Suatu hari, Rendra pernah menulis sebuah sajak, “Jangan mengaku kaya bila tetanggamu masih makan bangkai kucingnya”. Membaca sajak itu membuat saya me-rewindkembali perjalanan hidup saya selama 21 tahun. Sungguh, Kawan, saya lahir dari kedua orangtua yang jarang merasakan kekurangan. Saya juga tidak terlalu sering mengalami kesulitan rizki:  baik itu sandang, pangan, dan papan. Barangkali, jikalah kekurangan, maka saya akan menjadi satu dari sekian ratus mahasiswa yang berlari-lari mengejar beasiswa di rektorat, berdagang wudukdari satu kamar ke kamar yang lain di asrama, atau bekerja paruh waktu demi bisa membayar kuliah.

Sadarlah saya, bahwa ujian orang yang memiliki segalanya adalah kenyamanan dan keamanan. Tapi, ketika saya menengok kawan saya lebih dekat, ada beberapa yang menghabiskan waktunya untuk bekerja, membiayai kuliah tanpa mengandalkan orangtua, atau barangkali, mengikuti banyak kompetisi demi bisa mendapat sesuap nasi.

Hingga suatu ketika, saya merasa bahwa kehidupan saya tidak berruh. Surga tidak akan penuh jika manusia melewati hidup tanpa derita; tanpa kelaparan, kekurangan, dan bencana. Pola hidup yang serba ada membuat saya berpikir, bahwa saya harus bisa meloncat tinggi dan belajar dari lingkungan dengan tangan saya sendiri, tidak hanya mengandalkan orangtua yang seorang akademisi, atau keluarga yang cukup memberikan kenyamanan.

Entah mengapa, ketika kuliah, saya seringkali iri dengan orang-orang yang bisa bekerja keras untuk memenuhi hidupnya; memiliki mimpi, visi-misi, dan filosofi, hingga ia bisa menuai hasilnya setelah memeras keringat. Mereka tampak selalu menginspirasi di mata saya.

Ketika Do’a itu Didengar

Suatu hari, Allah mendengar do’a saya. Beberapa bulan lalu saya dipertemukan dengan orang-orang yang menginspirasi di suatu program. Orang-orang yang memberikan saya sebuah pengertian mendalam, sebuah pelajaran tentang makna kerja keras dan penghargaan mereka terhadap waktu. Setiap saat, selalu saja saya mendapat kabar gembira tentang prestasi-prestasi mereka:

“Teman-teman! Sahabat kita, Februari-April nanti ke U.S, dapat shortcourse ke sana! Kasih selamat donk!”

“Sahabat! Kawan kita mewakili UI di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional!”

“Selamat kepada saudara kita yang menang lomba esai Menpora!”

“Sahabat, kawan kita hari ini take off ke Jerman!”

Mereka yang menginspirasi saya adalah para mahasiswa berprestasi UI yang dikumpulkan dalam satu program bernama ILDP UI (Indonesia Leadership Development Program), yaitu suatu wadah yang dibentuk oleh direktorat kemahasiswaan, khusus untuk tiga besar finalis ajang mahasiswa berpestasi di kampus UI. ILDP merupakan program yang terdiri dari tiga puluh enam peserta dari duabelas fakultas.

Hari-hari dilalui, saya dan kawan-kawan telah melakukan banyak kegiatan di ILDP, mulai dari training kepemimpinan, learning from the giants atau belajar dari orang-orang besar di Indonesia, hingga melakukan proyek sosial. Selama menjalankan progam, seringkali saya mendengar kabar menakjubkan, menampar hati, membuat saya berpikir bahwa di belakang banyak sekali kesempatan yang terlewat. Hingga suatu ketika, saya bertanya, apa yang membuat kalian bisa sehebat ini. Mereka menjawab dengan penuh keyakinan: MIMPI!

Orang-orang terdekat saya ternyata orang-orang yang memulai hidupnya dari nol. Beberapa adalah orang yang tidak terlalu baik dalam finansial, atau keluarga broken home, atau juga mereka yang harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri. Mimpi! Ia yang menggerakkan segalanya! Ia yang membuat saya ingin selalu keluar dari zona kenyamanan, menikmati bulir-bulir keringat dan  air mata. Setiap membersamai mereka, saya seringkali teringat kata-kata Solihin dalam Buku From Zero to Hero, “keluhuran cita-cita, bagian dari keimanan. Cita-cita besar itu ibarat dinamo yang menggerakkan arus positif dan arus negatif yang mengontrol tubuh Anda. Cita-cita besar itu ibarat bahan bakar. Memacu kendaraan untuk maju, melesatkan kereta dengan cepat”. Dan saya temukan bahan bakar itu di ILDP!

Bertanya pada Hati

Delapan bulan sudah saya bersama-sama mereka. Saya semakin semangat untuk terus meningkatkancore competence saya. Setiap ada kompetisi, saya selalu ingin ikut, agar bisa bersama-sama berprestasi. Setiap mereka memberikan international conference link atau pameran beasiswa, maka saya akan mencoba-coba ikut. Begitulah setiap saat saya lakukan. Hingga suatu hari, saya sadar, bahwa selama ini saya terlalu disibukkan dengan tujuan dunia, dan lupa bahwa visi terjauh saya adalah surga. Sekali-kali saya bertanya pada hati, “apakah setiap gerak yang saya lakukan ada hubungannya dengan surga?”, “apakah selama ini saya meninggalkan tanggung jawab organisasi dakwah karena terlalu fokus dengan kepentingan pribadi?”

Kemarin, larut sekali saya melihat sebuah buku tergeletak di meja kamar kos. Buku From Zero to Heroyang mengingatkan saya kembali bahwa cita-cita tidak semata-mata untuk dunia. Pada halaman 95, ada kata-kata Umar bin Abdul Aziz “Kini jiwa ini merindukan surga….”. Akhirnya, saya me-rewindkembali niat saya ketika kali pertama mendaftar kompetisi mahasiswa berprestasi di fakultas saya. Di bagian paling bawah halaman itu tertulis:

“Cita-cita akhirat, inilah puncak kita untuk beristirahat. Seperti kata Imam Ahmad saat ditanya kapan seorang mukmin itu istirahat? “Saat ia menginjakkan kakinya di surga”. Jawab beliau”

“Istirahat di surga”, itulah kata-kata yang berungkali diucapkan kawan saya, Andreas Senjaya. Jay, begitulah kawan-kawan memanggilnya, adalah salah satu inspirasi saya. Ia sering mengatakan “istirahatnya di surga saja”, ketika ia jerih dengan beragam amanah organisasi, dakwah, dan jam terbangnya yang tinggi. Ia yang secara tidak langsung mengingatkan saya untuk tetap bekerja keras. Ia bahkan menjadi satu-satunya anak dalam keluarganya yang berhasil melanjutkan studinya ke tingkat universitas. Beragam prestasi dari lokal hingga nasional ia raih.

Lalu, saya membaca kembali lembaran buku itu, “Kita mesti menyadari bahwa setiap kita memiliki keterbatan-keterbatasan. Namun, di balik keterbatasan itulah tersimpan kelebihan”

Fik, kawan saya yang sangat ceria dan mandiri. Ia menekankan berkali-kali bahwa ia hanya seorang anak yang dulu lahir di kampung Banten Selatan. Masa kecilnya yang keras, dengan keadaan keluarga yang tidak terlalu menyenangkan, membuat ia harus mandiri mencari penghasilan untuk kuliahnya. Hingga kerja kerasnya membuahkan hasil, ia sering berkeliling ASEAN, bahkan beberapa bulan mendatang akan berangkat ke Amerika Serikat.

Banyak sekali kawan yang seringkali membuat saya terinspirasi, Adhul yang memiliki IPK cumlaude, sibuk dengan penelitiannya, dan pernah merasakan setahun di Amerika, Fiza yang tertarik di bidang seni, public speaking, dan pernah ke Jerman, Malaysia, dan Australia. Ika yang sibuk dengan penelitian-penelitiannya dan saat ini sedang ke Pakistan, lalu Ijo, kawan saya yang jago desain, sangat supel, sering menjadi MC, dan paling setia menemani saya melakukan proyek sosial. Wahyu, kawan kami yang menjadi panitia progam, tetapi sering membersamai kami, juga adalah fighter of dreamsyang sering memberikan kabar-kabar kemenangan.

Mereka tipikal pekerja keras! Namun, semoga saja, niat kami berprestasi bukan hanya untuk sendiri. Pada akhirnya toh dibalik kekuatan besar tersimpan tanggung jawab yang juga besar. Seperti apa kata Jay, “Istirahatnya di surga aja”. Seperti ada gunung Uhuh di bahu setiap kali saya mendengar kalimat itu.

Tidak Diam…

Kembali saya tergelitik untuk bertanya, apakah mereka pernah merasakan kegagalan? Jawabannya, “ya!” Tapi di mata saya, mereka adalah orang-orang yang selalu bangkit dan tidak terpuruk terlalu lama. Sebagaimana baris-baris buku From Zero to Hero mengutip kata-kata Billy P.S.Lim, “Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?” Jawabannya sederhana, “Orang akan tenggelam bukan karena tidak bisa berenang, tetapi karena dia menetap di situ dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain”

Begitulah kami, senantiasa bergerak bersama-sama. Pada akhirnya, setelah kami melakukan banyak aktivitas bersama-sama, yang terpenting bukan siapa duluan yang mendapatkan dana untukinternational conference, bukan juga siapa yang duluan pergi ke luar negeri, dapat prestasi ini itu, tetapi persahabatan di antara kami, kegagalan berkali-kali, dan kabar-kabar bahagia yang mendarat diinbox HP kami, adalah syukuri yang tidak ternilai.

Terakhir, halaman 66 buku From Zero to Hero menyitir kata-kata Imam Syahid Hassan al-Banna, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya, dan jika Anda punya kepentingan atau tugas, selesaikan segera”

Saya yakin, kawan-kawan saya adalah orang yang akan saling mengingatkan dan membantu. Orang-orang yang tidak akan besar kepala jika kelak mereka sukses, orang-orang yang senantiasa memberikan manfaat untuk orang banyak karena prestasinya, orang-orang yang kelak, akan dicatat namanya oleh sejarah. Alhamdulillah, Allah Maha Besar, saya bersyukur dekat dengan mereka….

 Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS al-insyirah: 7)