Ada cerita yang membuat saya tercenung pagi tadi. Kala itu ibu saya menghampiri saya di tepian ranjang kamar. Dengan suara yang pelan—barangkali khawatir adik perempuan saya yang masih terlelap dengar—ia memulai cerita yang membuat saya menahan nafas.

“Kemarin R datang kemari” kata ibu saya. R? Sudah sekian lama saya tidak dengar kabar pemilik nama yang familiar itu.

“Iyah, teman adik lelakimu itu pinjam uang buat nikah” saya tergidik. R yang saya tahu masih seumuran adik lelaki saya, menjelang atau mungkin lebih dari 21 tahun. Ia dulu sangat akrab dengan adik saya sewaktu SMP. Tapi kondisi ekonomi membuat ia tak bisa meneruskan sekolahnya sampai tingkat SMA.

“Katanya dia udah punya pacar. Keluarga si perempuan maunya R langsung nikah sama si D. kalau gak gitu, katanya lebih baik putus aja”

O baiklah, sulit menggambarkan ekspresi saya ketika mendengar kabar itu. Hanya saja saya spontan bertanya, “dia kerja?”. Pertanyaan standar. Dan saya yakin, semua akan bertanya hal yang sama.

“Dia cuma bilang ‘insyaAllah, Ummi, ada lah pegangan’, kata R. Ibu sempat kaget waktu adikmu bilang R mau kemari pinjam uang buat nikah. Ummi sempat emosi kalau-kalau dia hamilin anak orang”

“Oh yah?”

“Dia sampai sumpah-sumpah bilang nggak. Kemarin datang sama saudara lelakinya. Pagi ini dia mau datang lagi, mau ummi tanya lebih detail”

Ibu saya kemudian mengalir saja meneruskan ceritanya. Katanya ia bingung, antara ingin meminjamkan atau tidak. Kalau tidak dipinjamkan, ibu saya khawatir mereka melakukan zina. Rumah juga sedang direnovasi, dan malam ini gigi saya akan dibehel. Itu artinya, keluarga sedang banyak pengeluaran. Tetapi kalau dipinjamkan, ibu saya justru akan lebih khawatir karena mungkin R hanya emosi sesaat saja. Ia cukup tahu kondisi keluarga R. Ibunya hanya membuka warung dan ayahnya seorang tambal ban. Bagaimana mungkin R, di usianya yang masih muda, dan hanya lulusan SMP bisa menghidupi anak istri nanti? Alih-alih menghidupi, seperti kasus kakak pembantu saya, mungkin hanya akan berakhir dengan talak karena sang suami tidak bisa membangun ketekunan dalam cinta, dalam pekerjaan, dalam komitmen.

“Kalau satu juta saja sih mungkin bisa. Tapi bukan masalah uang yah, Teh. Ummi cuma takut dia nekad. Dikira gampang apa rumah tangga itu? Lagipula ummi juga belum tahu keluarganya mengizinkan atau tidak. Tapi ummi tetap dengar curhatnya karena ingat cerita abahmu dulu, waktu melamar ummi. Dia sama sekali gak punya uang”

Saya tertegun. Berputar memori saya mengingat kisah lamaran ayah. Kisah orangtua saya memberikan pelajaran bagi saya. Entah apa yang menggerakkan ayah saya untuk melamar ibu saya. Ah yah, jelas cinta. Tapi sungguh, ia waktu itu hanya bermodalkan nekad. Beberapa hari setelah lulus tes CPNS ia datang ke rumah kakek. Semua keluarga besar mencibir. Tampang ayah saya sangat culun waktu itu, baru juga dapat PNS, belum ada penghasilan masuk, belum punya modal nikah.

“Kalau kamu benar-benar mau menikahi putri saya. Datang lagi besok!!!” kakek saya mengancam. Ia tahu ayah saya belum ada pegangan sama sekali di usianya yang menginjak 29 tahun. Tapi sungguh nekad, keesokan harinya ayah saya datang dengan modal pinjaman. Hanya dua ratus ribu rupiah. Kalau di-convert sekarang, sekitar dua juta. Makanya, foto pernikahan orangtua saya tidak sama sekali seperti orang menikah. Hanya syukuran biasa.

Ibu saya bahkan bilang, hingga menikah pun keluarga sama sekali tidak setuju. Beberapa lamanya ayah saya hidup dalam “keminderan”, tapi ibu saya tahu, ayah saya itu punya “modal” lain sewaktu mahasiswa. Walau ibu saya sama sekali tidak ada perasaan cinta, walau ia tahu ayah saya tidak ada uang sama sekali, ia bisa objektif memilih siapa lelaki yang bisa membangun ketekunan dalam melakukan hal-hal yang baik. Kalau lelaki itu tekun dalam belajar, dalam berorganisasi, dalam mencari ilmu, dalam beribadah, ia tentu akan tekun dalam mencintai, membangun kehidupan yang lebih mampu dan mapan. Dan itu terlihat dalam pribadi ayah saya. Hingga kini ia ayah saya bisa membuktikannya. Ia lebih mapan dibandingkan saudaranya dan saudara ibu saya.

Kembali lagi ke R. Barangkali kasusnya mirip dengan ayah saya. Hanya saja, ibu saya melihat R belum memiliki ketekunan yang dimaksud ibu saya. Akhirnya, saat R datang lagi, ibu saya menasihati R agar tidak terlalu terburu-buru, apalagi kalau ia mendapati fakta bahwa R hanya kerja menjadi penjaga rental PS yang gajinya hanya seratus dua ratus ribu sebulan.

Saya mendapat satu pelajaran dari cerita ibu saya, bahwa menikah itu harus betul-betul dipersiapkan dengan matang. Apalagi umur saya sudah menginjak 22 tahun dan sudah mendapat title S.Hum. Wajar kalau ada beberapa yang mengajak saya untuk serius, tapi sejujurnya saya belum siap untuk menggenapi separuh din. Saya masih muda, masih banyak mimpi yang harus dicapai. Masih harus membenahi lambung saya yang kadang masih kumat karena magh.

Wajar juga kalau dalam fase hidup ini, saya seringkali mendengar beberapa kawan yang mengalami kegagalan cinta karena hubungannya hanya dibangun oleh passion, bukan komitmen untuk “beribadah”.  Saat seorang perempuan meminta lebih serius, beberapa lelaki biasanya ketakutan karena belum memiliki pegangan. Mengakhiri memang lebih baik jika keduanya belum memiliki keyakinan. Hanya bermain-main dengan segala kemungkinan, itu tak baik bagi keduanya. Di sisi lain, ada juga kawan-kawan saya yang sejak kuliah berpacaran, dan ketika lulus sang lelaki berjanji lebih serius. Saya harap keduanya bisa bijak dalam memutuskan apapun pilihan hidupnya kelak.

Oh yah, suatu hari saya pernah berdiskusi tentang pernikahan dengan ayah saya. Sebelum saya lulus, ayah saya sangat strict melarang anaknya menikah ketika kuliah S1. Bahkan ia dengan tegas meminta saya harus menyelesaikan S2 sebelum menikah. Akan tetapi, saat saya lulus, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dari ayah saya. Ia seringkali berkata, “kalau ada calon, bawalah ke rumah biar ayah tahu”, atau “Jangan sembarangan yah cari suami. Tapi jangan juga kamu merendahkan. Kalau ada yang suka dan kamu gak suka, hargai saja. Jangan pernah menyakiti. Jangan gengsi juga dengan latar belakang universitas calon kamu, yang penting aqidahnya bagus dan tanggung jawab aja cukup. Kalau di tengah kuliah S2 ada yang sudah pas, terserah saja asal kamu bisa bertanggungjawab pada pilihan kamu”. Pernyataan ini jauh lebih bijak dari yang saya dengar dua tahun lalu.

“Kalau ayah pernah keliling 7 negara dan memiliki 1600 buku, maka mantu ayah harus lebih baik dari itu” ini diucapkan ayah saya dua tahun yang lalu. Berlebihan sekali. Barangkali beliau hanya bergurau.

Saya sungguh tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Saya berusaha sekuat mungkin mengikuti plan hidup saya untuk menyelesaikan S2 terlebih dahulu, orangtua saya bahkan cenderung lebih mendukung pilihan ini, tapi tidak tahu juga bagaimana waktu menjawab, dan bagaimana Allah menjawab do’a saya, dan bagaimana lingkungan saya nanti, saya tida tahu. Saya tidak berani men-judge sana-sini, begitupun orangtua saya. Saya hanya akan berpegang pada nasihat ibu saya, “berbuat baik saja saat ini, tidak perlu pusing-pusing, insyaAllah karir dan jodoh juga akan ikut jadi baik”

Kalau ketika mahasiswa saya masih bisa bilang A, setelah lulus dunia berubah begitu cepatnya. Banyak pertimbangan dan banyak pengalaman yang memberikan saya pelajaran hidup. Semuanya tentu membuat saya harus selalu semakin dekat dengan Allah. Bagaimanapun hanya do’a dan ikhtiar yang tiada putus yang bisa menjawab segala persoalan hidup (*)

wallahu’alam