Ada orang-orang yang enggan berbicara tentang masa lalu. Mungkin sungkan karena tidak ada jejak yang menggembirakan, atau dengan bercerita masa lalu, itu sama saja dengan mengumbar aib, atau barangkali, tidak perlu diungkit lagi karena ada yang lebih penting dari itu: masa depan.

Tapi tidak dengan saya dan ayah saya, kami hanya akrab, ketika berbicara tentang m.a.s.a l.a.l.u. Masa yang lebih banyak membuat saya bersyukur, masa yang mengejutkan, masa yang seringkali membuat saya tercenung, karena dunia orangtua saya, tentu saja berbeda jauh, tapi tetap selalu ada irisan yang menarik untuk disimak, direnungi, dikomentari, “Oh, ternyata kita memiliki banyak kesamaan yah” atau, “Oh, ternyata idola Abah dulu itu Rhoma Irama, Ridwan Saidi, dan Hamka”, “Oh, ternyata Abah itu dulu hobi baca caping dan editorial GM di Koran Tempo, sampai mengikuti dinamika abc-nya, bahkan hal-hal yang tidak banyak orang tahu”, “Oh, ternyata Abah juga sempat mengalami kesendirian ketika menghabiskan kuliah di Jakarta dan memilih kembali ke daerah”

Satu minggu sudah saya menghabiskan waktu di rumah karena sakit, ah, sebetulnya tidak sakit, untuk yang ini nanti saja saya ceritakan. Alhasil, interaksi saya dengan orangtua lebih banyak. Apalagi setelah lulus. Tidak begitu banyak komunikasi dengan kawan karena urusan ini itu, tidak sampai seharian memegang HP di meja makan, di mobil, di ruang TV, di kamar, di setiap sudut rumah, di setiap waktu, di setiap hela nafas bahkan. Judulnya adalah, “Alfi, proyek ini bla bla”, “Alfi, hubungi bla..bla”, “Alfi, udah ingetin blab la bla”. Apakah hal demikian yang saya rindukan? Ya, awalnya, tapi lama-lama, tidak juga.

Mungkin memang saatnya saya memberi ruang untuk keluarga saya. Tidak lagi pulang hanya karena saya ‘sakit’, atau karena ‘adik saya sakit’, atau karena, ‘besok Lebaran’. Demikianlah alasan yang melulu mendorong saya untuk pulang. Kehadiran saya di rumah tidak lebih dari sekadar raga, tidak ada jiwa di sana, tidak ada komunikasi yang intens dengan keluarga. Orangtua pergi pagi pulang malam, adik juga demikian, sekolah pagi pulang malam karena ikut les ini itu. Maka belakangan ini, saya mencoba berbesar hati, untuk mengamati setiap laku keluarga saya yang ternyata sudah banyak berubah, karena selama ini saya tak peka melihat sesuatu yang jauh lebih dekat dari kawan-kawan saya di Depok.

Saya sering tiba-tiba menangis saat menikmati kesendirian. Berlebihan. Bukan karena waktu satu minggu seperti mengekang. Itu belum lama. Atau karena masalah di luar kampus. Ah, tidak juga. Tapi karena ternyata jiwa saya tidak ikhlas berada di antara keluarga, mendengar celoteh ayah tentang masa depan yang harus begini begitu, mendengar adik saya yang sedang bingung memilih jurusan apa untuk SNMPTN dan SIMAK, mendapati sikap orangtua yang melarang ke Jogjakarta untuk menemui teman Thailand saya karena saya sakit.

“Bagaimana obatnya? Ada pengaruh sama lambung kamu?”

“Nggak. Sama aja” ringan menjawab

Ayah saya menghela nafas. Sudah berjuta-juta mungkin dihabiskan demi mengatasi lambung saya.

“Karena Mpi gak kenapa-napa, Bah, Mpi cuma butuh ketemu teman-teman di Depok” kata saya sambil menangis, setelah diskusi yang malah berbuntut panjang.

Jadi persoalannya adalah: Ayah saya terlalu khawatir, padahal sebetulnya tidak ada yang perlu dipersoalkan. Sementara di sisi lain, saya terlalu sering mengeluh ini itu, padahal tidak ada juga yang perlu dipersoalkan. Wajar ayah saya khawatir, karena saya selalu berkomentar tentang hal kecil secara berlebihan, padahal hati saya sebenarnya biasa saja. Alhasil, apa-apa yang saya komentari, dianggap sebagai sesuatu yang WAW bagi ayah saya. Ketemu. Ternyata karakter ayah saya ‘khawatir tingkat tinggi dan suka memotong obrolan’ sementara saya ‘cuek, banyak ngomongnya, tapi maunya didengerin dulu’

Misalnya:

“Hah, ini kenapa deeeh?” (isi SMS tentang proyek yang ada sedikit miskomunikasi)

“Ya Allah Mpiiii, jantung Abah ini! kenapa sih suara kamu nada tinggi gitu?!”

Atau lagi:

“Aduh kakiiii” kepentok

“Astaghfirullah, Mpiii, kamu kok suka bikin kaget Abah sih. Gak tahu apa Abah punya jantung”

“Yah, Tempi nih lebay banget sih kalau ada apa-apa” komentar adik saya, ringan

“Emang deh, rumah kalau ada Teteh rame sekali, hehe” Ibu saya, selalu tampak berbeda menanggapi.

Dan saya terdiam. Apakah saya berlebihan? Hal demikian selalu berulang. Ayah saya yang terlalu khawatir, dan saya yang cuek tapi seringkali, ketika mendapat sesuatu hal kecil, ibaratnya, “dalam hati siap melompat!”

Ok, contoh demikian mengantarkan saya untuk bercerita soal lambung. Lambung ini memang kadang kumat ketika saya banyak kerjaan. Juli kemarin saya berobat di RS.Siloam Tangerang, ayah saya memang selalu mempercayai RS intenasional tersebut. Bisa dibayangkan berapa harga sekali diagnosa dan menebus obat kan. Dokter meminta saya endoskopi, karena sudah setahun kembung ini kumat-kumatan. Kata dokter faktornya adalah stress. Tiga bulan saya menghabiskan kesibukan di Depok, hingga ketika saya kumat lagi, barulah saya paksakan diri untuk endoskopi sekarang. Sebetulnya kata dokter tidak mengapa, tapi ayah saya maunya ‘endoskopi saja’. Yah, akhirnya diberilah saya obat, tapi sampai sekarang yah begitu-begitu saja. Hingga obrolan malam dengan ayah saya ditutup dengan pernyataan.

“Yaah, sudahlah, memang segalanya kembali kepada Mpi. Penyakit itu ada karena Mpi yang buat sendiri. Tapi gak papa udah berobat, Abah lega kalau gak ada apa-apa” katanya, lalu beliau malah yang meminta maaf. Saya tercenung. Lalu saya juga minta maaf. Tadinya kami berbicara tentang kehidupan ayah di masa lalu. Sangat akrab, tapi tiba-tiba bicara masa depan dan penyakit lagi membuat kami berdebat. Komunikasi yang aneh -______-

Entah sampai kapan relasi antara saya dan ayah saya melulu  berbuntut debat kusir. Tidak tahu apa yang diperdebatkan. Ketika sudah reda kami selalu melihat ibu yang tertidur di ruang TV. Mungkin kalau bangun sebentar ia akan bilang, “Ah, kalian ini, biasa, gak jelas, bikin pusing”, lalu tertidur lagi (*)