Serang, 26 Agustus 2011

 

Hari itu benar-benar kutukan. Tujuh tahun sudah kami tidak bertemu. Pondok Lesehan Emak Haji menjadi titik pertemuan kami.

 

“Nur, Lira, Hurotun!” teriakku, histeris. Baru saja kawan-kawanku itu turun dari motor masing-masing. Tiga wajah yang familiar. Tidak sempat kuperhatikan perubahan mereka karena saking euforia-nya. Pertemuan yang tak biasa: kawan satu genk waktu SMP. Kami sangat akrab. Terkenal seentaro SMP. Percaya atau tidak, kawan-kawan dulu menyebut kami genk ‘preman’. Juventini all out. Tim inti Pramuka sekolah bernama ASLI: Aster-Rajawali.

 

Ada delapan orang perempuan dalam tim kami. Masa-masa paling labil dalam hidup. Senang membuat keramaian di kelas, lapangan sekolah, alun-alun, bahkan di atas genting sekolah (lempar sepatu orang ampe nyangkut). Kami sama-sama punya hobi: nonton dan main bola. Kamarku dulu penuh sekali dengan poster pemain bola, terutama Inzaghi. Anehnya, klub favorit kami bukan AC Milan, melainkan Juventus. Maka setiap ada liga, bangun malam alih-alih tahajud menjadi kebiasaan, olahraga bersama para lelaki juga menjadi makanan kami setiap minggu. Dulu aku seringnya jadi kiper atau striker. Waktu piala dunia dulu, para siswa lelaki menjulukiku Bufi (Bufon+Alfi). Tidak ada pemilihan kapten dalam genk kami. Hanya saja semua tanpa sadar sepakat bahwa orang yang paling berpengaruh dalam genk adalah: Nur

 

“Weeeh, beda amat lu!” kusadari sesuatu berubah dari Nur. Make up.

 

“Gilaaa, sejak lulus gue belum ketemu elu!” respon Nur, sama-sama histeris. Dalam hati aku menggumam, ternyata body language-nya masih sama: preman. Dan, jilbabnya yang dulu, tidak, tidak ada jilbab di sana. Belakangan kutahu kalau ia sekarang kerja di Ramayana. Make up adalah tuntutan.

 

Tidak tahu mengapa dulu aku dekat dengan orang-orang seperti mereka. Beberapa berasal dari keluarga tidak mampu. Bahkan broken home. Ada yang keluarganya kejawen, percaya mistis. Ada juga yang orangtuanya tukang jamu, guru ngaji kampung, dan lain sebagainya. Walau beberapa tumbuh di pinggiran kota, mereka orang yang gaulnya ampun-ampunan. A1, Westlife, Blue, dan segala macam up date-boy band zaman SMP. Secara akademis, harus diakui, tidak ada yang dibanggakan dari kawan-kawan. Di kelas dulu, bagian banjar kanan adalah orang-orang cerdas, kalem, berasal dari keluarga high dan middle class, sedangkan banjar kiri, di mana terdapat kami, adalah bagian yang suka membuat keributan. Dan aku, sungguh sebuah keajaiban, bisa sebanjar dengan mereka. Padahal setiap semester namaku selalu dipanggil ke depan karena…membuat kributan? Bukan, karena ranking tiga besar. Eeeaaa.

 

“Anjriiiiit, susah banget lu! Elu yang paling susah dihubungi tiap mau kumpul. Pake jalan-jalan ke luar negeri lagi!” Lira merespon. Dalam tujuh tahun jeda kami, Lira yang dua kali pernah aku temui tanpa sengaja di sekitar Serang karena kuliah di Ilmu Komunikasi Untirta. Kulihat dia tak ber-make up. Aku nyengir begitu menyadari penampilannya tidak berubah, masih preman.

 

Giliran Hurotun yang kupeluk. Lagi-lagi kudapati make up. Lebih tebal dari yang lain. Seiring pertemuan kami, baru kuketahui kalau ia jadi kasir salon. Penampilanku jauh berbeda dari mereka. Maklum saja, baru pulang melayat saudara yang meninggal, hanya memakai rok jeans hitam, kaos oblong hitam, dan krudung bergo putih, berbeda dari teman-teman SMP yang penampilannya sudah berubah: heboh. “Elu gak berubah yah, Fi” kata Hurotun. Aku nyengir “Salah banget yah gue gak dandan. Hahaha”

 

Sungguh hal yang aneh, kalau saja setengah jam sebelumnya salah seorang kawan SMP-ku, Nirman, tidak berkomentar di status FB-ku tentang buka bersama, aku tidak mungkin tahu ada acara itu. Belum di-add di group SMP. Praktis, begitu pulang melayat, aku langsung kabur ke pondok Ema Haji.

 

Percakapan akhirnya mengalir, beberapa kawan dari beragam profesi dan beragam universitas hadir di sana. Reunian akhirnya menjadi ajang nostalgia. Perutku sampai sakit dibuat tertawa. Akhir buka bersama, aku mengajak ketiga kawanku bersilaturahmi ke rumah. Berbincang tentang empat kawan lainnya.

 

“Si A sudah menikah dua kali. MBA, suaminya kabur. Pulang ke Jawa, A nikah lagi”

“Si B di Jogja, gak tahu kuliah di mana, tapi titip salam”

“Si C juga MBA. Gue kaget sumpah”

“Si D kerja di Bank”

 

Aku mengelus dada. Tidak percaya bahwa keluguan kawan-kawanku dulu, genk berdelapan yang memang seringkali membuat “keributan bertanggung jawab” mengalami nasib yang naas. Kebanyakan tidak seberuntung diriku dari segi ekonomi. Jauh tidak beruntung. Baru kusadari ketika kuliah, sedikit banyak sikap mereka yang membuat cair suasana, spontan, tomboy, mandiri, hobi jalan-jalan, easy going, cepat akrab dengan orang-orang kecil, caur, sedikit banyak membentuk kepribadianku hingga kini.

 

“Nah, kita kan dah cerita nih cowok masing-masing. Cowok lu gimana fi? Eeeeaaa, dengerin dengerin!”

 

“Hahahahahaha” gue tertawa lepas, “Gak ada” suasana tiba-tiba hening.

 

“Hah? Demi apa? Garing banget hidup lu! Sumpah! Gak pernah pacaran lu?”

 

“Haha. Gue punya genk juga di kuliah. Sama, delapan juga. Hidup gue sangat berwarna dan menyenangkan karena mereka” Semuanya kulihat membulatkan mulut membentuk huruf ‘O’. Aku menghela nafas menyadari perbedaan yang mencolok. Pre-man. Man-Pre. Pres-ma. Ma-Pres, ng…mirip juga. Hiburku dalam hati.