Hidup bergulir. Silih berganti. Mereka yang datang dalam kehidupan kita pada akhirnya adalah tempat kita untuk belajar. Adakalanya kita menemui orang yang sama sekali tak pernah terbayangkan, “bisa yah saya menemui orang itu”. Atau, adalagi mereka yang datang memiliki kemiripan dengan orang-orang terdekat kita di masa lalu. Lalu kita mulai mereka-reka. Karakteristik yang sama; gaya bicara, pemikiran, bahasa tubuh, kesenangan, hobi, yang mengembalikan kita ke memori masa lalu. “Rasa-rasanya, ia mirip dengan kawan saya”, batin kita. Namun, apa jadinya, ketika mereka yang datang dalam kehidupan kita adalah orang-orang yang mampu menutupi kegelisahan kita. Mereka adalah orang-orang yang didatangkan karena do’a-do’a kita, pernyataan yang terucap selanjutnya adalah, “kenapa ia bisa mirip dengan saya?”

Lalu kemudian kita bercermin. Baik buruk, semua hal yang tampaknya bisa dibagi dengan orang itu. Kemudian kita seperti dibawa pada ruang terdalam diri kita saat kita mendapati irisan dengannya. Lalu kita seperti menasihati diri sendiri saat ia salah. Di lain waktu, kita seperti bisa membahagiakan diri saat ia berbahagia. Lalu kita belajar, bagaimana mengenal diri, lalu kita belajar lagi, sampai pada titik bahwa kita bisa mengenal Tuhan kita sendiri.

 

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

 

Dulu saya merasa kebingungan bagaimana bisa mengenal diri, apalagi mengenal Tuhan. Beragam ilmu yang saya pelajari dari buku kadang terlalu memusingkan. Semua yang berbicara tentang ‘diri’ memiliki metodologi yang berbeda. Antropologi, psikologi, komunikasi, ekonomi, dan ilmu lainnya, memiliki pendekatan yang berbeda ketika berbicara tentang manusia. Apalagi, jika berbicara tentang Tuhan.

 

Tapi belakangan, saya jadi tahu bagaimana bisa mengenal diri. Bukan dengan mencoret-coret potensi terbesar saya di atas kertas, bukan juga dengan melihat sejauh apa pencapaian-pencapaian saya saat ini. Mungkin ini cukup membingungkan, saya justru bisa lebih memahami diri saat bersinggungan dengan orang-orang yang datang dalam kehidupan saya, terutama mereka yang hadir ketika atau sudah melewati masalah yang sama dengan saya. Di titik itu, saya bisa mengetahui lebih kurang saya, dan pada titik paling puncak, saya bisa merasakan betapa Tuhan begitu dekat dengan saya.

 

Setiap saya bertemu dengan mereka yang memiliki masalah yang sama, mulai dari urusan akademis, karir, keuangan, keluarga, hingga interaksi dengan orang perorang, saya justru lebih bisa memetakan jalan ke luar walaupun saya tidak harus bercerita bahwa saya dan dia mirip. Saya hanya perlu berefleksi, dan berprasangka baik. Pelan-pelan, tetapi pasti, masalah itu akan terselesaikan dengan sendirinya. Entah mengapa, semakin yakin saja bahwa Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya (*)