16 April 2011, saat hendak tidur

“Kau tahu, Alfi, apa yang malam ini Jack, Dei, dan Arai lakukan di kamar?”

“Tidak. Kenapa, Laura?”

“Mereka minum-minum. Jack bilang padaku, Dei baru saja diputuskan pacarnya”

“Ooh…too bad”

“Dia sekarang sedang mengadakan pesta kecil. Aku jadi teringat, dulu ada seorang lelaki yang minum-minum karena aku memilih untuk mengakhiri hubungan kami”

“Err…aku tak tahu harus menanggapi apa, Laura”

“Yah, sudahlah…lupakan. Tapi aku jadi kasihan dengan Dei”

“Mungkin kita bisa menghiburnya besok”

“Kau benar….”

 

17 April 2011, saat makan siang

“Kau dengar cerita tentang Dei, Alfi?”

“Semalam itukah?”

“Yah, Jack bilang padaku kalau Dei baru saja diputuskan pacarnya. Semalam dia minum-minum”

“ummh…Lauran sudah cerita padaku”

“Sepertinya aku juga akan memutuskan pacarku”

“Perempuan yang kemarin dulu kau ceritakan?”

“Yah, dia terlalu berlebihan”

“Apa maksudmu, Mike?”

“Kemarin kita ikut fetival air itu bukan? Bagaimana aku bisa membalas pesannya cepat, sementara HP-ku kutrauh di tas. Kalau aku keluarkan yah basah”

“ooh, lalu?”

“Yah, dia marah-marah. Bahkan hingga menyangka aku punya pacar lagi. Padahal kemarin aku hanya bilang, perempuan di sini cantik2 dengan rok mini. Aku hanya becanda. Gila kan”

“Mungkin dia terlalu posesif”

“Aku sudah menjelaskan perihal tidak memberi kabarnya aku. HP-ku kemarin juga lowbat. Sekarang dia mengganti status FB-nya dengan ‘complicated’. Ah, perempuaaan”

“Aku paham itu”

“Aku sayang dia sungguh. SUNGGUH. Tapi kalau urusan begitu saja marah, ya sudah, aku akan cuek saja. Biarkan saja aku putuskan. Kau mengerti kan bagaimana lelaki”

“Haha, ya ya ya. Dan harusnya kau mengerti juga bagaimana perempuan”

“Yaaah, kadang aku benci dengan sikap perempuan. Hal sepele saja dianggap besar”

“Yang penting dikomunikasikan dengan baik. Tapi kurasa menikah saja lebih baik, hahaha”

“Hahaha, apa maksudmu?”

“Kalau kau sudah jadi suami dan ayah, mungkin ceritanya akan berbeda, Mike”

“Maksudnya?”

“Yah, karena kau sekarang belum tahu tanggung jawab hakiki itu seperti apa?”

“Hahaha. Ini takdir Tuhan. Kalau putus ya sudah”

“Terserah lah, haha. Ternyata tidak selamanya jarak memperkuat cinta”

“Yeah…”