Asrama Thammasat UniversityAllahuakbar. Tidak ada malam paling mengerikan dibandingkan malam tadi. Setelah kemarin malam kawanku diganggu oleh makhluk halus, tadi malam giliranku melihat dan mendengar makhlus gaib saat aku sedang sendirian di kamar. Kau tahu, saat ini perutku sakit karena semalam aku sempat mengalami stress, dan hanya bisa tidur selama dua jam. Sebelum bercerita tentang apa yang menimpaku, baiklah aku akan memulai ceritanya dari kejadian yang dialami kawanku kemarin malam.

Asrama, 12 April 2011

Alarm HP-ku berbunyi tepat pukul lima. Waktu shalat subuh di Thailand memang lebih lambat setengah jam dibandingkan Indonesia. Masih dengan mata sepat aku melihat Rosie Ramirez, kawanku satu kamar, duduk di atas ranjangnya dengan selimut membalut sekujur kaki, tepat di sampingku. Mendadak, dengan bahasa Inggris yang cepat-cepat karena panik, dia bercerita tentang apa yang terjadi semalam.

“Alfi…alfi…! Aku tidak bisa tidur! Tadi malam ada orang berkali-kali mengetuk pintu dengan cepat, sangat cepat. Waktu aku tanya, ini siapa? Dia menjawab dalam bahasa Thailand. Sempat kulihat bayangan muncul dari jendela, tapi aku takut mendekat, tidak berani juga buka pintu! Dia seperti sedang menangis, atau berbisik dengan bahasa Thailand. Aku tak kumengerti. Tapi kemudian dia hilang begitu saja!”

“Hah? Kurasa kau mimpi buruk”

“Sumpah! Sumpah aku 100 persen dalam keadaan sadar! Aku baru akan tidur semalam jam 1”

“O Tuhan, Rosie, jangan menakuti aku. Kau kebanyakan nonton film horor” kataku lalu mendekat dan menggenggam tangannya karena takut

“Demi Tuhan, aku benar-benar sadar. Aku bisa membedakan mana nyata mana mimpi!”

Rosie tampak stres. Dia bolak-balik kamar dengan gerakan tidak jelas. Benar-benar seperti orang kebingungan. Aku juga jadi bingung bagaimana menenangkan karena Rosie adalah seorang agnostik. Dia hanya percaya Tuhan, tapi meninggalkan segala ritual katoliknya.

“Baiklah aku hanya bisa berdoa sesuai keyakinanku. Aku akan shalat dulu” kataku, singkat

Selepas shalat aku membaca surat al-Jin dan ayat kursi. Kukatakan pada Rosie adakah ayat atau surat semisal di Katolik? Pertanyaanku percuma karena Rosie tidak tahu banyak tentang injil.

“Aduuh…aku tak tahu. Aku harap ada penjelasan rasional mengenai ini”

“Yah, mungkin semalam pelajar Thailand yang mengetok pintu, minta bantuan”

“Ayolah, tidak ada pelajar Thailand di lantai ini. Dan kenapa harus kamar kita, dengan ketukan secepat itu?” responnya membuatku makin takut

Beberapa jam kemudian, aku turun ke bawah dan menceritakan apa yang terjadi semalam pada Keol, anak Laos. Thailand dan Laos memiliki kemiripan bahasa, seperti Indonesia dan Malaysia. Kukira ia bisa membantu menjelaskan pengalaman Rosie kepada penjaga. Keol berkata kepadaku,

“Ya Tuhan, ini yang aku takutkan. Hantu. Dalam kultur kami, kami percaya arwah orang yang sudah mati bisa berkeliaran” kata-katanya membuat bulu kudukku merinding. Semuanya berusaha kutepis dalam pikiran, dan meng-counter-nya dengan ajaran Islam. Itu pasti jin.

Keol bilang lagi, bahwa penjaga di sini memang mengiyakan ada makhluk halus. Dia pernah melihatnya, dan sudah banyak orang yang lihat. Tapi katanya tenang saja karena dia hanya ingin menyapa penghuni baru. Karena itu, setiap kali hendak ke tempat baru, kita harus izin agar “spirit” (roh) yang didapat bagus.

Aku langsung naik lift, menuju kamar dan mengabarkan hal ini pada Rosie. Tentu saja dengan jantung yang sedikit berdebar. Lorong kamar tampak cukup gelap, seperti sekolah-sekolah di komik Jepang, tapi hei, kulihat anak-anak perempuan berkumpul di sana mendengarkan Rosie bercerita. Akhirnya, aku ceritakan juga apa yang dikatakan Keol kepadaku. Mulailah semua kawanku panik dan berteriak-teriak dalam kelompok. Entah kenapa, waktu itu aku malah tertawa.

Asrama, 13 April 2011

Setelah menghabiskan waktu di ruang wifi, pukul 21.00 aku ke kemar. Di kamar tak ada siapapun, Rosie memilih untuk tetap facebooking di lantai bawah. Aku mengambil wudhu dan shalat Isya, lalu selama satu jam mengerjakan skripsiku. Entah kenapa, begitu aku hendak tidur, aku agak takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tiba-tiba juga aku rindu shalat berjama’ah dan suara azan di Mesjid UI. Kerinduan pada segala aktivitas keislaman karena di sini aku merasa jenuh. Makanya aku berdoa dan mengaji ekstra malam itu. Tapi sayangnya, kejadian itu tetap terulang lagi, dengan format yang berbeda.

Pukul 23.00, begitu baru tidur badanku seperti ditindih sesuatu. Orang Sunda bilang namanya eureup-eureup. Waktu itu aku tidak bisa bangun, apalagi berteriak. Kejadian ini sering aku alami di Indonesia, tapi hanya ketika aku benar-benar kelelahan. Tentu aku tidak pernah mengetahui ada apa di balik itu. Tapi, malam tadi aku bisa membaca itu semua. Pikiranku kala itu sadar, tapi aku tak bisa bangun, mataku setengah terbuka. Aku jelas mendengar seorang perempuan berbicara bahasa Thailand, dan tiba-tiba saja rambut putih muncul di depan mukaku. Dengan sekuat tenaga kubaca ayat kursi, badanku jadi panas. Masih belum bangun juga aku berteriak takbir, hingga akhirnya aku terbangun dengan badan bergetar dan tangan sangat dingin. Aku mengambil qur’an dan langsung turun ke bawah. Terbata-bata aku bercerita kepada kawan-kawanku karena panik.

Keol tak ada di sana, aku dan kawan-kawan akhirnya berusaha menceritakan kejadian ini kepada beberapa mahasiswa Thailand. Mereka tidak mengerti bahasa Inggris. Terpaksa aku disuruh pakai google translate. Lucu kupikir. Baru saja mahasiswa Thailand membaca ketikanku di google translate, tahu-tahu saja Keol datang dengan rambut kusut. Michael terpaksa membangunkannya agar bisa menjadi translator kami. Kuceritakan semuanya pada Keol, lalu ia menerjemahkannya kepada para petugas dan mahasiswa. Ternyata benar, makhluk itu berambut putih dan seringkali dijumpai para mahasiswa di sini. Aku jadi makin takut.

“Tapi tenang, kita hanya perlu menghormati kultur di sini. Semua di sini kan Budha, makanya sebelum masuk kamar, mohon izin dulu, bilang padanya, “saya ke sini untuk belajar. Saya seorang muslim, dan la la la la…”

Malam ini benar-benar horor. Kawan-kawanku tambah panik begitu Keol bilang setiap kita akan didatangi. Semuanya mendadak lemas. Aku dan Rosie saling pandang. Ini seperti film-film horror Thailand.

“Sebetulnya aku sudah didatangi” kata Keol

“Hah, kenapa kau tak bilang?”

“Aku khawatir kalian takut. Waktu awal aku datang kemari, aku menyalakan lampu, tapi tiba-tiba mati begitu saja. Lalu aku minta izin, dan akhirnya nyala lagi”

Semua yang mendengar ketakutan. Ditambah Michael yang bercerita kalau minggu lalu dan dua hari yang lalu ia mendengar pintunya diketuk, tapi begitu dibuka tak ada siapa-siapa. Juga Panji yang mendengar suara aneh subuh-subuh.

“I’m preparing for this. Ok” kata Clona dengan suara lirih. Jane juga berkali-kali mengelus bahuku menenangkan.

Selesai bercakap, kami kembali ke kamar. Begitu membuka pintu, aku dan Rosie meminta izin dalam bahasa masing-masing. Aku mau tak mau harus menghormati budaya mereka.

“Salam. Saya mohon izin. Saya orang asing yang sedang belajar di sini. Saya tidak akan mengganggu, jadi tolong izinkan saya tidur tenang. Saya seorang muslim, mari beraktivitas sesuai keyakinan masing-masing”

 

Masih dalam keadaan shock aku mencoba tidur. Tidak bisa. Aku takut kalau aku terlelap ia datang lagi dan menindih badanku. Rosie kulihat juga tampak gelisah. Kuingat Panji sempat mengatakan, “ambil air wudhu sebelum tidur”. Kuputuskan untuk shalat tahajud dulu.

“Rosie, I should take an additional prayer first. My neck is hard” kataku dengan badan gemetaran. Baru kali ini aku merasa sebegitu gemetarnya. Aku juga waktu itu merasa kedinginan, jantungku berdebar kencang. Rasanya ingin sekali memeluk ibuku yang jauh di sana. Sungguh aku takut. HCL-ku meningkat. Aku mual-mual karena magh-ku kambuh.

Hatiku agak tenang setelah aku shalat, walaupun berkali-kali aku terbangun karena gelisah, ingat segala dosa. Akhirnya kugenggam juga al-Qur’an saat tidur. Entah pukul berapa akhirnya aku bisa tidur. Mungkin sekitar pukul tiga.

Aku hanya bisa tidur dua jam rupanya. Tapi entah mengapa baru kali itu mataku sesegar ini. Mungkin karena aku banyak berdo’a semalam. Hanya saja, leherku masih terasa tegang. Selepas shalat aku mulai mengaji. Aku waktu itu benar-benar ingin menangis. Aku rindu keluargaku (*)