Kami sampai pada tepi sungai. Lengang tak ada orang. Hanya suara riak dan kicau burung, lalu embun pada rerumputan, kabut tipis dan dinginnya musim penghujan. Biasanya pagi-pagi sekali kami sudah duduk di atas batu besar, di tepi sungai itu. Kami berbicara tentang secangkir cappucino hangat yang semalam tumpah karena tak sengaja tersenggol tangan, kami berbicara tentang sepotong kue dan teh panas yang dituang untuk meredakan kegelisahan, kami berbicara tentang politik, tentang olahraga, tentang agama, tentang hal-hal yang musykil diterima banyak orang, lalu kami berbicara tentang jeda. Tentang jarak dan kata.

Sejenak setelahnya kami memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Butuh waktu lama untuk menerima. Kemudian kami berlari. Kami berlari. Kadang satu kaki ini begitu sakit tertusuk duri di tengah jalan, padahal yang dilalui bukan hutan. Sebentar-sebentar takut karena hujan turun tanpa mendung. Betapa anehnya kami pandang kehidupan. Silih berganti kami saling menggurui, berdebat sana-sini demi bisa memaklumi.

Akhirnya, kami sampai pada tepi sungai. Lengang tak ada orang. Dari jauh kami saling memandang. Bukan wajah, bukan tangan, bukan kesempurnaan. Kami memandang satu batu besar di tepi sungai. Dulu batu itu adalah tempat kami duduk dan bercakap. Tapi sekarang, masing-masing kami hanya bisa memandang sejauh bayang. Menjelma do’a yang melantun setiap malam (*)