AEC merupakan program shortcourse, khusus mahasiswa Asia Tenggara, yang diadakan secara bergantian setiap tahunnya di negara-negara ASEAN. Kegiatan yang berlangsung selama 40 hari ini disponsori oleh Southeast Asian Regional Exchange Program (SEASREP) Foundation yang berkedudukan di Manila, Filipina.

 

Tahun ini, Thammasat University, yang berlokasi di pusat kota Bangkok, Thailand, mendapat kesempatan untuk menjadi Tuan Rumah bagi 19 delegasi dari berbagai negara di Asia Tenggara, yaitu Thailand (4 mahasiswanya berasal dari Thammasat University), Laos (2 dari National University of Laos), Indonesia (2 dari Universitas Indonesia dan 2 lainnya dari Universitas Gajah Mada), Filipina (4 dari University of the Philipines), Kamboja (2 dari Royal University of Phnom Penh), dan Vietnam (3). Tahun ini, koordinator utama AEC adalah Dulyapak Preecharushh, dosen studi Asia Tenggara, Faculty of Liberal Arts, Thammasat University.

 

Pada intinya, AEC pada tahun ini memperkenalkan ASEAN kepada para peserta, mulai dari aspek geografis, historis, politis, ekonomi, hingga sosio-kultural. Namun demikian, peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut hanya berasal dari program studi ilmu sosial-politik dan humaniora. Kegiatan AEC 2011 terdiri dari perkuliahan di kelas yang membahas tentang isu-isu kontemporer di Asia Tenggara, seperti permasalahan geopolitik dan agama yang seringkali menimbulkan konflik, gap antarnegara, pelaksanaan HAM di negara-negara Asia Tenggara, serta isu-isu lokal di Thailand.

 

Secara teknis, kuliah berlangsung setiap Senin-Jum’at selama dua jam. Menariknya, mahasiswa yang mengikuti program mendapatkan 3 SKS sebagai mata kuliah tambahan. Beberapa tokoh ternama di Thailand dihadirkan untuk menjelaskan isu-isu kontemporer. Dr.Pitch, pemimpin redaksi surat kabar terkenal di Thailand, misalnya, menerangkan bagaimana peran media dalam menampilkan berita-berita politik, terutama media internet. Beliau juga secara interaktif mengajak para peserta untuk mengenalkan situs-situs jejaring sosial yang terkenal di negara masing-masing. Selain itu, ada juga salah seorang dosen yang menjelaskan bagaimana Asia Tenggara selama ini dilihat dari kacamata barat, mulai dari awal kemunculannya pascaperang dunia II, hingga perkembangannya sebagai area studi. Di akhir program, Benedict Anderson, seorang pakar Asia Tenggara, sekaligus penulis buku terkenal, “Imagined Community” dihadirkan untuk menjelaskan bagaimana Asia Tenggara terbentuk dalam sejarahnya sebagai nation-state.

 

Lebih jauh, setiap minggunya juga pogram ini menyelenggarakan fieldtrip untuk memperkenalkan kondisi sosial dan budaya di Thailand secara khusus, serta ASEAN secara umum. Setidaknya, ada lima fieldtrip yang diselenggarakan AEC 2011, yaitu Bangkok Old City (Rattanakosin), Visiting National Museum, Bangkok China Town Tour, Ayutthaya, dan Thai Tourism, seperti Pattaya-Cholburi-Rayong-Chantaburi. Fieldtrip ini didampingi oleh seorang dosen yang mengetahui seluk beluk budaya di Thailand. Tour yang diselenggarakan merupakan bagian dari studi, bukan sekadar rekreasi.

 

Namun demikian, dii luar program, para peserta juga dapat secara inisiatif mengunjungi berbagai tempat menarik di Thailand. Di sinilah mereka dapat saling mengenal dan belajar satu sama lain, baik dalam aspek budaya, ekonomi, sosial-politik, hingga hal-hal yang tidak biasa ada di negara masing-masing. Program ini merupakan program yang sarat manfaat, baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Selain memberikan pemahaman yang lebih terhadap dinamika di ASEAN, program ini juga turut menjembatani perbedaan atau gap antarnegara. Bagi penulis, pesan kebersamaan dalam keberagaman di negara-negara Asia Tenggara dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai.

 

Alfi Syahriyani

Program Studi Inggris UI 2007

Peserta Asian Emporim Course 2011

*) tulisan ini mengikuti alur laporan tahun lalu dari mahasiswa UGM😀