Kampung Kusta, 2011

Hujan mengguyur perkampungan Sitanala. Jalanan seketika berubah menjadi becek. Pelan-pelan aku bersejingkat, mencari cara agar kaki dan ujung rokku tidak terkena genangannya. Jalan yang aku dan kawan-kawanku lalui masih sama. Tak ada bedanya seperti satu tahun yang lalu. Rumah-rumah yang tak seberapa luasnya—hanya satu dua petak kamar—becak tua, sapu lidi, dan kandang ayam untuk menyambung hidup, juga para penghuni rumah, yang setiap hari menadah uang dengan mangkuk plastik atau gelas bekas air mineral di jalanan besar Kota Tangerang.

Tiga ratus kepala keluarga tinggal di kampung itu. Kebanyakan adalah orang-orang yang merasa minder untuk bergaul dengan masyarakat. Jemari yang tak sempurna, kaki palsu yang dipakai untuk berjalan, serta wajah yang memiliki bekas-bekas luka membuat kepercayaan diri mereka nyaris mati. Banyak orang yang takut untuk datang. Banyak orang yang tergidik ngeri bahkan. Banyak juga yang tak tahu bahwa ada kehidupan dinamis di sana. Di Kampung Kusta Sitanala mereka mencari penghidupan. Kampung yang terbuang, dekat dengan gemerlap kota, tapi jauh dari nurani para penduduknya.

****

“Ffffh, telat lagi ya, haha!” Ijo menghibur diri sambil terus menghndari kakinya dari becek. Hujan mulai reda, tinggal gerimis. Aku, Fiza, dan beberapa kawan lainnya terus berjalan menerobos gerimis dengan payung, sambil senyum-senyum sendiri, melihat betapa sibuknya Ijo membersihkan roknya yang terkena cipratan lumpur.

“Tiiiin” suara klakson motor “Duluan ya!” Jay dan Adhul melewati kami. Mereka menyusul dengan mengendarai motor. Dua kawan lelaki kami itu memang selalu setia membawakan barang-barang proyek sosial.

“Eeet, untung kagak kena lumpur ya kita gara-gara tuh motor” sungut Ijo, tapi reda lagi begitu melihat mesjid sudah dekat.

Dari kejauhan tampak beberapa ibu warga Kampung Kusta sudah menunggu di selasar mesjid. Aku, Fiza, Ijo, dan kawan-kawan mempercepat langkah, demi bisa memenuhi janji untuk datang tepat waktu. Tapi sayang sekali, kali ini kami gagal lagi. Menunggu bus 81 dari Depok sepertinya membutuhkan kesabaran ekstra. Sampai di kampung kami disambut gerimis, dan semoga saja, tidak ada sambutan protes dari ibu-ibu.

“Assalamu’alaikum. Aduh ibu, maaf yah telat, nunggu bus lama banget, ujan lagi nih” sapaku, mencairkan beku. Jam 13.30 hari itu, telat setengah jam dari jadwal yang disepakati.

“Yah, Neng, yang lain juga masih pada di rumah tuh, ujan, jadi pada telat juga. Udah di SMS-in lagi. Ntar ke sini katanya” Ibu Emi menyahut, sambil memasangkan kembali kaki palsunya yang sempat ia lepas di selasar mesjid. Aku tertegun lama memperhatikan bagaimana ia memasangkan kaki palsunya. Sempat terkejut saat kali pertama bertemu mereka, ibu-ibu Kampung Kusta Sitanala, yang kebanyakan di antaranya memiliki jemari yang tak sempurna.

Demikianlah kondisi para perempuan kampung yang kami berdayakan. Virus kusta pernah menyerang saraf tepi mereka hingga mati, sehingga dulu mereka harus dirawat di Rumah Sakit Kusta Sitanala, tepat di depan kampung mereka. Bekas-bekasnya masih terlihat jelas walau mereka sudah sembuh total. Diskriminasi dari masyarakat membuat mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan layak. Alasannya beragam, ada yang mengira mantan penyandang kusta masih menularkan virusnya, ada juga yang jijik melihat bekas-bekas busuknya, dan lain sebagainya. Yang jelas, dekat-dekat dengan mereka adalah sesuatu yang menakutkan bagi kebanyakan orang. Padahal, mereka bukan pasien, mereka sembuh, sehat tanpa menularkan penyakit.

Entah dorongan apa yang membuat kami lebih berani. Rasa ibalah yang mengetuk pintu hati kami untuk datang ke kampung hampir setiap minggunya. Mereka, para mantan penyandang Kusta, adalah orang-orang terpinggirkan. Alih-alih pulang kampung setelah perawatan, tinggal di tanah Sitanala yang sewaktu-waktu bisa digusur menjadi pilihan bagi mereka. Banyak keluarga yang pada akhirnya membangun rumah yang hanya sepetak dua petak dan menyambung hidup dengan pekerjaan alakadarnya: tukang becak, penyapu jalan, buruh cuci, calo, hingga peminta-minta. Tengoklah para pengemis di jalanan kota Tangerang. Jika si pengemis memiliki tubuh yang tak sempurna, bisa dipastikan mereka berasal dari Kampung Kusta Sitanala.

“Maaf baru ke sini lagi yah, Bu. Baru ada rejeki lagi” Fiza, ketua proyek bisnis sosial kami mulai membuka pertemuan, setelah kami menunaikan shalat zuhur di mesjid. Sementara kawan-kawan yang lain membantu merapikan bahan jilbab dan manik-manik yang warnanya telah disesuaikan.

Memang terkadang kami mengalami kesulitan untuk bisa datang rutin karena beragam kendala, mulai dari pasang surut dana, jarak yang jauh dari Depok ke Tangerang, hingga komitmen dan kesibukan anggota. Melakukan pekerjaan bisnis sosial itu susah-susah gampang. Apalagi yang membuat kami bertahan jika bukan rasa cinta dan peduli? Kalau saja tak ada perasaan itu, mungkin kami lebih memilih untuk tidur-tiduran di kamar, alih-alih datang ke kampung, membagikan honor memayet jilbab, membuka bazar untuk promosi produk di acara-acara kampus dan mall, menitipkan barang ke toko, memasukkan proposal ke sana kemari, rapat sana-sini, hingga menemui para investor agar bisa mendapatkan dana lebih. Semuanya harus dilakukan tanpa pamrih. Tanpa sepeserpun uang atau keuntungan untuk para pelaksana proyek. Semua keuntungan yang ada diputar lagi untuk pemberdayaan.

Seperti biasanya, tugas kami satu di kampung itu, memasok bahan jilbab dan manik-manik untuk dua puluh ibu-ibu keluarga mantan penyandang kusta yang kami berdayakan. Mereka kami latih dan pekerjakan agar bisa membuat jilbab payet, lalu hasilnya kami bantu pasarkan secara on line maupun off line. Pemberdayaan yang kami lakukan tidak lain untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka dan memberikan mereka penghasilan tambahan. Selama ini, yang kami ketahui, program pemerintah dan LSM yang ada masih bersifat taktis, hanya memberi sembako atau barang-barang yang sekali habis. Lain dengan proyek bisnis sosial yang sifatnya berkelanjutan. Harapan kami, suatu hari ibu-ibu bisa memiliki bisnis sendiri tanpa ketergantungan dengan kami lagi.

****

Proyek yang kami lakukan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku dan kawan-kawan memulainya saat mengikuti kompetisi mahasiswa berprestasi di UI tahun lalu. Para mahasiswa terpilih kemudian disatukan dalam forum Indonesia Leadership Development Program (ILDP). Di sana kami diberi tugas untuk membuat proposal pemberdayaan ekonomi bagi komunitas lokal. Direktorat Kemahasiswaan sempat memberikan modal untuk inisiasi awal, tapi ternyata melakukan proyek bisnis sosial itu tak mudah. Hanya tiga bulan kami disupervisi, seterusnya kami lakukan mandiri. Jenuh, lelah, dan pikiran ingin berhenti sesekali menghantui aku dan kawan-kawan. Tapi tidak ketika kami ingat bahwa memberikan kebahagiaan pada orang lain adalah juga cara untuk membahagiakan diri sendiri. Kami memilih untuk tidak berhenti, sehebat apapun tantangan yang dihadapi. Proyek bisnis sosial ini selanjutnya kami namai “Nalacity”. ‘Nala’ berasal dari Sitanala, dan ’city’ menggambarkan keadaan yang dinamis dan mandiri.

“Kami terus mendukung kakak-kakak kok!” sahut Bu Tini. Sorot matanya menghangat. Ada harapan di sana. Seolah-olah berkata kepada kami, “Jangan berhenti, jangan berhenti, terus berjuang untuk kami!”. Ibu Titin yang kukenal adalah sosok yang tegar. Aku pernah mewawancarai beliau beberapa waktu silam. Ia adalah seorang janda dengan dua anak. Sehari-hari waktunya dihabiskan dengan mengemis di jalanan. Tangannya yang tak sempurna seringkali membuat ia minder untuk bepergian. Ia berkata bahwa ia bersyukur masih ada anak muda yang peduli dan tidak takut membersamai mantan penyandang kusta. Pekerjaan mengemis beliau berkurang karena proyek sosial kami: memayet jilbab.

Lain lagi dengan Ibu Eni. Ia putus sekolah saat duduk di bangku SMA karena ayahnya terkena penyakit kusta. Mau tidak mau, karena rasa minder, satu keluarga diboyong ke kampung kusta setelah sang ayah sembuh. Ibu Eni kemudian menikah dengan mantan penderita yang bekerja sebagai tukang sapu. Mendengar ceritanya, ia adalah sosok yang sangat optimis. Di antara ibu-ibu yang lain, ia rela menghabiskan tenaga dan berkejaran dengan waktu demi mendapatkan beasiswa bagi anak-anaknya. Saat ini dua anaknya disekolahkan di pesantren dan ditargetkan untuk menjadi penghafal Qur’an. Selalu ada perasaan haru saat mengobrol dengan mereka. Itulah sebabnya, kami terus berupaya untuk tidak berhenti melaksanakan proyek ini. Dua puluh perempuan keluarga mantan penyandang kusta membuat kami bersyukur dan memahami makna berbagi.

Sudah setahun berlalu sejak kami kali pertama datang ke sana untuk observasi. Sudah beberapa bulan terlewat sejak kami diundang di Kick Andy Metro TV karena berhasil memenangi kompetisi proposal bisnis. Sudah barang tentu kami harus melewati beragam ujian terlebih dahulu. Diawali dari lima orang, yaitu aku, Ijo, Fiza, Jay dan Adhul, tim kami bertambah banyak seiring berjalannya waktu. Mereka beberapa bahkan berasal dari luar UI. Fahry, misalnya, alumni PNJ, sangat membantu kami dalam melakukan strategi ‘brand produk’ sehingga publik menjadi lebih tertarik. Kondisi para warga yang seringkali membuat kami terenyuh, mendorong kami untuk bekerja lebih giat, demi membuat mereka lebih mandiri.

“Udah sebulan lebih yah, Kak, gak ke sini” ujar Bu Euis. Ia dikenal sebagai ibu yang memiliki kemampuan jahit paling rapi.

“Yah, Bu, maaf yah, kami lama di Depok dan gak ke sini-sini karena banyak kegiatan pemasaran di Depok. Isi seminar lah, buka bazaar, kirim barang ke luar kota, jadi ibu-ibu harap sabar yah” Ijo menjelaskan panjang lebar alasan kami lama tak ke Kampung Kusta. Ibu-ibu mengangguk. Perasaan bersalah kadang hinggap jika kami lama tak berkunjung ke sana.

Di tengah kesibukan yang mendera, dengan diktat kuliah, urusan organisasi kampus, dan pekerjaan di kantor, kami masih menyempatkan diri melakukan proyek bisnis sosial di sana. Terkadang kejenuhan hinggap, tapi kecintaan kami pada mereka, harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik lagi, membuat semangat kami selalu tumbuh tak kenal batas. Aku jadi teringat sabda Rasul, “Tidak sempurna iman seseorang di antaramu, hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.

Aku sungguh bersyukur dipertemukan dengan para ibu mantan penderita kusta dan kawan-kawan yang masih memiliki hati nurani. Semoga semakin banyak pemuda yang melakukan aksi nyata alih-alih sekadar protes akan kinerja pemerintah. Semoga Allah memberkahi kegiatan ini dan membuat kehidupan ibu-ibu keluarga mantan penderita kusta menjadi lebih baik lagi. Amin (*)