We arrived on the riverbank. Silent, no one. Only sound of ripple and birdsong. Dew on the grasses, mist and cold rainy season. We used to sit on a large rock, early in the morning, on the banks of that river. We talked about a warm cup of cappuccino, brushed against the hand and spilled out. We talked about a piece of cake and a hot cup of tea poured to relieve restlessness, we talked about politics, about sports, about religion, about the absurd things that were hard to accept. Then we talked about distance, about gap and sentence.

For a moment, then, so differently we viewed this life. It took a long time to accept. Then we ran. We ran. Sometimes it was so painful, thorn stuck into sole, on the way of road. The road, instead of forest. Fear came, knocking. Rain dropped, falling, without overcast sky. How strange we viewed this life. We contended with each other, here and there, for the sake of an understanding.

Finally, we arrived on the river bank. Silent, no one.  We looked at each other from a distance. Not a face, not a hand, not a perfection. We saw a large rock on the bank of the river. Once the stone was where we sat and talked. But now, each of us can only look as far as shadows. Turning into prayer, chanting all night (AS)

Di Tepi Sungai

Kami sampai pada tepi sungai. Lengang tak ada orang. Hanya suara riak dan kicau burung, lalu embun pada rerumputan, kabut tipis dan dinginnya musim penghujan.

Biasanya pagi-pagi sekali kami sudah duduk di atas batu besar, di tepi sungai itu. Kami berbicara tentang secangkir cappucino hangat yang semalam tumpah karena tak sengaja tersenggol tangan, kami berbicara tentang sepotong kue dan teh panas yang dituang untuk meredakan kegelisahan, kami berbicara tentang politik, tentang olahraga, tentang agama, tentang hal-hal yang musykil diterima banyak orang, lalu kami berbicara tentang jeda. Tentang jarak dan kata.

Sejenak setelahnya kami memandang kehidupan dengan cara yang berbeda. Butuh waktu lama untuk menerima. Kemudian kami berlari. Kami berlari. Kadang satu kaki ini begitu sakit tertusuk duri di tengah jalan, padahal yang dilalui bukan hutan. Sebentar-sebentar takut karena hujan turun tanpa mendung. Betapa anehnya kami pandang kehidupan. Silih berganti kami saling menggurui, berdebat sana-sini demi bisa memaklumi.

Akhirnya, kami sampai pada tepi sungai. Lengang tak ada orang. Dari jauh kami saling memandang. Bukan wajah, bukan tangan, bukan kesempurnaan. Kami memandang satu batu besar di tepi sungai. Dulu batu itu adalah tempat kami duduk dan bercakap. Tapi sekarang, masing-masing kami hanya bisa memandang sejauh bayang. Menjelma do’a yang melantun setiap malam.