Pesawat, 14 Januari 2012

Seperti tahun-tahun yang lalu, seperti juga kebiasaanku dari dulu, jika aku berada di mesin bersayap yang terbang dari ketinggian 10.000-30.000 kaki, maka aku akan selalu memandangi jendela dan menaksir nama-nama awan yang menggumpal mengelilingi pesawat. Commulus, stratus, dan cirrus, itu adalah nama-nama awan yang dulu seringkali diajarkan oleh guru Geografiku, saat aku masih duduk di bangku SMP. Satu-satu aku ingat, satu-satu aku coba menebak bagaimana cuaca di daerah yang akan aku lalui. Awan yang paling sering menarik perhatianku adalah nimbostratus, yang berada pada ketinggiran rendah. Teksturnya tebal, warnanya gelap, dan seringkali mengandung air hujan atau salju. Awan itulah cerminan kehidupan yang pernah aku lalui selama tiga puluh tahun lamanya.

Seperti tahun-tahun yang lalu, seperti juga kebiasaanku dari dulu, aku senang mendengarkan lagu barat. Tujuannya hanya satu: agar aku bisa berkeliling dunia dengan bahasa Inggris, berpetualang dan bercerita pada anak cucu, bahwa aku pernah mengenal budaya luar yang hanya bisa dilihat mereka dari majalah, dari televisi, dari buku, dari papan reklame, dari cerita orang-orang yang bekerja di gedung tinggi di Jakarta, dan dari para mahasiswa yang studi melintas budaya.

Sungguh aku senang mendengarkan lagu itu untuk belajar, terutama lagu yang bisa membuat aku bersemangat mengejar cita-cita. Tapi tidak untuk perjalanan kali ini. Dari ketinggian 28.000 kaki, saat beberapa penumpang tertidur pulas, aku menekan PTV in-flight entertainment di depanku. Lagu ‘Because of You’[1] mengalun, mengiringi perjalanan Boston-Jakarta selama lebih dari dua puluh jam lamanya.

Because of you
I try my hardest just to forget everything
Because of you
I don’t know how to let anyone else in
Because of you
I’m ashamed of my life because it’s empty
Because of you
I am afraid

Karena engkau, selama satu menit headphone terpasang, tak terasa, ada sesuatu yang kuseka.

Boston, 10 Januari 2012

            Malam ini adalah malam terakhir aku melakukan ritual cramming di flat. Sesajen yang kupersembahkan untuk sang profesor begitu sederhana: kopi, gula, air panas, dan jurnal untuk aku review. Pukul 02.00 dinihari. Mataku sudah begitu merah karena belakangan jam tidurku berkurang. Hand out jurnal, buku-buku kuliah, dan catatan-catatan pekerjaan, sudah seperti daun-daun musim gugur yang jatuh bertebaran di jalan-jalan. Kamar ini tampak seperti gudang. Ah, lebih buruk bahkan. Aku menghela nafas panjang begitu pekerjaanku selesai, tapi nafasku kembali tertahan saat telepon genggamku berdering. Begitu kulihat layar handphone, mukaku pucat. Nomor berkode +62. Indonesia.

“….Rumah sakit, Teh”

“Jantung….”

“…..Koma, Teh”

“Keluarga berkumpul….”

“…Sibuk”

“Teh, tenang….”

“….Ibu”

Satu dua potong kalimat, tiga empat sampai lima, hingga kalimat terakhir yang kudengar dari bibi adalah, “PULANG!”

Serang, 6 Juni 1979

Kenapa baru pulang, Nong? Sing ndi?” Kakek menyambutku. Seperti biasanya, ia berbicara dalam bahasa Indonesia campur bahasa Jawa Banten.

“Karangantu”

“Kalan si Ikin? Iku ape?”

“He’eh, kalan Ikin ngumpulaken cebong, hahaha” aku tertawa puas sambil menunjukkan bungkusan plastik yang kubawa, kakek geleng-geleng. Saat itu usiaku baru tujuh tahun, dan aku memang senang mengumpulkan ikan kecil dan berudu. Di wilayahku, aku memanggil berudu dengan ‘kecebong’ atau ‘cebong’.

“Adus mane!” aku diminta kakek mandi, tapi aku malah mencari mangkok plastik untuk menaruh ikan kecil sekaligus beruduku. Waktu itu kupikir ikan dan berudu bisa berteman akrab.

“Bi Ihat nanti marah” kata kakekku lagi. Kali ini dalam bahasa Indonesia. Aku tidak peduli.

Sejak orangtuaku tak ada—sebetulnya tidak benar-benar tak ada—aku tinggal bersama kakek dan bibi di desa Kasemen. Di desa itu terdapat sebuah pelabuhan bernama Karangantu. Pelabuhan itu pernah menjadi sentra perdagangan dunia, tempat Cornelis de Houtman dulu berlabuh: Banten. Sayangnya, kini tak ada lagi puing-puing sejarah yang tersisa di pelabuhan itu. Hanya kapal-kapal tua milik nelayan tradisional yang ditambatkan, tempat transaksai jual-beli hasil laut. Kakek dulu bekerja di atas perahu-perahu itu.

Sama seperti orangtua kebanyakan, kehidupan kakek di desa itu sederhana saja. Setiap sorenya kakek berteman dengan kursi kayu dan teh panas. Perempuan yang paling setia menemaninya sudah lebih dahulu dipanggil Gusti Allah. Tinggal aku dan bibi, adik dari ibuku, yang membersamainya di rumah mungil ini.

“Kakange Ikin mau mawe kodok je, terus dibedah-bedah wetenge. Jere, iki anake kodok, arep kite pelihare lah. Jere, kakange Ikin ,apa ya namanya, anu, itupenelitian! Iye iku!”. Dengan lugu aku bicara sekenanya. Nafasku putus-putus saking semangatnya. Tetapi aku tidak pernah mau bicara dalam bahasa Jawa halus, bahkan berbicara dengan kakek sekalipun. Kehidupan masa kecilku, barangkali membuat aku selalu keukeuh berbicara dalam bahasa Jawa kasar. Lingkungan juga yang membuat aku mencampurnya dengan Bahasa Indonesia. Kakek mafhum, sementara bibiku, orang yang seringkali menegur caraku berbicara, adalah pihak yang paling susah diajak untuk berdamai.

Kakek kemudian berjongkok dan mengelus-elus rambutku. Aku bisa dengan jelas melihat jenggot putih dan keriput kulitnya. Dadanya yang dulu bidang, kini tampak tulang menonjol. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, tapi ia masih tampak segar.

“Kisuk, milu kalan Wa Uum ye?!”

Nggak! dengan ketus aku menjawab. Ini ke sekian kalinya kakek membujukku. Aku merajuk. Wa Uum adalah sepupu ibuku yang tinggal di Jakarta. Ia bersedia mengangkatku sebagai anak.

Kalan Wa uum Nong Ida bise sekole”

Sekolah? Entah mengapa aku membenci kata-kata itu. Kata itu yang tak pernah bisa kuraih sejak seorang lelaki membuat ibuku mendekam di lapas. Mataku tahu-tahu saja memerah. Ketakutan itu tiba-tiba datang lagi, menggasak pertahananku yang masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa. Kupeluk kakek erat-erat sambil menangis. Kecebongku tidak lagi aku pedulikan.

Serang, 5 Oktober 1977

            Aku memilih untuk tak mengenal lelaki itu sejak aku berusia lima tahun. Di ruangan 2×3 m segalanya bermula. Pintu belakang rumahku sedikit terbuka saat aku baru pulang dari Karangantu. Waktu itu aku masuk tanpa prasangka apa-apa. Seperti biasanya, aku berteriak-teriak memanggil ibu sebelum masuk, sambil menenteng bungkusan plastik berisi kecebong. Dapur kulihat tampak berantakan. Alat-alat masak bertebaran di lantai. Ibu tak ada di dalam dapur, di bilik kami yang hanya dihuni oleh aku, ibu, dan lelaki itu.

Aku menengok kamar, ada ibu di sana. Sumringah sekali aku hampiri beliau, memamerkan kecebong tangkapanku. Tapi ibuku hanya duduk terdiam di samping lemari kamar, kakinya menekuk, kedua tangannya dilipat di atas lutut, kepalanya yang menunduk terbenam di antara lutut itu. Aku ragu menghampirinya, tapi rasanya ingin sekali aku menunjukkan kecebong tangkapanku ini.

“Bu, cebong…” kataku datar. Entah mengapa, melihat ekspresi ibuku yang tampaknya kelelahan, aku tidak begitu antusias memamerkan kecebong itu. Ia pelan-pelan mengangkat kepalanya. Wajahnya kulihat sembab, rambutnya begitu berantakan, ia menangis tersuruk-suruk lalu memelukku begitu erat. Tangisnya semakin jadi, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Saat ia mendekapku, ketakutan seketika menyergap, aku menangis histeris melihat sesosok lelaki terbujur kaku di bawah tempat tidur. Plastik yang berisi kecebongku terlepas dari tangan. Dekapan ibuku semakin erat saja.

Jakarta-Serang, 15 Januari 2012

Seperti tahun-tahun yang lalu, seperti juga kebiasaanku sejak dulu, jika aku sedang berada di bus jurusan Jakarta-Merak, aku memandang jendela demi bisa memperhatikan gumpalan awan-gumawan. Tak ada nimbostratus menggantung hari itu. Cuaca begitu cerah, padahal mendung menggelayut di langit Karangantu.

Seperti saat kakek meninggal dulu, seperti juga kebiasaan warga kampungku, jika salah seorang keluarga meninggal dunia, mereka akan melakuan ritual tahlilan, yaitu upacara selamatan bagi orang yang meninggal. Biasanya dilakukan tujuh hari berturut-turut, lalu selanjutnya empat puluh hari dan seratus hari setelah kematian. Ibuku sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Lututku lemas dan aku tak sanggup menampung air mata. Bi Ihat kemudian mengantarku ke tempat ibuku dimakamkan.

Rasanya baru kemarin aku mendengar pecah tangis ibu karena perlakuan bapak yang kasar. Lelaki yang pernah berprofesi sebagai preman Banten itu mana mau peduli dengan kami. Pekerjaannya hanya mengawal juragan tanah nomor satu di sana, dengan “ilmu” yang diperolehnya dari berguru. Sekali-kali ia datang ke rumah hanya untuk membuat keributan atau mengambil uang ibu untuk berhibur di tempat remang-remang. Setidaknya itulah yang kudengar dari para warga dulu.

“Mau lama di sini kan?” Bi Ihat memecah lamunanku. Sorot matanya tampak berharap.

“Lusa ke Jakarta lagi, mengurus tiket ke Amerika” singkat aku menjawab. Air mataku sudah mengering. Bi Ihat hanya tersenyum. Makam sudah sepi, tak ada orang lagi, tak ada ayat-ayat suci lagi. Ibu berbaring tenang, dikubur jauh dari nisan bapak. Rasa bersalah menggelayut. Sungguhpun aku tinggal dengan Wa Uum di Jakarta, aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk berpetualang ke banyak negara, mempresentasikan hasil penelitianku, menghadiri konferensi internasional, atau sekadar berjalan-jalan dengan uang tabunganku sendiri atau beasiswa. Kehidupan yang keras, dengan tinggal menumpang di rumah orang lain, membuat karakterku menjadi sangat mandiri, hingga aku jarang sekali mengunjungi kampung karena kesibukanku yang padat. Banyak orang yang menganggapku bintang di lapangan, tapi mungkin tidak saat mereka melihat keluargaku. Barangkali aku seperti tongkat yang tampak bagus dari luar, tapi sebetulnya, aku rapuh. Aku rapuh di makan rayap-rayap masa lalu.

Hatiku basah, seiring gerimis yang turun membasahi tanah pekuburan. Aku dan bi Ihat segera ke luar dari makam, melewati nisan kakek, melewati nisan bapak, melewati nisan-nisan para perempuan muda yang entahlah mati karena apa. Bi Ihat membuka payungnya. Kami berdua berjalan bersisian, meninggalkan mereka yang sudah tenang di pembaringan (*)

Keterangan:

[1] Because of You adalah lagu yang dibawakan oleh Kelly Clarkson. Latar belakang lagu ini adalah protes Kelly terhadap masa kecilnya ketika orangtuanya bercerai.

[2]Kenapa baru pulang, Nong? Sing ndi?: Kenapa baru pulang, Nak? Dari mana?

[3]Kalan si Ikin? Iku ape? : Sama si Ikin? Itu apa?

[4]Adus mane! : Mandi sana!

[5]Kakange Ikin mau mawe kodok je, terus dibedah-bedah wetenge. Jere, iki anake kodok, arep kite pelihare lah. Jere, kakange Ikin lagi ,apa ya namanya, anu, itupenelitian! Iye iku!.

Kakaknya Ikin tadi bawa kodok katanya, terus dibedah-bedah perutnya. Katanya, ini anaknya kodok mau aku pelihara. Katanya, kakaknya ikin lagi, apa ya namanya, itu ..penelitian! ya itu!

[6]Kisuk, milu kalan Wa Uum ye? : besok, ikut sama Tante Uum yah?

[7]Kalan Wa uum Nong Ida bise sekole : Sama Tante Uum Ida bisa sekolah.

[8]