Ada satu kebiasaan. Barangkali sebuah melankoli. Saat hati begitu payah ingin sekali mengaduh. Tapi ketiadaan tempat menampung membuat saya mencari sebuah alternatif. Maka monolog menjadi sebuah pilihan. Di saat orang-orang hendak tidur, saya memilih untuk terjaga. Menyandar di dinding, berkata-kata di atas ranjang untuk meminang ketenangan.

Saya memulainya dengan kalimat: “Everything is gonna be alright”, dan mengalirlah semua ceracau dalam bahasa Inggris. Lalu satu demi satu air mata yang seharian tertahan tumpah. Memori berputar ke masa silam, atau sebuah permasalahan yang, mungkin, hanya bisa dibagi pada dinding kamar, pada meja belajar, pada rak buku, pada malaikat-malaikat yang tidak nampak, dan pada-Nya.

Monolog adalah sebuah katarsis, perasaan lega untuk mengobati luka. Jalan untuk mencari sebuah pembenaran, bahwa apa yang tengah dirasakan, atau sudah dilewati, atau mungkin akan dilewati adalah cara-Nya untuk  menguji.

“You go to the next grade”. Saya sedang naik kelas, tandas saya. Maka ujian yang ada bukan untuk diratapi. Maka tisu-tisu bekas tidak seharusnya ada di atas ranjang atau sajadah lagi. Ada pelajaran yang sedang dibagi. Ada sesuatu yang lebih baik di depan sana. Teka-teki masa kini mungkin tak akan pernah bisa terjawab. Tapi nanti, selalu ada kesempatan untuk bermonolog lagi, tentu dengan kalimat singkat tanpa perlu ada bekas bulir bening di sana:

“Thanx God, You know what the best for me”