Ada cerita menarik ketika saya memutuskan untuk mengirim aplikasi lamaran saya ke sebuah Industri Penulisan Buku. Suatu hari saya bertanya kepada seorang senior, “Kak, lu tahu kan Industri Penulisan Buku? Gue mau apply nih. Kayaknya sesuai dengan potensi gue”. Lalu senior saya menjawab, “Gimana yah, yang gue tahu, yang namanya nerbitin buku itu kan penerbit. Ntar kalau buku lu laris, lu gak dapet royalti lagi karena lu cuma kerja dibayar perbulannya kan?”

Barangkali pendapat demikian banyak dilontarkan oleh pihak yang belum mengetahui seluk beluk Industri Penulisan Buku di Indonesia, industri yang terbilang baru, masih terdengar asing bagi saya sebetulnya. Sebagai orang baru, tentu saja saya sempat berpikir hal yang sama dengan senior saya beberapa waktu silam. Namun demikian, dalam mempertimbangkan sesuatu, tentu kita tidak serta merta melihatnya dari satu sudut pandang. Perlu kajian yang komprehensif agar kita bisa lebih mengetahui seperti apa dunia industri penulisan buku.

Setelah mencari tahu, saya mendapati kesimpulan bahwa Industri Penulisan Buku yang mulai berkembang saat ini dihadapkan pada dua hal, yaitu peluang dan tantangan. Pertama, saya sangat mengapresiasi kehadiran Industri Penulisan Buku karena bagaimanapun, hal ini dapat dijadikan indikator tumbuh kembangnya minat membaca dan menulis. Kehadiran industri penulisan buku merupakan dorongan bagi bangsa kita, yang menurut angka statistik, memiliki minat membaca dan menulis yang sangat rendah, bahkan kalah dari negara tetangga di Asia Tenggara. Sebut saja Vietnam, negara yang pembangunan ekonominya dulu tidak lebih baik dari Indonesia, sekarang justru lebih menang dalam jumlah publikasi buku. Menurut Dodi Mawardi, pengelola Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia, di Vietnam, tahun lalu buku yang beredar selama setahun menembus angka 15 ribu judul, sementara jumlah judul buku di Indonesia tahun lalu masih dibawah 15 ribu item. Belum lagi jika kita bandingkan dengan jumlah penduduknya yang jauh berbeda, tentu saja kita akan jauh tertinggal.

Selain itu, saya yakin bahwa Industri Penulisan Buku dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siapapun yang ingin menjadi penulis profesional. Banyak orang yang malu atau bahkan malas menulis buku, dan banyak juga potensi yang terkubur karena ketiadaan sistem yang mampu memicu potensi seseorang untuk bangkit. Namun demikian, industri penulisan buku dapat memberikan peluang bagi mereka yang ingin lebih bergiat melahirkan karya-karya baru. Oleh karena itu, saya kira kehadiran industri penulisan buku patut kita apresiasi bersama.

Selanjutnya, peluang yang luas tentu saja akan selalu diringi tantangan. Pertama, akses informasi yang begitu mudah dan cepat membuat masyarakat tidak perlu kesulitan lagi memperoleh ilmu-ilmu baru. Alhasil, mereka dapat membaca dan menulis di manapun mereka suka, seperti di facebook, twitter, blog, dan media jejaring sosial lainnya. Buku kemudian bukan lagi menjadi kebutuhan karena seseorang bisa saja mengunduh e-book atau jurnal-jurnal untuk data penelitian mereka. Kemudian, tantangan selanjutnya adalah adanya peningkatan kualitas buku. Banyak buku yang menjamur di pasaran, namun tergeletak begitu saja karena kualitasnya jauh dari harapan. Menjadi tantangan tersendiri bagi Industri Penulisan Buku untuk memilih serta meng-up grade kualitas para penulis agar tujuannya tercapai, baik sebagai katalisator dalam menciptakan penulis-penulis unggul, maupun sebagai lahan bisnis yang menjanjikan.

Terlepas dari beragam pandangan yang ada, saya pribadi sangat mengapresiasi kehadiran Industri Penulisan Buku. Industri ini memberikan kesempatan, terutama bagi para penulis pemula maupun profesional, untuk terus produktif berkarya. Sekolah Menulis Kre@tif Indonesia, misalnya, telah membuktikan bahwa industri tersebut mampu berkembang lebih pesat dan menelurkan banyak karya.

 

Penulis adalah alumni UI. Lahir di Serang, 24 April 1989. Bersama kawan-kawannya mendirikan Komunitas Langit Sastra pada 2010 di UI, Depok. Saat ini penulis juga aktif sebagai social-entrepreneur di Nalacity Foundation, yaitu sebuah proyek bisnis sosial untuk mantan penyandang kusta di Kampung Kusta Sitanala, Tangerang. Penulis sekarang tinggal di Depok.