Sudah setahun berlalu sejak kali pertama aku menulis surat untuk-Mu. Aku ingat, saat itu aku me-review kembali perjalanan hidup di tahun 2010. Entah mengapa, saat ini, rasanya aku tidak ingin menulis surat dengan bahasa yang biasa aku pakai. Ini Desember 2011, Tuhan! Itu artinya, aku harus me-review perjalananku di tahun ini.

Tentu tak banyak yang bisa aku ceritakan. Kau tidak butuh ceritaku, Kau Maha Tahu, karena semua yang terjadi di belakang ada dalam kendali-Mu🙂

Aku sempat kehilangan pegangan beberapa bulan di belakang. Kau tentu tahu. Banyak hal yang cukup mengejutkan terjadi, pada bulan-bulan ketika aku lupa menulis surat untuk-Mu. Rasa-rasanya waktu begitu cepat. Aku sendiri bingung bagaimana harus mengucapkan syukur kepada-Mu. Tentang kesempatan untuk merasakan studi di Thailand, tentang skripsi yang mendapat nilai memuaskan, tentang proyek bisnis sosial yang mendapat respon sangat baik dari publik, tentang betapa banyaknya orang-orang yang menyemangati hari-hari (thanx to gank labil ILDP’ers: Fik, Adhul, Ijo, Fiza, Jay, Wahyu, dan Ika; gank main badminton dan nonton 21 Bela C.S; gank Langit Sastra) tentang beragam lamaran pekerjaan yang membuatku galau, hehe, tentang kehidupan pascakampus yang wow, tak terbayangkan akan sebegininya, tentang kondisi fisik yang sempat drop karena batin saking lelahnya, ups, tentang bagaimana harusnya aku memaknai ‘hidup’, memaknai ‘cinta’, ‘ketekunan’, dan ‘kerja keras’.

Maka izinkan aku mengucapkan hamdalah. Atas segala nikmat yang Kau berikan padaku. Pernah sekali waktu merasa jenuh, menangis, ingin sekali marah, tapi lagi-lagi, Kau selalu menunjukkan jalan agar aku bisa b e r s a b a r.

Selalu suka dengan puisi ini, wahai Tuhan. Untuk 2011 ini, ini puisi yang aku pilih:


lautan mengangkut kerdil

malam mengangkut jarak

hutan mengangkut doa

hujan mengangkut kapan

aku mengangkut masih

(Budhi Setyawan, “Sabar”)

 

Di tahun ini juga aku menemukan seorang kawan yang membuatku merasa berbeda. Darinya aku berkaca:

“Kalau begini terus tidak akan pernah baik”

“Kalau seperti itu, hidup tak akan jadi baik”

“Kenapa memusingkan sesuatu yang tidak baik sih?”

“Kok marah?”

“Please please please!”

“BERHENTI!”

“Aduh jatuh!”

“JALAN LAGI, ALF!”

Yah, sejak bertemu dengannya, perahu kertasku berputar arah. Aku sadar, hidupku pelan-pelan berubah (*)