esai ini dimuat di Radar Banten edisi 29 Oktober 2011

Oleh Alfi Syahriyani *)

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober haruslah dimaknai sebagai refleksi untuk melakukan perubahan. Berkaca dari sejarah, generasi muda di masa lalu memiliki andil besar dalam memberikan sumbangsih bagi keutuhan bangsa. Perbedaan latar belakang agama, budaya, dan status sosial bukan menjadi satu hal yang melemahkan, melainkan sebaliknya, menguatkan keyakinan para pemuda untuk berikrar mempertahankan tanah air.

Namun demikian, apakah ikrar yang dulu diucapkan dapat tetap dipertahankan dan diwujudkan, manakala para pemuda melihat adanya jurang antara si miskin dan si kaya? Apakah hitam di atas putih saja mampu menyelesaikan krisis bangsa yang tidak kunjung reda? Bagaimanapun, setiap masa memiliki problematika dan tantangannya tersendiri. Hal inilah yang membuat karakter pemuda di masa lalu dan di masa sekarang menjadi berbeda. Karakter tersebut terbentuk sebagai akibat dari pergulatan konflik pada zamannya.

Dahulu, untuk merebut kemerdekaan bangsa, modal pemuda adalah bambu runcing dan semangat yang berkobar. Namun, di pascakemerdekaan, saat tidak ada sekat-sekat geografis antar negara, serta minimnya solusi tepat yang bisa mengatasi gap antara jumlah lapangan dan angkatan kerja, para pemuda dituntut untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas. Berwirausaha mandiri, misalnya, adalah salah satu upaya yang tepat untuk menjawab tantangan global.

Tumbuhnya Kesadaran

Pada 22-23 Oktober 2011 silam, Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyelenggarakan program Indonesian Youth and Sport Festival di Gelora Bung Karno yang cukup menarik antusiasme para pemuda. Penulis mengapresiasi upaya Kemenpora dalam memfasilitasi generasi muda untuk menunjukkan kegiatan komunitas dan hasil karyanya. Tentu saja upaya ini perlu kita sambut baik, karena bagaimanapun, antusiasme yang cukup besar dari para peserta di stan zona industri, UKM dan entrepreneur menunjukkan adanya kesadaran mereka dalam membangun kemandirian ekonomi.

Demikian pula banyaknya lomba proposal business plan yang diadakan oleh beragam instansi, lembaga pendidikan, dan perusahaan, dapat dijadikan indikator tumbuh kembangnya minat anak muda dalam berbisnis mandiri. Universitas Indonesia, misalnya, memiliki sebuah program untuk memfasilitasi sekaligus menumbuhkembangkan jiwa entrepreneurship para mahasiswanya yang dinamakan UIYSEP (UI Young and Smart Entrepreneur Program). Belum lagi wacana mengenai kurikulum nasional berbasis kewirausahaan yang menunjukkan tumbuhnya kesadaran bangsa kita untuk menanamkan karakter entrepreneurship di kalangan pemuda.

Memang telah tumbuh kesadaran di kalangan pemuda untuk dapat memulai usaha mandiri yang berorientasi profit. Setidaknya, hal tersebut turut membantu mengurangi banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia, khususnya usia produktif. Namun demikian, baru-baru ini, penulis melihat ada gejala lain yang lebih menggembirakan dalam dunia usaha. Kapitalisme yang ditengarai telah menciptakan perbedaan kelas, pada akhirnya memunculkan sebuah trend baru yang patut kita perhatikan secara lebih serius, yaitu bisnis sosial atau social entrepreneurship. Bisnis tersebut dilakukan dengan cara memberdayakan suatu kelompok marjinal untuk memenuhi kebutuhan sosialnya secara mandiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengurangi kemiskinan, seperti menyediakan makanan bergizi, fasilitas pendidikan, asuransi kesehatan, dan perumahan bagi warga menengah ke bawah. Usaha mandiri yang semula berorientasi profit, rupanya dapat juga memberikan efek, tidak hanya untuk diri pribadi, tetapi juga untuk masyarakat luas.

Mengubah Paradigma Bisnis

Ada satu kutipan menarik dari seorang filsuf Cina, Confucius. Katanya, Beri seseorang ikan dan Anda memberinya makan untuk satu hari; ajarkan ia memancing ikan dan Anda memberinya makan seumur hidup”. Pernyataan Confucius tersebut barangkali tepat dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Adanya jurang antara si miskin dan si kaya yang begitu besar seringkali membuat kita tak mampu berbuat apa-apa. Masyarakat kemudian hanya bisa berkomentar dan menjadi penonton pasif, atau paling tidak, seikhlasnya memberikan satu dua koin ketika mendapati seorang anak peminta-minta memasang muka melas di lampu merah.

Memberi sekali habis. Demikianlah barangkali paradigma yang masih melekat dalam bangsa kita. Pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah rupanya masih terbatas pada program taktis. Bangsa kita lebih senang disuguhi daripada didorong untuk lebih mandiri. Di zaman sekarang, segalanya adalah soal perut. Kriminalitas merajalela karena urusan perut. Tidak terbatas pada mereka yang setiap saat kakinya menyeret aspal jalanan, tetapi juga mereka yang wajahnya seringkali muncul di layar kaca karena terlibat kasus korupsi.

Tengoklah keadaan di kereta ekonomi Jabodetabek. Tampaknya alat transportasi tersebut dapat diibaratkan sebagai miniatur Indonesia, gambaran dari ketidakberdayaan warga Indonesia dalam mencari sesuap nasi. Beragam kasus yang terjadi di dalamnya, seperti pencopetan, kejahatan seksual, atau banyaknya para pekerja marjinal, menjadi pemandangan sehari-hari penumpang kereta api. Lantas kemudian, apakah pemandangan rutin tersebut menjadikan kita desensitiv, tidak peduli lagi dengan sekitar karena terus menerus berulang? Apakah kita harus selalu bergantung kepada pemerintah dan saling menyalahkan?

Di tengah ketidakberdayaan masyarakat dalam mencari lapangan pekerjaan, ada kabar menggembirakan yang patut kita cermati bersama. Trend bisnis sosial menjamur, diawali oleh seorang pengusaha Bangladesh, yaitu Muhammad Yunus, yang meraih nobel karena kiprahnya dalam bisnis sosial. Banyak kalangan yang akhirnya terinspirasi untuk melakukan proyek yang sama, yaitu mengubah paradigma bisnis yang berorientasi profit (profit-driven), menjadi bisnis yang berorientasi manfaat (cause-driven). Pada 2006 silam, ia menerima Nobel Perdamaian Dunia berkat usahanya yang diberi nama Grameen Bank. Usaha ini dilakukan demi mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Secara teknis, Grameen Bank memberikan modal pada para perempuan Bangladesh untuk menjadi pengusaha mandiri.

Untuk menjamin pembayarannya, Grameen Bank menggunakan sistem “kelompok solidaritas”. Mereka mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama, lalu setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin anggota lainnya. Dengan cara itu mereka mampu mengembangkan usahanya secara bersama-sama. Dana yang dipinjam kemudian terus bergulir untuk meningkatkan taraf hidup. Grameen Bank tercatat telah menyalurkan pinjaman lebih dari 3 miliar dolar ke sekitar 2,4 juta peminjam. Usaha Muhammad Yunus inilah yang telah menginspirasi banyak orang di berbagai belahan dunia untuk ikut membantu mengentaskan kemiskinan.

Sudah ada beberapa kalangan yang mulai melakukan bisnis sosial ini. Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) Subang, Tri Mumpuni Wiyatno, misalnya, berhasil membangun puluhan desa dengan mengembangkan fasilitas listrik tenaga air (mikrohidro) sejak 18 tahun yang lalu. Dengan memanfaatkan komunitas lokal dan mengembangkan konsep pemberdayaan, Tri Mumpuni berhasil menjalankan proyek bisnis sosialnya.

Sejumlah kalangan muda seperti Goris Mustaqim, melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap pengrajin akar wangi di Garut. Bersama timnya, ia membantu mencarikan bahan bakar alternatif hingga memasarkannya. Alhasil, ia mendapat kesempatan untuk diundang ke Amerika Serikat menghadiri Presidential Summit Entrepreneurship 2010 yang mangantarkannya bertemu dengan Obama. Demikian juga Elang Gumilang, sejak menjadi mahasiswa IPB, ia aktif membantu masyarakat agar memiliki rumah dengan harga terjangkau, hingga ia mendapatkan banyak sambutan positif dan penghargaan.

Di Universitas Indonesia, ada juga sekelompok mahasiswa yang berinisiatif melaksanakan proyek pemberdayaan untuk mantan penderita kusta di Kampung Kusta Sitanala, Tangerang. Proyek yang pada mulanya merupakan ajang kompetisi mahasiswa berprestasi se-Indonesia ini, telah berkembang cukup pesat dan dikenal di berbagai media. Para pemuda tersebut aktif memberikan pelatihan cara memanik jilbab kepada ibu-ibu Sitanala, serta membantu memasarkan produknya. Keuntungan yang ada murni untuk masyarakat kampung Kusta. Kegiatan ini sekaligus turut membangun kepercayaan diri para ibu yang merasa terdiskriminasi. Peran anak bangsa tersebut adalah oase di tengah tandusnya kondisi ekonomi sebagian masyarakat Indonesia yang mengenaskan.

Perlunya Pembinaan Terintegrasi

Kesadaran berwirausaha, antusiasme yang tinggi dari para pemuda, serta banyaknya warga Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan, seyogyanya mendapat perhatian serius dari kita semua. Saat ini, bisnis sosial dapat menjadi solusi alternatif untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Dalam memasifkan proyek ini, tentu saja dibutuhkan peran dari berbagai elemen. Dari pemerintah misalnya, perlu adanya pembinaan terintegrasi untuk para pemuda dalam bidang wirausaha, serta pelaksana Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan mekanisme yang lebih terarah.

Di lembaga pendidikan setingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi juga dirasa perlu untuk mulai mengembangkan program yang dapat memancing kreatifitas, kemandirian, sekaligus kepekaan sosial anak didik. Terakhir, elemen masyarakat dapat bertindak menjadi donatur untuk mendukung proyek-proyek yang memanfaatkan komunitas lokal dan pemberdayaan ekonomi. Singkatnya, pemuda dapat mengubah paradigmanya mulai sekarang, yaitu dengan cara berbuat lebih tanpa harus saling tuding atas kinerja pemerintah yang terkesan lambat. Dengan demikian, ikrar Sumpah Pemuda tidak hanya tersimpan rapi dalam gulungan kertas sejarah, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk konkret melalui pemberdayaan sosial ekonomi yang berkesinambungan (*)

*) Penulis adalah alumni UI. Pernah tergabung dalam ILDP UI (forum Mahasiswa Berprestasi UI). Saat ini aktif di Nalacity Foundation, sebuah Proyek Social Entrepreneurship untuk Mantan Penyandang Kusta di Kampung Kusta Sitanala, Tangerang. Aktif juga mempublikasikan opini dan karya sastranya di berbagai surat kabar lokal dan nasional.