Royal Grand Palace, BangkokMatahari sangat terik. Musim panas membuat kepalaku begitu pusing. Setiap kali hendak mencerna kuliah, rasa-rasanya ingin sekali mengganjal mata ini dengan korek api.Ngantuknya….Udara begitu lembab dan panas di kota ini. Tidak sekali dua kali mataku berair, pedih karena betul-betul menyengat. Kulayangkan pandanganku ke sekitar kota, saat berjalan dari 7/11 [1] ke asrama.

Hei, ini Bangkok, sebuah kota yang tidak pernah kubayangkan akan betul-betul aku singgahi. Sungguh tidak terpikirkan bahwa negara di luar Indonesia yang kali pertama aku kunjungi adalah Negeri Gajah, Negeri Seribu Pagoda. Banyak kawan yang mempertanyakan bagaimana aku bisa sampai ke mari. Baiklah, aku akan memulai cerita ini dari sebuah bus bernama DAMRI.

 

****

25 Februari, 2011

“Kapan ya kita bisa ke luar negeri, Jo” kataku, kepada Ijo, kawanku di ILDP [2]. Saat itu aku, Ijo, dan beberapa kawan lain hendak ke Bandara Soeta, melepas Fik, kawan kami yang hendak pergi ke Amerika Serikat, mendapat beasiswa shortcourse IIEF.

“Yah ni. Pengen ke Jepang. Tapi tenang, ada masanya kok” jawabnya, ringan Beberapa menit kami sempat bergurau tentang ini itu, sambil sesekali melihat jendela bus. Memandang kehidupan Jakarta yang kadang-kadang, ingin sekali, aku tinggalkan jauh. Begitu jauh. Handphoneku berdering. Dari Mahalum. Ibu Irma, seorang dosen yang membersamai kami saat kompetisi mapres fakultas.

“Alfi, lagi di kampus?”

“Wah, gak, Bu, mau ke Tangerang”

“Mmh…gini, ada tawaran mengikuti Asian Emporium Course di Thammasat University. Gratis. Tanpa tes. Biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung dari sana”

“Eh? Itu di mana yah?”

“Mmh..kayaknya sih Filipina, acara dari tanggal bla bla bla bla”

“Waaah, boleh, boleh, Bu” responku euforia. Sebetulnya, tidak begitu terdengar saat ia mengatakan lamanya aku di sana.

“Ya udah, Alfi aja yah, butuh cepat nih namanya. Oh yah, ada program exchange juga ke NUS, tapi tes. Saya kirim email yah”

“Sip-sip..”

Entah mengapa, saat itu aku tidak bertanya banyak. Spontan mengiyakan karena aku terlalu senang. Aku langsung mengatakan hal ini kepada Ijo. Sejenak aku masih tidak percaya. Apa yah ada program yang betul-betul free. Ijo hanya senyum-senyum. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Kekhawatiran antara iya atau tidak, atau hanya sekadar tawaran yang tidak jelas kepastian alurnya.

Akhirnya, kupikir diam dulu lebih baik, sampai aku betul-betul lihat surat undangan resmi dan detail-detail lain. Aku hubungi Bu Irma lagi, bertanya lebih detail. Ternyata harus sebulan lebih aku di sana. Mendadak pikiranku kacau, aku masih mengambil 11 SKS, dua mata kuliah, satu skripsi, dan amanah organisasi. Masak ya, aku tinggalkan itu semua.

Saat sampai di bandara untuk menunggu Fik, aku memilih tutup mulut dulu. Tapi karena ingin lebih tahu banyak tentang Filipina, akhirnya aku bertanya juga kepada Adhul dan Ika, adakah yang pernah ke sana, atau barangkali pernah mendengar program itu. Pertanyaanku tentu saja mencurigakan, hingga akhirnya kukatakan juga ada sebuah tawaran ke sana. Spontan kawan-kawanku, yang sudah pernah ke luar negeri itu menegaskan, “Ambil aja udah! Latihan buat ke Amerika nanti, hehe. Lagian lu gak perlu capek-capek fundraising kayak orang-orang. Kapan lagi bisa kayak gitu. Kayaknya gue tahu deh ini program apaan. Fauzan HI dulu ke Filipin juga. Tapi dia bukan cuma di kotanya, ke desa-desa juga gitu” respon Adhul

“Gue kalau jadi lu gue ambil deh. Sebulan lebih gitu di sana” respon Ika, yang sudah pernah ke Thailand. Mendadak perasaanku campur aduk. Kukatakan pada mereka agar tidak perlu berwacana dulu. Karena aku belum melihat detail-detailnya.

Esok harinya, ketua program studiku mengirimku SMS. Kata beliau, ada surat undangan ke Thailand. Hei, ternyata Thammasat University bukan di Filipina, tapi di Thailand. Harusnya program ini diikuti oleh mapres juara 1, namun karena ia masih menunggu beasiswa ke Prancis dan tidak begitu tertarik dengan studi ASEAN, akhirnya ia menyerahkannya padaku.

Kabar ini tentu menyenangkan buatku karena aku memang berminat dengan cultural studies dan hubungan internasional. Setelah repot tanya sana-sini, mengurus ini itu, aku bisa sampai di Bangkok, bersama tiga mahasiswa Ilmu Politik UI 08, HI UGM 08, dan Sejarah UGM 06. Ketiganya lelaki.

Ah ya, akhirnya, tidak ada lagi yang akan bertanya, “Adiknya di Amerika, kakaknya kapan?” Kapan aja boleee ^^ Tentu saja ada beberapa hal yang harus aku korbankan, lebih tepatnya, menggantinya dengan pengalaman yang tidak semua orang bisa mengikutinya. Beberapa amanah organisasi aku delegasikan, buku-buku skripsi aku bawa ke sini. Aku juga mendapat dispensasi dua mata kuliah.

Di sini aku belajar banyak, tentang politik, sosial, ekonomi, budaya, bersama teman-teman dari lima negara lain (khusus FIB dan FISIP): Filipina, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Aku tidak tahu mengapa Malaysia, Singapura, Brunei, dan Myanmar tidak ikut program ini. Padahal tahun lalu mereka ada. Sudahlah, mungkin lain kali aku akan bertemu mereka di tempat lain.

Alhamdulillah, kepergianku secara teknis tak ada kendala yang berarti. Hanya perasaan bersalah meninggalkan banyak hal di Tanah Air; keluarga, organisasi, komunitas, dan kawan-kawan. Aku tentu akan merindukan mereka.

****

Sesampainya di asrama, masih begitu panas, aku mulai menyalakan AC. Beberapa menit selepas istirahat aku langsung mengambil air wudhu. Ah, empat puluh hari begini aku pasti akan merindukan suara azan dan shalat berjamaah (*)

Catatan:

1] 7/11: minimarket yang sangat populer di Thailand. Di Indonesia hanya ada 1, di Jakarta. Alfamart lebih terkenal sepertinya.

2] ILDP: kepanjangan dari Indonesia Leadership Development Program. Salah satu programnya adalah pengembangan diri para MAPRES UI agar bisa berkontribusi lebih.