Tidak ada benda yang paling sering membuat saya gelisah selain buku. Lha, apa pasal? Kalau tiba-tiba saya lupa mencatat siapa yang pinjam buku saya, maka bisa jadi semalaman saya tidak bisa tidur, apalagi kalau bukunya adalah buku favorit. Kejadian itu menimpa saya kemarin malam, walaupun esok siangnya saya tahu siapa yang akhirnya meminjam.

Saya mencintai benda itu. Walau saat sibuk, mungkin tidak selalu bisa tersentuh. Pergi pagi pulang malam. Tapi selalu berusaha, setiap ada sela-sela waktu saya baca. Apalagi kalau macet dan bengong di angkot atau bis. Benda itu selalu menemani saya setiap pergi. Setiap minggunya saya pasang target baca buku minimal 1 (kalau libur targetnya harus nambah donk). Setiap bulan saya beli, dari gaji atau pendapatan saya sendiri. Teringat kata-kata guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA, orang Jerman itu bisa baca 20 buku dalam sehari #jleb.

Ketika ada proyek sosial yang meminta saya untuk menyumbang buku bekas, tidak tahu mengapa rasanya berat sekali untuk memberi. Lebih baik saya beli khusus buku baru saja daripada kehilangan buku sendiri. Atau kasih uang mentahnya saja. Wah, gawat dah.

Tidak tahu juga mengapa saya lebih memilih membeli daripada meminjam. Maka setiap pindah kamar kos, penyebab yang paling sering membuat otot sakit adalah karena memindahkan ratusan buku dari rak.

Tapi kesadaran tumbuh saat saya besar. Saya tahu kenapa mata saya hanya merasa enak saja melihat “buku yang berjajar”. Karena sedari saya kecil, rumah saya di kampung halaman itu seperti perpustakaan. Banyak lemari buku, mungkin ada 2000. Semuanya punya ayah dan ibu. Barangkali itu yang menumbuhkan rasa takut kehilangan saya pada buku sendiri.

Nanti-nanti saya harus lebih rapi dalam mencatat siapa yang pinjam buku saya.  Atau saya akan semalaman dihantui perasaan bersalah. Dulu sekali saya pernah kehilangan empat buku karena dipinjam senior waktu SMP. Waktu kuliah saya kehilangan Laskar Pelangi. Entah di siapa. Sampai sekarang tidak ketemu. Mungkin karma juga karena ada satu dua buku yang belum saya kembalikan ke orang. Hehe.

Buku bagi saya itu sesuatu banget. Buku membantu saya menulis, buku membantu saya melihat dunia luar, buku membantu saya mengisi waktu senggang, buku membantu saya menambah ilmu, buku membantu saya mengajar dan bercerita kepada murid-murid tentang kisah-kisah inspiratif. Bahkan, beberapa kali buku membantu saya untuk menjatuhkan hati pada seseorang yang bermata buku alih-alih bermata duitan, haha, sumpah penting abis.

Nah, itu ceritaku, mana ceritamu?😀

*ini tulisan penting gak penting dah, haha*