Oleh Toto ST Radik

i

Sastrawan juga manusia.

Dia mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Sekali waktu dia membutuhkan kesendirian, menikmati dan menghikmati kesendirian dan kediriannya. Kali lain dia merindukan kebersamaan, menemui, bersilaturahmi, dan hadir bersama seseorang, bahkan banyak orang. Kadang begitu rela (atau terpaksa) mengubah dirinya menjadi orang lain, berlari (atau melarikan diri) ke tengah massa. Kadang begitu jumawa (atau terpaksa) mengubah orang lain dan atau lingkungannya untuk menjadi (seperti) dirinya atau sesuai keinginan dan kepentingannya.

Demikianlah manusia hidup dalam paradoks, melakukan perjalanan bolak-balik, pergi-pulang, yang tak kunjung selesai antara kesendirian dan kebersamaan, individualitas dan kolektivitas, beserta seluruh pernak-perniknya, juga resiko-resikonya. Lantas apakah kesendirian dan kebersamaan, individualitas dan kolektivitas, itu merupakan dua hal yang hitam-putih? Dua dunia yang bertentangan dan berseberangan?

Sesungguhnya dua hal itu sama sekali tidak perlu dipertentangkan secara mutlak dalam posisi yang dikotomis-kategoristis, melainkan yang penting ialah mengusahakan keseimbangan antara keduanya. Ketegangan dalam mengusahakan keseimbangan antara kedua hal itulah yang membuat hidup jadi menarik untuk dijalani, bukan?

ii

Kesusastraan modern Indonesia lahir dengan kehendak besar untuk menuju dan mengukuhkan literacy (keberaksaraan) yang kerap diperlawankan dengan orality (kelisanan). Literacy adalah “dunia buku” atau “dunia membaca” (mata), sedangkan orality adalah “dunia membacakan/mendengarkan” (mulut-kuping). Literacy konon menghendaki kesendirian yang teguh dan sepi, memisahkan atau mengasingkan diri, sedangkan orality konon menghendaki kebersamaan yang guyub dan ramai, menyatukan atau menggabungkan diri.

Uniknya, kesusastraan modern Indonesia yang menghendaki state of mind keberaksaraan juga ditandai dengan lahirnya begitu banyak komunitas-komunitas sastra yang menghidupkan keguyuban, membangun silaturahmi dan kehangatan hubungan sosial antaranggota komunitas maupun antara satu komunitas dengan komunitas lain yang justru berlari ke state of mind kelisanan. Seperti ada dua arah yang bersimpangan di situ.

Begitu ruahnya komunitas-komunitas sastra, terutama pada tahun 1990-an (yang anggotanya bisa siapa saja semisal buruh, pedagang, kuli, sopir angkot, ibu rumah tangga, pelacur, santri, anak jalanan, pengamen, dan berbagai kaum lain yang termarginalkan dan teralienasikan oleh pembangunan maupun oleh tradisi kesusastraan modern Indonesia yang rigorous) di berbagai daerah di seantero Nusantara dengan berbagai kegiatan penerbitan mandiri dan pembacaan (terutama puisi), mengundang banyak kecemasan para sastrawan yang mencomooh sekaligus menghardik yang bukan sastrawan untuk tidak ambil bagian.

Komunitas sastra dituding sebagai satu satuan massa yang cenderung menggelapkan individualisme dan menggantikannya dengan kolektivisme, cenderung melambungkan segelintir orang di dalamnya, dan cenderung menjadi alat legitimasi atau pentasbihan kesastrawanan. Oleh karenanya, komunitas sastra harus dicurigai habis-habisan. Sikap kolektif yang mengikat diri harus ditolak dan diberangus karena kerja sastra merupakan kerja individual yang sangat keras dalam waktu yang tidak singkat.

Lantas matikah komunitas-komunitas sastra itu? Ada komunitas yang mati beserta anggota-anggotanya pula. Ada yang anggotanya berguguran tapi komunitasnya terus hidup dan memperoleh anggota-anggota baru. Ada komunitasnya yang mati tapi anggota-anggotanya membentuk komunitas-komunitas baru.

iii

Bermunculnya komunitas-komunitas sastra dari tahun ke tahun baik di kota maupun di kampung-kampung, sesungguhnya merupakan estafet panjang di dalam sejarah sastra modern Indonesia. Sebutlah misalnya para sastrawan Balai Pustaka, Pujangga Baru, juga generasi Gelanggang, Kisah, Sastra, Horison, dan Kalam yang pada dasarnya merupakan komunitas sastra yang dibentuk oleh lingkungan pergaulan sastra penerbitan majalah-majalah tersebut. Dengan kata lain dapatlah dikatakan, nyaris semua sastrawan Indonesia pernah terlibat di dalam komunitas sastra. Dan komunitas sastra merupakan sesuatu yang inherent dan niscaya di situ.

Tentu saja, kerja sastra tetaplah kerja individual yang sangat keras, melelahkan, dan membutuhkan waktu panjang. Karena hanya melalui karya sastra yang baiklah (yang lahir dari tradisi literacy yang sepi, dari pengerahan pemikiran dan permenungan bertahun-tahun, dari studi yang tak kunjung henti, dari semadi yang khusyuk) yang mentasbihkan seseorang menjadi sastrawan. Komunitas sastra selaiknya tempat bertemu muka untuk melakukan perjumpaan dan membicarakan hasil pikiran dan renungan dengan/bersama orang lain. Sebuah lingkungan yang hangat dan kondusif untuk saling memerhatikan dan merawat kemungkinan-kemungkinan kreatif.

Dari proses semacam itulah, karya sastra pun lahir, berbagai-bagai dan mekar bersama. Untuk selanjutnya berjumpa dengan pembaca yang menjadi penulis dan penulis yang menjadi pembaca. Mereka yang emoh menjalani proses itu, berada atau tidak berada dalam komunitas, tentu bakal mati iseng sendiri.

iv

Sastrawan juga manusia.

Dia, kesusastraan, sebagaimana halnya manusia, senantiasa hidup dalam dua dunia yang paradoksal: berjalan bolak-balik, pergi-pulang antara kesendirian dan kebersamaan, individualitas dan kolektivitas, literacy dan orality.

Ah, gitu aja kok repot!

***

Kampung Penancangan, Serang, Desember 2005.

Toto ST Radik lahir di desa Singarajan, Serang, 30 Juni 1965. Menulis puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di berbagai media massa. Sejumlah karyanya terhimpun dalam antologi Jejak Tiga (Serang, 1988), Ode Kampung (Serang, 1995), Negeri Bayang-bayang (Surabaya, 1996), Dari Bumi Lada (Lampung, 1996), Cermin Alam (Bandung, 1996), Antologi Puisi Indonesia 1997 (Bandung, 1997), Bebegig (Serang, 1998), Resonansi Indonesia (Tangerang, 2000), Datang Dari Masa Depan (Tasikmalaya, 2000), Puisi (Jakarta, 2001), Sajadah Kata (Bandung, 2001), Konser Ujung Pulau (Lampung, 2002), Mahaduka Aceh (Jakarta, 2005), Kacamata Sidik (Jakarta, 2004), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Jakarta, 2005), dan Dongeng Sebelum Tidur (Jakarta, 2005). Kumpulan puisi tunggalnya adalah Mencari dan Kehilangan (Serang,1996), Indonesia Setengah Tiang (Tangerang, 1999), dan Jus Tomat Rasa Pedas (Serang, 2003). Pada 1999 mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor, Malaysia. Tahun 2000 dan 2001 diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membacakan puisi-puisinya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Sempat tinggal di Banten Selatan, kini menetap di Penancangan, Serang. Selain memimpin Sanggar Sastra Serang (S3) dan mengelola Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Serang bekerjasama dengan majalah sastra Horison, juga bergiat di komunitas Rumah Dunia, Serang.

***

*) Makalah ini dibacakan pada “Ode Kampung”, 4 februari 2006, dalam topik “Komunitas Sastra atau Sastra Komunitas” di Rumah Dunia.