NF, 12 Februari 2011, di kelas lelaki

 

Mereka, selalu saja membuat saya geleng-geleng kepala setiap pekannya. Entah tiba-tiba saja melempar sendal, atau tahu-tahu saja membuat keributan di belakang, atau pernah suatu kali di mushola, bertengkar siapa yang harus jadi imam, sampai shalat tidak mulai-mulai.

 

“Finished?” tanyaku kepada kelas. Baru saja aku mengerjakan shalat zuhur. Meninggalkan murid-murid mengerjakan soal barang sejenak karena telat mengajar. Ada acara yang tak bisa kutinggal sebelumnya.

“Kok kamu belum selesai?” kudapati salah seorang anak yang masih sibuk dengan soalnya

“Tidur, Kak, dia tadi tidur pas Kakak belum dateng. GM tidur, huuh, GM huuh!” seru kawan-kawannya. Kulihat mata bocah itu sayu. Dia hanya diam. Wajahnya tampak kusut.

 

“Ssst…diem diem. Ayo tukar review-nya sama teman sebelah!” lanjutku. Kulihat ia buru-buru menebak-nebak pilihan ganda. Asal silang.

“Ayo, number one, dari belakang, the grey one” perintahku, kembali menormalkan suasana.

Beberapa menit kemudian, sampailah soal nomor 14 kepada anak yang disebut GM itu.

“Choose a friend, please”

“GM kak, GM..” lagi-lagi, keroyokan

 

“Shi…is…going to..go to…da konsert” Terbata-bata. Tidak jelas. Bacaannya aneh. Tidak seperti kebanyakan.

“Pelan-pelan, Dek, “she is going to the concert. Sebentar, nama kamu betulan GM?”

Dia menggeleng.

“Goenawan Mohamad?” tanya saya lalu nyengir. Satu ruangan tertawa.

“GM kak, GM, Gak Mikir, hahaha”

Deg. Aku terkejut. Anak itu ternyata pasrah saja disebut GM alias Gak Mikir.

“Kalian tahu siapa Goenawan Mohammad?”

“Nggak”

 

“Dia penulis. Haduuuh, ya sudahlah. Eh, jangan suka begitulah, Dek. Kalau kalian terus menerus manggil dia seperti itu, otak dia akan mempercayai apa yang kalian bilang. Ada orang yang potensial, tapi tahu-tahu jadi ciut karena sebutan yang nggak benar”

“Haha, ciut, bahasa apa itu?” sahut seorang anak. Tawa menggema. Aku menghela nafas.

“E, kalian tahu rasul minta kita buat apa?” kelas mendadak hening. “Panggil saudaramu dengan sebutan yang disenangi, yang baik-baik. Sebentar, siapa nama asli kamu?” tanyaku kepada bocah lelaki yang disebut GM.

“Luthfi, kak” kepalanya menunduk

“Panggil dia ‘Luthfi’, artinya ‘lembut’”

 

Suasana kelas jadi berubah, sedikit tegang, lalu pelan mulai mencair. Sampai akhirnya giliran membaca soal tertuju ke bocah itu lagi. Anak-anak mengalah, memanggilnya dengan sebutan “Luthfi”. Di akhir kelas, aku kembali menarik nafas dalam-dalam. Nilainya paling berbeda: 33. Ada apa dengan anak itu.

 

Satu jam kemudian, di kelas perempuan

“Habis belajar matematika ya?” tanyaku, sambil menghapus whiteboard bertuliskan materi irisan.

“Yah, Kak”

“Siapa yang ngajar?”

“Pak Luthfi, Kak” aku tergidik dan berbalik badan.

“Luthfi?”

“Yah”

Well….bukan GM ya?”

“Siapa GM, Kak?

“Ummh, anyway, sudahlah, kita buka saja dengan basmallah”

“Bismillahirrahmanirrahiim”

 

Kepalaku mendadak pusing. Kelak kan kulihat kau dua puluh tahun mendatang. Tak tahulah apa yang akan terjadi esok. “mungkin ritme kita pernah satu, melahirkan aku, melahirkan kamu, melahirkan nasib, melahirkan yang tak pernah tentu” (GM)