Life is like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get (Forrest Gump’s mama)

Sudah sekira lima bulan sejak saya keluar dari ruangan yang membuat jantung tak henti-hentinya berdetak. Itu artinya, sudah hampir satu semester sejak saya berteriak, “Alhamdulillah, 93!” lalu Raisha dan Beffy memeluk saya sambil berkata, “Dewa!”

Euforia pascasidang. Penggalan kenangan itu adalah euforia bagi saya. Rasa lega saat lepas dari sebuah proyek bernama skripsi.  Hehe. Proyek yang sempat membuat saya kewalahan karena saya dihadapkan pada sulitnya menentukan pilihan hidup. Di kala 80 persen kawan-kawan lebih memilih tidak mengambil skripsi karena tidak wajib, saya memilih bekerja lebih keras agar bisa menyelesaikannya walau dengan kondisi yang tidak kondusif, yaitu saat mendapat kesempatan 1.5 bulan exchange ke Thailand, serta saat saya berada di bawah tekanan PS yang “memaksa” saya untuk meneliti dua data. Artinya, pada saat itu, saya harus menyelesaikan kira-kira empat ratus lebih lembar skripsi dalam waktu empat bulan. Alhasil, banyak agenda “jalan-jalan” di Thailand yang saya skip. Dan tak lupa juga, sepuluh kilo buku referensi saya bawa dari Indonesia agar rencana saya berjalan lancar, sampai pada akhirnya PS saya berbesar hati, memberikan saya kesempatan menyelesaikan satu data saja saat saya pulang ke Indonesia. 160 halaman akhirnya saya selesaikan dengan seringnya saya membunuh waktu malam.

Satu bulan pascasidang saya dan kawan-kawan disibukkan dengan persiapan wisuda. Saya ingat sekali, dua hari sebelum wisuda saya masih sibuk mengurusi urusan organisasi di Depok. Ibu dan ayah saya sudah marah-marah, because I had nothing to do with the preparation. Sampai saat ini saya masih merasa bersalah karena semua persiapan saya lakukan dengan amat terburu-buru.

“Kenapa melulu mengurusi orang, buat diri sendiri aja belum?!”

Dan semuanya sudah berlalu, tentang kelalaian saya, tentang kebaya yang buru-buru dibuat, tentang jasa make up dan rias jilbab oleh tante, tentang segala kericuhan rumah. Hingga saat ini bahkan tidak ada foto wisuda bersama keluarga secara resmi, karena sehari setelah wisuda saya kembali tak bisa pulang. Diikat suatu pekerjaan. Kata “maaf” bisa mewakilikah? Entah.

Semua sudah berlalu. Semua kesibukan sudah menjadi memori. Semuanya terasa begitu cepat. Tentang kesibukan saat mengikuti kompetisi bisnis, tentang kesibukan magang di rektorat, tentang obrolan karir bersama banyak pihak, tentang segala kejadian yang membuat saya terlatih untuk lebih bersabar. Hehe.

Lalu tinggalah saya dan sebuah coretan kertas di kamar: rencana karir dan studi.

Bulan Desember saat ini. Bulan yang agaknya membuat orang-orang was-was karena dekat sekali dengan awal tahun. Harus ada resolusi tentu. Harus ada perubahan sikap yang lebih dewasa. Karena, tak dapat dimungkiri, dunia begitu berbeda. Sangat berbeda. Terasa sekali saat satu per satu misi yang saya lakukan mengalami beragam tantangan. Mulai dari plan A, lalu beralih ke plan B, lain waktu ke plan C, kemudian ke plan D, dan seterusnya. Sangat panjang jika harus saya ceritakan satu persatu.

Agaknya memang saya harus bersabar. Menggapai suatu keinginan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak pertimbangan, banyak catatan, banyak campur tangan orang, dan tentu saja, campur tangan Tuhan. Banyak hal yang sepertinya membuat saya menghela nafas, tapi sekaligus membuat saya lebih banyak belajar. Tidak akan berhenti untuk menggapai mimpi dan memaksimalkan ikhtiar. Tidak akan pernah berhenti untuk membuat orangtua dan kawan-kawan saya bahagia. Saya hanya yakin, Allah tengah mempersiapkan yang terbaik bagi saya (*)