Musim Hujan

Dulu sekali, kau datang tanpa diundang. Aku tak mengerti bagaimana mulanya kita saling bercakap. Yang kutahu, setiap mendung datang, aku yakin, itu saatnya kau membagi kebahagiaan. Sungguh bukan ketakutan yang kurasa. Berlarian di tengah-tengah dirimu, tertawa dan bermain bersama kawan-kawan di antara rinaimu, adalah kesenangan yang tidak bisa tergantikan.

Aku belum mengenalmu, sampai kutahu kau ternyata membuatku sakit. Apalagi jika aku tak segera membersihkan badanku.

Aku belum mengenalmu, sampai kutahu betapa aku membenci dirimu, karena setiap pagi kau datang, setiap itu pula aku jadi telat berangkat ke sekolah

Aku belum mengenalmu, sampai kutahu kalau banyak orang mengutukmu karena banjir yang tak kunjung berakhir

Beberapa lamanya membersamai dirimu, betapa kutahu setiap lakumu itu menjengkelkan. Kukira perjumpaan kita dulu–sebelum aku mengenalmu, Hujan–hanyalah kebahagiaan sesaat. Seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba mendapat kawan yang memiliki minat yang sama; main bekel, karet, dampu, gobak sodor, petak umpet, dan sebagainya, lalu tiba-tiba menangis begitu dicurangi.

Hingga sekitar mulai gelap. Kudongakkan kepalaku ke langit. Arakan awan itu pertanda waktu. Kau sudah dekat. Aku menghindar. Lebih baik berlari saja ke dalam rumah. Lebih aman.

Musim Kemarau

Kemarau panjang. Rasa-rasanya kejengkelanku pada hujan sudah berkurang. Tapi entah mengapa aku merasa kehilangan sesuatu. Biasanya setiap hari ada saja yang membuat urat leherku sakit karena kesal. Tapi sekarang? Aneh, tidak ada, kenapa aku merindukanmu?

Selepas Kemarau

Baru saja sampai rumah. Ada jejak-jejak rintikmu di jalanan sepulang sekolah tadi. Pelan-pelan kau turun, jatuh membasahi tanah pekarangan. Aku memerhatikanmu dari jendela kamar. Ada yang aneh. Embun di kaca kuusap-usap, demi bisa melihat, demi bisa menyadari bahwa kau sesungguhnya begitu indah, bahwa kau adalah guru bagiku untuk mencipta sajak.

Lalu kucari jendela lain yang berembun. Kutulis namamu di kaca jendela. Tak akan aku seka. Aku salah menilaimu. Ah, kenapa aku mulai menyukaimu? Karena kejujuranmu menampilkan sesuatu?

Sejak itulah setiap harinya kau selalu membersamaiku, terutama pagi hari. Lama-lama aku merasa nyaman. Sepertinya kau tak hendak membuatku sakit. Karena ketulusanmu, caramu memberikan inspirasi membuat aku takut untuk (barangkali suatu hari nanti) berpisah denganmu.

Maka setiap hari kau turun. Aku senang. Sungguh. Tapi lama-lama petir menyambar. Begitu keras. Begitu kencang. Aku tak hendak mengeluh karena petir adalah juga kawanmu. Tanpanya kau tak akan muncul kemudian. Tapi, aneh, suara petir yang bersahut-sahutan itu lambat laun membuatku takut. Takut untuk membersamaimu. Takut kalau-kalau aku justru tidak berani ke luar dari rumah. Takut kalau di  malam hari aku tak bisa tidur karena gemuruhnya.

Maka perlahan aku memintamu untuk berhenti turun. Tapi kau malah semakin bersikeras untuk terus turun. Semakin deras. Semakin lama. Kucoba ke luar rumah, lalu kubuka payungku setelahnya. Petir kembali menyambar. Mahadahsyat kali ini. Pelan-pelan aku menutup payungku dan berusaha sebisa mungkin membersamaimu, tanpa rasa takut, rasa sakit, rasa nyeri.

Tapi kau tahu-tahu saja berhenti. Ada apa?

Ah, aku tahu, kau tak mau membiarkan aku sakit.