Setelah sebulan lebih membersamai kawan-kawan dari negara-negara ASEAN, akhirnya gue dapet satu kesimpulan: bahwa ternyata tertawa itu adalah bahasa universal. Tadinya gue sangka, bahasa Inggris membuat ekspresi gurau gue berkurang karena jokes style masing-masing negara berbeda. Sebenarnya gak juga, hanya memang kurang gereget aja karena gak pake bahasa slang sendiri.

Itulah kenapa, ketika gue merasa tiba-tiba garing, membersamai kawan-kawan Indonesia dengan local jokesadalah kesenangan tersendiri. Gue, satu-satunya perempuan Indonesia, mau gak mau harus membersamai tiga orang lelaki Indonesia yang SUBHANALLAH sekali (KAPITAL DAN BOLD)

Rizqan dan Vando: Tukang Bully.

Harus diakui memang, kalau orang Indonesia–kata trio kwek-kwek–“ramah-ramah”. Kalau dipikir-pikir, dari sekian banyak anak yang ikut program, peserta yang paling sering mencairkan suasana adalah orang Indonesia. Bagi mereka, orang-orang Indonesia memiliki komunikasi yang bagus. Katanya sih banyak omong, senang becanda, dan buat orang ketawa (?!) –> berdasarkan survei di tempat. Menurut gue sih tergantung orangnya. Tapi buat konteks sekarang, di-iyahin aja deh biar cepet.

Nah, karena itulah, setertawanya gue membersamai kawan-kawan dari negara lain, again, harus diakui kalau tak ada yang lebih berharga dibandingkan memanfaatkan waktu luang bersama teman-teman Indonesia. Maklum, dikitan, jadi ikatan pertemanannya lebih erat walau sebulan. Sepihak banget gue! haha. Apalagi kalau bareng dua orang lelaki itu, sebut saja namanya Rizqan dan Vando (nama sebenarnya-pen)

Namanya dua lawan satu, sebagai seorang perempuan, entah kenapa gue selalu merasa tertindas. Gue seringkali “nangis ketawa” gara-gara dua orang itu. Dua orang gila yang saat ini banyak membantu gue biar gak homesick karena ingat tanah air. ( langsung hormat bendera)

Orang Pertama namanya Muhammad Rizqan Adhima. Ngakunya sih pengen jadi bupati Garut. Anak Ilmu Politik 08 UI ini pas di pesawat terlihat pendiam. Pas udah kenal, gue jadi pengen jedotin pala di tembok. Usut punya usut, dia diam waktu itu karena sakit perut. Gak disangka-sangka, bagi gue, Rizqan adalah orang yang high imagination, lucu, spontan, supel, cuek, positive thinker, dan kritis. Awalnya dia sering nyatet list embarassing moment gue di notenya, tapi lama-lama bosen tuh dia. Hobi gambar kalau di kelas, semacam mind mapping; senang cerita, apalagi kalau ada orang yang menderita, bisa jadi bahan objekin dia; dan tentu aja punya wawasan yang luas tentang film, musik, ampe sastra (diam-diam suka menulis puisi ternyata, ihiy). Hobi bawa kamera SLR ke mana-mana, dan entah kenapa gue selalu diminta jadi modelnya -________-‘)v.

Orang Kedua namanya Ravando. Cuma nama depan doank. Nama belakangnya terbawa bersama puing-puing sejarah zaman orde baru. (bingung kan lo! haha). Anak Sejarah UGM 06. Dia orang paling jahil sedunia. Walau skripsi ketunda setaun, haha, tapi ternyata track record prestasinya keren juga, pernah dua bulan di London, sering nulis di media ‘Bola’, dan juara penelitian juga (haha, sial gue harus mengakui). Hobinya ambil poto anak-anak pas tidur di bus kalau lagi tour. Nyolong sendal diam-diam (konspirasi bersama Rizqan), dan pencatat fakta tentang ‘gue’ sepanjang program. Gue bingung kenapa nih dua cowok hobi banget nge-cakkin gue, mentang-mentang gak ada objek lain. Obrolan gue sepanjang jalan ke kampus bareng Ravando, gak akan gue lupa seumur hidup.

“Baju lu kayak ibu-ibu komplek mau olahraga. Itu celana panjangnya kayak mau senam aja lu”

“Huahaha, kok lu tahu, ini emang biasa dipake ibu gue buat maen voli. Dia di komplek jadi bintang gitu, hahaha”

“Wah, berarti syarat jadi mantu emak lu harus bisa maen voli donk, haha”

“Siii***8%%^!”

Wacana demikian muncul karena adanya curcol2an romansa di kampus. Suatu hari, si Rizqan sambil ketawa-ketawa nyeletuk tentang ta’aruf, ternyata dia tahu gimana anak-anak model gue berkenalan. Nah, makin menjadi-jadi aja tuh anak ngata-ngatain gue.

“Eh, lu tahu kan, Do, teman-teman dia tuh pakenya kirim2an proposal gitu. Nanti di proposal ditulis, visi misi, terus syarat satu: “harus bisa main voli”, wkwkwk.

“Maen catur juga, Qan, hahaha. Terus sekalian anggaran berapa…buatin aja yuk”

Sejak saat itulah, buat ngecengin gue, Vando dan Rizqan suka bilang tentang proposal. Tiap belanja bareng, nyinggung voli, tiap makan, nyinggung voli, tiap ketemu, nyinggung voli. Sumpah PENTING banget. Jadi pengen ngakak gue.

Apalagi beberapa hari lalu, ada anak S2 Thai yang maksa banget kenalan sama gue dan add FB-nya. Ngakunya kelahiran 87 (padahal 78 kayaknya. Boros banget tuh muka, haha). Lengkap sudah gue ditindas tiap hari sama si Rizqan dan Vando. Yaah, gue ketawa-ketawa aja sih. Untung doi gak bisa main voli. Hahaha

Kenapa gue nulis ini? Karena baru aja kami bertiga ngeliatin video waktu lagi pasrah karena duit abis saat belanja di Chatuchak, plus liatin FB orang2 yang menarik untuk diketawain. Semoga kalian taubat.Tapi walau begitu, dua orang teman gue itu gak tergantikan. Empat hari lagi kami pulang. Kayaknya gue bakal keilangan tuh orang2 gila. Terimakasih telah mengisi hidup gue sebulan setengah ini.

Btw, kami kurang dekat sama satu anak lagi, ceritanya panjang nih, hehe. Kapan2 aja.

-bersambung-

(sedang kangen2nya sama local jokes teman2 gue di Indonesia)