Aku mematut diri di depan cermin. Ada yang berbeda. Kostum hari ini sedikit lebih tebal dari biasanya. Cuaca terasa lebih dingin. Kugesekkan kedua telapak tanganku untuk menghalau dinginnya musim gugur. Lalu kulirik jendela kamar. Di luar tampak seorang perempuan sedang menyalakan mobil.

Andiiiin, let’s go!” panggilan seperti biasanya. Cepat-cepat aku meninggalkan kamar, berlari menuju teras rumah. Sapaan “how was your sleep?” tidak pernah terlewat setiap pagi.

 

Perempuan itu kupanggil dengan sebutan ‘mom’. Tapi sesungguhnya ia bukan ibu kandungku. Sudah empat bulan lebih aku “menumpang hidup” bersamanya sebagai pelajar asing. Terkadang masih canggung untuk memulai percakapan. Apalagi bukan dalam bahasa ibu. Mom terlalu baik untuk didiamkan. Terlalu ramah untuk dicueki. Terlalu, well….setia?

“Terlalu cepatkah kita berangkat?” tanyanya sambil menoleh ke arahku, sementara tangannya lihai memutar setir mobil. Aku setengah tersenyum. Entah harus membalas dengan cara apa lagi. Sudah ke sekian kalinya ia mengatakan hal serupa, walau dengan struktur kalimat yang berbeda. Isinya sama: segalanya harus tepat waktu. Mom memang selalu seperti itu setiap kali berangkat. Selalu paling pagi, selalu in time, selalu membuat aku, sebagai orang Indonesia yang dikenal santai, kepayahan.

“Nanti aku akan persiapkan mantel untukmu. Yang kaubawa dari Indonesia itu tidak cukup tebal” lanjut mom, tanpa harus menunggu jawabanku atas pertanyaan pertamanya tadi.

Bulan ini adalah kali pertama aku merasakan musim gugur. Itu artinya, aku harus bersiap-siap menyambut musim dingin setelah musim gugur berakhir. Mantel yang kubawa dari Indonesia memang jauh berbeda tebalnya dengan mantel orang Amerika. Agak menyesal juga aku beli dengan harga yang mahal.

Mom adalah orang yang sangat peka. Kurasa setiap musimnya mom akan membelikanku pakaian yang berbeda-beda. Saat musim gugur saja aku sudah merasa sedikit menggigil, apalagi kalau sudah musim dingin, tak dapat kubayangkan bagaimana lebih menggigilnya aku nanti. Mungkin ceritanya akan berbeda jika aku tinggal di bagian selatan. Di sana beriklim tropis, tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Tak ada salju, tetapi tetap saja memiliki empat musim.

Entah harus bersyukur atau mengeluh, tempat mom dan aku tinggal saat ini adalah Minneapolis, kota yang terletak di negara bagian utara Amerika Serikat, tepatnya di Minnesota. Cuaca di sini lebih dingin dibandingkan di bagian selatan. Minnesota juga berbatasan langsung dengan Kanada, negara yang dikenal sebagai negeri maple. Barangkali itulah faktor yang menyebabkan mengapa pohon maple juga banyak tumbuh di Minneapolis.

Look!” mom menoleh ke arah kiri. Ada yang berbeda sepanjang jalan, “yellowish…” bisik mom

Aku takjub melihat boulevard [1] yang kulewati. Pohon maple berguguran sepanjang jalan. Warna daunnya hijau dan jingga. Perpaduan warna yang indah ini seringkali disebut dengan yellowish. Bentuk daun maple seperti jari, lebih tepatnya seperti daun pohon pepaya, tapi berukuran kecil. Yellowish selalu ditunggu-tunggu setiap musim gugur tiba, terutama saat berjalan-jalan di taman kota. Indah sekali. Kalau saja aku bisa turun dan berjalan-jalan di taman itu.

Aku tidak tahu akan dibawa mom ke mana. Ini momen yang langka. Besok hari Thanx Giving, mom bilang keluarga besar akan datang berkunjung ke rumahnya. Ia memang orang yang dituakan. Ah, seharusnya hari ini mom mempersiapkan acara tersebut di rumah, minimal memasak thanxgiving turkey[2]aku lebih senang menyebutnya ayam guling raksasa—tapi perkiraanku meleset.

“Where are we goin’?” responku, setelah berpikir beberapa detik, demi mengganti subtitle alami dalam otakku. Kadang aku harus mendengar ekstra karena gaya bicara mom yang cepat. Kadang juga aku harus mempertemukan kedua halis dan mendekatkan telingaku agar bisa lebih mengerti apa yang dia katakan. Untung saja dia orang yang tak segan mengulang berkali-kali. Hey, hey, menjadi student exchange di Amerika bagi seorang anak SMA itu susah-susah gampang. Kalaupun aku mengerti mereka bilang apa, kadang-kadang mereka tidak mengerti aku sedang bicara apa. Tata bahasaku sudah kuusahakan benar, tapi stress, intonasi, aksen, pronunciation saat aku bicara terkadang membuat orang-orang di sekitarku merespon, “what?” atau “pardon?” atau “excuse me?”

 

“Kita akan ke sebuah tempat yang menyimpan kenangan di masa lalu” pandangan mom lurus ke depan. Tangannya menarik gigi mobil lagi. Tapi kali ini tidak menoleh ke arahku. Aku sudah membayangkan sebuah pedesaan indah, rumah mungil dengan sebuah perapian, dan pagar-pagar kayu seperti gambar di sebuah almanak: President Lyndon B Johnson’s house. Baiklah, imajinasiku kali ini terlalu berlebihan.

Aku kemudian mencoba menebak-nebak ke mana mom akan membawaku. Bulan lalu ia berbaik hati mengantarku ke sebuah komunitas Muslim di Minneapolis. Di sana banyak terdapat imigran Somalia yang beragama muslim. Aku surprised dengan dinamika muslim di sana. Walaupun banyak terdapat perbedaan, kurasa mereka orang yang mau terbuka. Pernah juga suatu kali aku diajak mom ke sebuah gereja. Ia memintaku berdiri saat acara kebaktian selesai, untuk diperkenalkan kepada hadirin lain. Awalnya aku sempat takut, tapi ternyata itu hanya pikiran negatifku saja. Kurasa dunia ini begitu sempit untuk dilihat hanya dari satu sudut pandang.

“What memory?”

 

“Let’s see” Bagus, ia berhasil membuatku penasaran.

Mom orang yang senang bercerita. Tapi tidak untuk kehidupan pribadinya, kurasa. Pernah suatu kali, Josh, anak yang tinggal bersamanya bercakap-cakap denganku. Ia bilang kalau dirinya bukan anak kandung mom. Josh bahkan bilang ia adalah cucu mom, hasil hubungan gelap antara anak mom dan seorang pria “yang tidak bertanggung jawab”. O well, baiklah, ini isitilah buat anak Indonesia sepertiku. Tapi untuk orang Amerika, aku tidak tahu.

You’re a liar. Nggak mungkin kalau kamu bukan anak mom” kataku suatu hari kepada Josh. Ia orang yang sangat terbuka. Agak menyesal juga aku mengiyakan perjanjian sewaktu di Indonesia dulu, untuk tinggal bersama seorang single parent yang berprofesi sebagai manajer rumah sakit, dengan satu anak lelaki yang menyebalkan selama setahun.

“Cek aja. Nih, aku telepon mom yah” katanya, lalu ia tekan tombol loud speaker. Ia pura-pura bertanya tentang kabar ibu kandungnya. Kudengar dengan jelas jawaban mom tentang kabar Ashley, ibu kandung Josh. Ashley pernah kutemui saat kali pertama aku sampai di rumah mom. Ia tipikal orang yang tak banyak bicara. Mom bilang Ashley bekerja di Ohio, hanya pulang pada momen tertentu.

“Nah, Andin, kamu percaya kan sekarang aku anak Ashley, bukan mom?” Josh tertawa-tawa di depanku. Sementara HP lupa ia matikan. Dari seberang kudengar mom marah-marah.

“Andin’s there? Hey, what did you do, Josh?!! She’s Asian, Josh! Wait until I arrive back home! Josh! Josh, I will….” Lalu Josh mematikan telepon genggamnya karena panik.

Tidak perlu kuceritakan kejadian selanjutnya seperti apa. Aku? Ya ya ya, baiklah! Aku sangat terkejut dengan kenyataan itu. Anak tidak tahu diri. Bangga sekali menjadi anak hasil hubungan gelap. Baiklah, ini masih istilah orang Indonesia. Diam-diam aku bercerita kepada mom suatu hari, ujung-ujungnya Josh dimarahi habis-habisan. Butuh berminggu-minggu untuk meluruhkan dendam Josh padaku. Lalu kami baikan lagi. Aneh bukan?

Mungkin aku harus membiasakan diri dengan karakter Josh yang senang bercerita. Sama seperti kebanyakan remaja lelaki Amerika, Josh tipikal orang yang tidak neko-neko. Berbeda dengan mom yang cenderung lebih menghormati kulturku sebagai orang Asia. Bagi orang Asia yang hanya menumpang, free sex masih menjadi hal yang tabu, tapi tidak dengan mereka yang lahir, besar, dan tumbuh di Amerika beberapa tahun lamanya.

Kalau saja waktu itu aku tidak mengobrol dengan Josh, barangkali mom tidak akan menceritakan kehidupan Ashley kepadaku. Mom bilang Ashley mengandung Josh saat masih duduk di bangku SMP. Ia sempat terkejut mengetahui kenyataan itu. Namun sampai sekarang, Ashley enggan bercerita siapa ayah Josh. Ia memilih diam, lalu meneruskan kehidupannya secara normal.

Sejak mendengar cerita itu, aku seringkali tergidik ketika melihat beberapa kawanku berjalan di koridor sekolah dengan perut yang terisi. Di sekolah-sekolah Amerika pemandangan demikian sepertinya sudah lazim. Tapi tentu tak semua orang seperti itu, ada juga yang merasa bahwa keperawanan adalah hal yang sangat penting, dan institusi pernikahan adalah hal yang sangat sakral.

“Ok, this is the place…” mom kembali menarik gigi mobil. Aku terjaga, tak terasa sudah satu jam aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Hanya sedikit cakap sepanjang perjalanan tadi. Begitu sampai, Mom langsung memarkirkan mobilnya di sebuah gedung berwarna krem. Bangunannya seperti sebuah minihotel. Ada banyak pohon di boulevard depan gedung tersebut. Musim gugur membuat boulevard dipenuhi daun-daun yang berwarna hijau jingga: Maple! Keindahannya masih membuatku takjub. Jauh lebih indah dibandingkan hanya melihat dari dalam mobil. Aku belum pernah melihat daun sebanyak ini berguguran.

 

Aku sempat menarik ujung kemeja mom, seolah-olah bilang kepadanya, “Mom, tunggu, aku ingin main ke boulevard, biarkan aku menikmati ini dulu”. Seperti bisa membaca pikiranku, mom tersenyum lalu berkata, “Setelah masuk ke gedung di depan, kita akan main ke sana ya”. Ah, tepat sekali.

Kami kemudian masuk ke gedung yang seperti hotel itu. Di sana banyak terdapat kamar. Ada sebuah ruangan untuk menonton televisi bersama-sama. Lalu juga semacam ruangan yang terdiri dari kelas-kelas. Kondisinya tenang, bersih, rapi, tapi…..menyedihkan?

“Ms.Pearsly…” seorang perempuan berseragam menyambut kami di meja resepsionis, di antara kamar-kamar yang tampak sendu itu.

“Yes?”

“What do you bring for your husband?”

“Turkey”

Deg. Ada sesuatu yang berdetak kencang. Semoga saja telingaku betul-betul telinga orang Indonesia, yang masih sering salah dengar bahasa native.

 

“So, as usual..”

“Ok, come in”

Beberapa menit kemudian aku melihat seorang lelaki berwajah sendu di sebuah kamar. Mom menghampiri lelaki itu. Ia begitu linglung. Ekspresinya datar. Sekalipun kepalanya dielus-elus, tak ada gerakan yang berarti. Diam seribu bahasa. Pelan-pelan mom menyuapi lelaki tua itu dengan masakannya sendiri. Awalnya ia tak mau, tapi perawat membantu mom dengan sabar. Aku duduk di kursi kamar, berpikir tentang banyak hal. Tentang status mom yang single parent, tentang Josh, tentang Ashley, tentang banyak hal.

Sekeluar gedung itu kami saling terdiam. Aku bingung bagaimana memulai percakapan. Mom juga sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri. Kami berjalan beriringan menuju taman kota. Yellowish memenuhi jalan. Perasaanku tidak sesenang saat kali pertama melihatnya.

“Kami dulu bertemu di sini” tiba-tiba saja mom bersuara saat kami sedang jalan berdua di Taman Kota “Saat musim panas tiba, dad sering jogging pagi-pagi di daerah ini. Ia pernah menjadi seorang atlet marathon sambil terus studi menyelesaikan PhD-nya. Jika musim gugur tiba, dad sering menyendiri di taman ini, menulis puisi tentang maple

“Lalu?” tanyaku, dengan wajah tenang, walau dalam hati aku siap melompat.

“Lima tahun yang lalu ia terserang alzheimer [3], saat sedang latihan lari di stadion. Aku selalu menengoknya satu minggu sekali di akhir pekan. Kupikir tubuh dia sehat walaupun sudah tua, tapi entah mengapa penyakit itu tiba-tiba saja terjadi”

“Menengok rutin? Tetapi ia kan diam saja, Mom. Buat apa?”

Mom tersenyum, “Kalau saja di depan gedung tadi tidak tumbuh pohon maple…” jawabnya. Tiba-tiba saja aku menyesal mengatakan pertanyaan bodoh itu.

Sebenarnya dalam hati yang terdalam aku ingin sekali bilang, “memang ada apa dengan pohon maple sih?” Tapi aku tidak ingin memperpanjang perkara. Kubiarkan mom berjalan sendiri, sedikit mendahului langkahku. Yellowish kali ini bisa sedikit kunikmati dengan lebih santai.

Lagi-lagi seperti bisa membaca pikiranku, mom berujar “Beberapa orang menganggap pohon maple sebagai simbol janji. Tapi entah mengapa, ia tampak lebih cantik saat daunnya berguguran. Walaupun Dad sudah sama sekali tak bisa ingat apa-apa, tapi kenangan akan selalu ada selama pohon maple tumbuh”

Aku mengerutkan kening, berpikir lama sambil menginjak satu demi satu daun yang bertebaran di jalanan. Cuaca berubah, semakin dingin (*)

Keterangan:

[1] Taman kota

[2]  Makanan khas perayaan Thanksgiving di Amerika, berupa sajian kalkun panggang untuk makan bersama keluarga besar. Perayaan Thanksgiving di Amerika disebut juga dengan ‘Hari Kalkun’. Biasanya semua orang berkumpul bersama keluarga besar. Awalnya perayaan Thanksgiving adalah bentuk syukur atas panen yang berhasil, namun sejak 1983 diperingati sebagai hari raya nasional.

[3]  Sebuah penyakit yang didasarkan pada penurunan kemampuan mengingat yang progresif. Serangan penyakit Alzheimer ditandai dengan kehilangan daya pikir secara bertahap dan akhirnya dapat menjadi cacat mental total.

-inspired by true story and a small research done-