Hai teman, tentu saja kalian penasaran dengan fenomena yang satu ini. Entahlah mengapa, setiap kali mendengar kata Thailand, yang terbayang di benak kita adalah para ladyboy (banci). Agaknya ini memang sudah menjadi trend di negara ini. Faktanya saja, beberapa pelajar Thailand yang menjadi guide kami, lagaknya sangat melambai. Ada yang berpenampilan layaknya lelaki pada umumnya (tapi dengan lagak yang menggelikan), ada yang agak keperempuanan, ada juga yang hobi sekali make-up-an. Bahkan, kudengar, 6 dari 10 lelaki di Sastra Inggris universitas Thammasat berlagak seperti itu. Aw aw aw….

 

Sewaktu hendak pergi, salah seorang temanku, yang juga delegasi Indonesia, dipesankan oleh kawannya agar jangan berganti kelamin sepulang dari sini (O oo..). Beberapa hari sebelum pergi pun, kawanku yang sudah pernah bertandang ke sana, berpesan, “kalau sudah sampai bandara, jangan kaget kalau ada dua cowok yang bergandengan tangan. Bersikaplah biasa saja, jangan menyinggung”

 

Di bandara memang aku tak menemui apapun, sampai akhirnya aku bertemu para pelajar Thailand, bulu kudukku langsung berdiri. Mungkin karena aku belum terbiasa melihat pemandangan yang begitu menjamur ini. Di sebuah minimarket yang terkenal di Thailand, yaitu 7/11 (baca: seven eleven), kasirnya adalah seorang waria, dengan rambut panjang dikuncir, rahang keras dan make up membalut wajah.

Yang menarik adalah sewaktu kami study tour ke sebuah temple, seorang pelajar Thailand mengobrol dengan pelajar lainnya.

 

“Call me ‘Sway’…” kata si X

“No, you are ‘ret’” sergah satunya

Aku yang memperhatikan mereka tampak senyam-senyum, lalu ikut nimbrung

“Does sway mean handsome?” tanyaku

“It means beautiful” responnya dengan gaya melambai

Sungguh aku ingin tertawa. Tapi tentu saja aku tahan agar tidak menyinggung mereka.

“No, she’s ‘ret’. Ret is bitch”

“Oops…” aku sontak membelalakkan mata, “Well, he, she…ummh…X likes to be called ‘she’?” tanyaku bingung.

“Yes, ‘she’ is better”

“How about you, how to call, what do you like the most “she or he?”

“between”

“Well…ok” responku, lagi-lagi menahan tawa

 

Saat kuperhatikan mereka berfoto, gayanya tampak menggelikan. Mereka juga sekali-kali kuperhatikan saling memeluk. Aku tentu tersenyum geli. Tapi luar biasanya, mereka sangat baik. Kurasa perasaannya lebih halus dari pada pelajar perempuan. Hobi mengajak ngobrol, mengantar ke mana-mana, dan memberikan pelayanan terbaik. Katanya, “I want you to be impressed”. Rasanya aku mesti berhati-hati, karena salah seorang di antara mereka hobi sekali tepok-tepok tangan dan bahuku saat mengobrol. Aduh!

 

Dalam ajaran Budha, lelaki dan perempuan memiliki unequal status, tapi entahlah mengapa di Thailand hal itu tampaknya tidak kutemukan. Sepertinya memang sudah menjadi “biasa saja”. Tempat prostitusi khusus gay, para ladyboy yang bisa jauh lebih cantik daripada perempuan pada umumnya, hingga yang beraktivitas apa adanya tanpa perlu didiskriminasi.

 

Lain dengan yang terjadi di Indonesia, sepertinya fenomena ini akan terus menimbulkan kontroversi yang tak kunjung usai. Nilai di sini dan di Indonesia tentu saja berbeda. Bagaimana dengan Anda? (*)