beribadah di depannya, atau menyirami patung dengan air, atau melihat pohon-pohon besar yang dililit banyak kain karena dipercaya mengandung “spirit”. Aku seringkali jadi ingat masa jahiliyah dan tergidik sendiri. Bahkan sejak kejadian aku diganggu jin, aku jadi sadar bahwa aku sedang benar-benar diuji sebagai seorang muslim di negeri mayoritas non-muslim. Bagaimana aku bisa menjelaskan ritual-ritual yang harus dilakukan untuk melindungi diri dari jin?

Kawan-kawanku di sini seringkali bertanya tentang Islam. Poligami, hijab, ritual abcd gunanya untuk apa, dan sebagainya. Kujawab sebisaku. Kadang agak susah karena memakai bahasa Inggris. Banyak term agama yang tak bisa kuuraikan dalam bahasa Inggris, dan sebisa mungkin kucari persamaannya. Kawan-kawanku berpikir, sahalat lima waktu itu sangat banyak. Kemudian, aku harus selalu menahan agar tidak makan atau minum sambil berdiri. Maklum, belajar budaya kadang banyak jalan-jalannya, jadi kalau khilaf, tahu-tahu saja aku makan sambil jalan. Jangan lagi-lagi! Lalu, kawan-kawanku di sini beberapa juga seringkali pergi ke Bar dan bersenang-senang. Lama-lama aku jadi risih.

Selain itu, jika sedang berjalan, kadang beberapa orang memandang aneh terhadap hijab yang aku pakai. Akan menjadi senang luar biasa, ketika kutemui satu dua saudara berhijab di jalanan. Kalau sudah merasa tidak enak, aku jadi sering merindukan suara azan, shalat berjama’ah di mushala, atau muraja’ah al-Qur’an bersama-sama teman-teman yang berjilbab.

Ah yah, salah satu penggalan cerita bagaimana menghadapi benturan budaya kualami dua hari yang lalu. Saat ada festival Songkran.

Khousan Road, 13 April 2011

Festival Songkran di Khousan Road. Sekujur tubuh kami basah dan putih. Sepanjang jalan orang-orang saling melempar air. Bahkan bus pun di lempar air ketika sedang berjalan. Ini tahun baru di Thailand. Semua orang, di setiap spot, kenal atau tidak kenal saling menembak air dengan water gun, dan menempelkan batu kapur yang dicairkan ke pipi orang lain. Bekas kapur itu tidak boleh dihapus sampai hilang sendiri. Itu menyimbolkan perlindungan terhadap roh jahat.

Aku sempat stres sewaktu berkunjung ke Khousan Road, salah satu jalanan paling ramai yang dikunjungi wisatawan asing. Para lelaki seringkali asal menjamah pipiku dan menempelkanku kapur barus cair. Aku tidak tahu kalau ritualnya akan begini. Entah sudah berapa kali aku kecolongan karena tidak melindungi muka. Seorang lelaki bahkan sempat menempelkan kapur itu ke keningku sambil berteriak, “assalamu’alaikum!” lalu ia tertawa-tawa. Berkali-kali juga kulihat para Westerners dan penduduk lokal menari-nari dengan bikini, atau minum bir dengan musik disko. Jalanan padat merayap dengan kumpulan manusia.

“Are you ok, Alfi?” tanya kawanku, Michael, yang sempat dari belakang secara diam-diam menempelkan kapur. “Kau senang kan? Haha”

Aku mendadak agak marah. Kesal setengah mati dengan acara ini. “No, jangan sentuh!” kataku

“Oops, sorry!”

“Aku perlu memberitahukan kalian bahwa aku memiliki prinsip untuk tidak disentuh lelaki. Itu ajaranku”

“Aduh, maaf maaf, aku tidak tahu” katanya. Kawan-kawanku akhirnya tahu. Mereka jadi merasa ikut bersalah.

“Tidak apa-apa, nanti-nanti hati-hati saja” kataku sambil tertawa, “Ini menyenangkan kok” lanjutku agar suasana cair lagi. Menyenangkan untuk belajar sebetulnya, kataku dalam hati.

Sepanjang pulang dari Khousan ke asrama aku hanya bisa berzikir berkali-kali. Ini hari terburukku di Bangkok.