Empat Kesepakatan

/I/Musim panas mengeringkan kenangan,

aku dan kau sandar pada debu-debu jalanan

/II/Musim hujan membasahi dedaunan,

aku dan kau cakap pada embun kerinduan

/III/Musim gugur menjatuhkan daun-daun,

aku dan kau cemas pada hitungan kurun

/IV/Musim dingin mengantarkan musim semi,

aku dan kau henti pada larik puisi?

Subuh

Dulu kita pernah berjanji di kala subuh,

Terasa,

pada langit abu-abu, bayangmu meremang

Seperti kata yang meruap cepat,

hari-hari semakin dekat

“mungkin tidak sekarang”, katamu

Tercekat,

senja datang, subuh menghilang

 

Desember

Aku mendengar suaramu,

dari jarum-jarum jatuh

Aku melihatmu,

Dari sini, dari jauh

Aku merasa kemarau semakin dekat,

daun2 berubah coklat

Mungkin pertanda kau tiada

Desember, tak bisakah ada celah untuk bicara?

Menunggu

Dulu sempat kau tinggalkan batas kota,
dari jendela kereta

Menunggumu seperti berdiang di perapian
Ada dingin yang tak bisa diterjemahkan

Aku ingin membunuh waktu, yang lari bersama jerit besi baja

Teduh

Hitam, pekat, ruap

padu jadi satu

mengangkut segala di bahu

Sebutir jatuh di tapak kaki

makin gigil, makin retak

Jangan terburu

tunggu sampai awan merendah

biar teduh, biar luruh

Delusi

Sore ini aku mendengar mendung berbisik,

Pelan jarum-jarum turun mencipta partitur di genting rumah,

Musim ini, masa nanti, mungkin cinta sesaat menjelma jadi jeda

Hanya ada nama di kaca jendela; lalu embun,

lalu angin, lalu batin yang kian mendingin

tapi nyanyian gerimis hari ini terlalu sumbar untuk didengar,

Ah, Put, aku terperangkap

Karena ternyata yang kurindu saat hujan

hanya serat-serat semesta tak bernyawa

Jauh 

Mungkin kau dan setengah jiwamu belum terlalu siap untuk kehilangan. Hanya satu yang mengikat hati-hati kita. Tetap do’a kau suluh walau jasad begitu jauh.