Ini dari  Budiman Hakim-Creative Circle via Fahry Yanuar Rahman. Menarik sekali!😉

Kreatif

Kalo kita ikut training atau workshop bertopik tentang pencarian ide, jangan terlalu berharap bahwa kita akan otomatis bisa memperoleh cara yang mumpuni untuk mencari ide. Tidak peduli pengajarnya sekelas Drogga atau Neil French atau Edward de Bono sekalipun. Kenapa demikian? Karena pencarian ide itu sangat spesifik. Metode yang cocok buat seseorang tidak otomatis pasti cocok bagi kita. Setiap orang mempunyai pemicu sendiri-sendiri dalam memperoleh ide.

Coba kita perhatiin kalo lagi brainstorming! Saat seseorang bercerita tentang sesuatu, tau-tau ada temen kita yang langsung dapet ide. Kenapa cuma dia yang dapet ide sedangkan yang lain kagak? Sekali lagi ini dikarenakan bahwa setiap orang punya pemicu yang sangat spesifik. Hal ini sangat berhubungan dengan latar belakang keluarga, pendidikan, sosial, lingkungan dan lain-lain.

Jadi kenalilah diri Anda sendiri. Lalu carilah situasi, kondisi, atau apapun yang rasanya mungkin dapat memicu ruang kreativitas kita untuk mendapatkan ide. Seorang yang mempunyai sensitivitas tinggi biasanya akan dengan mudah terpicu untuk menemukan ide.

Sering kan kita mendengar orang bilang, “Seniman itu aneh.” Dan memang sering kita temukan bahwa seniman itu moody. Perasaannya cepat berubah-ubah. Kadang ngambek, tiba-tiba ngakak kayak orang gila lalu mendadak menangis tersedu-sedu.

Hal yang menyebabkan hal itu adalah; Seniman umumnya orang yang sangat perasa. Dia mudah tersentuh, mudah marah, mudah tesinggung. Itulah yang menyebabkan orang lain menganggapnya aneh. Nah bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda orang yang cengeng? Apakah Anda mudah mewek cuma gara-gara nonton film percintaan di bioskop? Kalau ya berarti Anda juga orang yang sensitif. Seperti seorang seniman, Anda mudah tersentuh sesuatu sehingga seharusnya Anda juga mudah terpicu untuk mendapatkan ide-ide besar. Ungkapkanlah segala perasaan Anda itu menjadi sebuah karya. Misalnya menciptakan puisi, cerpen atau cerita yang akhirnya bisa ditransformasi menjadi novel, film atau iklan

Apakah Anda seorang pemarah dan mudah terluka cuma gara-gara diejek sama teman? Anda harus bersyukur! Sensitivitas seperti itulah yang bisa diasah untuk pencarian ide. Ga percaya? Saya punya cerita yang membuktikan hal itu.

Jadi begini ceritanya: Seorang teman saya pernah mengeluh bahwa anaknya seorang pemarah. Kalau sudah marah bahkan dia akan mengamuk menghancurkan segala macam barang yang ada di dekatnya.

Alhamdulillah Sang Ayah tidak kurang akal. Dia membelikan sebuah peralatan drum set pada anaknya. Drum tersebut ditempatkan dalam sebuah kamar kedap suara. Apa yang diperbuatnya?

“Nak, ini Ayah beliin drum. Setiap kali kamu sedang marah, silakan kamu pukul drum tesebut sekeras yang kamu mau.” katanya pada Si Anak.

“Baik Ayah.” sahut Si Anak.

Lalu apa yang terjadi? Baru sebulan drum itu sudah hancur berantakan. Tentu saja karena Anak itu bukan bermain drum tapi memang berniat menghancurkan drum tersebut.

Kali ini Si Ayah memberikan drum lagi yang lebih kuat. Lalu memberi usul pada anaknya, “Nak, kalo main drum sampe rusak ya silakan tapi pukul drum itu sebagaimana pemain drum sedang bermain.”

“Saya ga minat main drum kok.” jawab anaknya ngeyel.

“Begini Nak. Kamu kan suka lagu-lagu keras, Rock dan Heavy metal kan?”

“Lalu kenapa?”

“Coba kamu pasang lagu itu keras-keras lalu kamu pukul drum itu sesuai dengan irama lagu. Ayah jamin kemarahanmu akan berkurang.”

Ide ini ternyata berjalan dengan baik. Anak tesebut ternyata merasa menemukan cara melampiaskan marahnya. Setiap kali sedang murka dia selalu masuk ke kamar drum, memutar musik keras-keras dan menghantam drumnya sesuai dengan irama lagu.

Ketika ke luar kamar, amarahnya pun sudah berkurang banyak. Sekarang ga ada lagi barang-barang di rumah yang hancur. Sebuah penyelesaian yang brilyan bukan? Rasa sedih, amarah atau apapun memang perlu dilampiaskan. Kalo ditahan-tahan rasa marah itu akan menumpuk dan suatu hari akan meledak tanpa terkendali.

Dan keajaiban pun berlanjut! Lama kelamaan cara anak itu melampiaskan amarahnya berbuah pada kemampuan bermain drum dengan baik. Secara otodidak, dia mampu memainkan stick drum dengan pukulan-pukulan yang menarik sesuai dengan harmoni irama musik.

Lama kelamaan, kecintaan anak itu pada drum semakin tumbuh. Suatu hari dia berkata pada bapaknya, “Ayah, saya mau kursus drum boleh ga?”

Ayahnya tersenyum. Dia bersyukur sekali mendengar permintaan anaknya. Dan ga sampai setahun belajar, dia telah menjadi pemain drum yang sangat handal. Saya sendiri pernah mendengarnya bermain dan saya kagum sama permainan drumnya. Kenapa? Karena sebuah permainan yang dilandasi dengan perasaan dan hati memang akan selalu menjadi karya yang menggetarkan hati orang lainnya.

Apakah Anda suka berkhayal lalu menceritakan semua khayalan tersebut seakan-akan itu adalah pengalaman yang Anda alami sendiri? Bahkan ketika Anda ceritakan semua orang takjub dan mempercayai cerita Anda itu? Alhamdulillah! Anda berbakat menjadi penulis buku seperti JK Rawling. Dan karena Anda juga mempunyai kemampuan bagus sebagai pencerita berarti Anda juga berbakat menjadi seorang presenter sekaligus story teller.

Orang yang sensitif mendapat pemicu dari dalam. Kalo kita bukan tipe orang yang sensitif, berusahalah mencari pemicu sendiri dari luar. Caranya sederhana. Pergilah ke luar rumah. Ngobrollah dengan pedagang-pedagang kecil di pasar-pasar becek. Bergaullah di tempat para seniman berkumpul. Jangan lupa buka pancaindera selebar-lebarnya. Apa yang tertangkap oleh pancaindera akan sampai ke otak lalu insya Allah akan menyentuh hati lalu menjelma menjadi pemicu untuk menemukan sebuah ide.

Apapun sensitivitas yang kita miliki adalah berkah! Segala perubahan emosi adalah pemicu buat kita untuk menemukan ide-ide segar. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana membalik energi negatif tersebut menjadi enerji positif.

Anang Hermansyah telah membuktikan teori itu. Saat dia bercerai dengan KD, dia memanfaatkan kesedihannya menjadi enerji untuk berkarya. Dan hasilnya? Lagu-lagunya meledak. Sekarang dia bahkan jauh lebih laris dari mantan isterinya, baik dari album rekaman sampai dengan show.

Jadi…ketika Anda sedang marah, sedih, patah hati atau merasa menderita, jangan buru-buru menyalahkan Allah. Segala perubahan emosi itu sebenarnya adalah cara Allah memberi pemicu untuk menyuruh Anda berkarya.

Tulisan di atas tidak saya peroleh dari buku atau workshop manapun. Semua pemahaman ini saya dapatkan dari pengalaman hidup. Karya-karya saya sering muncul dari perubahan emosi. Ketika saya sedang berbagi cerita ini di kantor, Adhi Djimar, seorang sahabat saya langsung nyeletuk “I am at my best when i am depressed!”

Ternyata, Adhi terpicu oleh cerita saya dan spontan menemukan ide untuk membuat sebuah kalimat yang bagus. Saking bagusnya, saya minta izin padanya untuk menggunakan kalimat tersebut menjadi judul artikel ini.

Selamat berkarya!