Tadi malam, saya diminta membuat puisi untuk sahabat saya yang akan menikah dalam waktu dekat. Tiba-tiba saya jadi ingat puisi lama saya di blog yang lama. Baik, coba dibaca dulu puisi ini:

Buat sahabat:

 Hari ini sejarah sedang singgah

Sepasang merpati menghijrahkan cinta di atas bahtera

Mereka sematkan semilir syair di antara ikatan do’a

Mahligai yang terbangun penuh keberkahan

Ada cita-cita indah di sana

Kelananya menjejakkan mimpi-mimpi yang suci

Walau sungguh duri pernah merantas kaki

Menyeru pada kebaikan tak ‘kan pernah henti

Walau sungguh membingkai cinta dalam bahtera iman

Tak berarti kita berhenti menebar kebajikan

‘Tlah dipinang engkau dengan hamdallah

Jadilah merpati mengurai cinta jadi laku

Ada kata yang merangkum ukhuwah

Persembahan terbaik untukmu,

Saudara/iku..

barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair

Saya baru tersadarkan,  ada yang salah dengan puisi di atas, haha. Berdasarkan opini Saudari Ega, merpati itu adalah binatang yang cenderung poligami, aiiiih. Jadi, katanya lagi, mending diganti dengan ‘buaya’. Tapi buat puisi gak cantik yah. haha.

Dan ternyata, kesetiaan merpati, menurut Saudara Muhammad Akhyar dalam opininya di majalah katajiwa edisi 4 (yang akan segera terbit dalam waktu dekat), bukan kembali kepada pasangannya, tapi sarangnya.  Merpati itu setia sama sarangnya.  Kalau begitu, mengapa di undangan-undangan pernikahan simbolnya selalu dua merpati yang saling bercumbu. Pelajaran nomor satu, ganti simbol undangan Anda dengan merpati yang sedang berada di sarang, atau simbol lain saja (?). Ah, saya lebih suka daun maple yang menyimbolkan janji. Tapi sepertinya tak lazim, haha.

Ada banyak simbol setia menurut berbagai sumber, buaya biasa dipakai dalam budaya Betawi, anjing dalam kultur barat juga diklaim sebagai binatang yang paling setia (tapi tampaknya, bagi muslim Indonesia, sudah kadung dicap najis jadi jarang yang pakai, haha)

Kalau mau tahu lebih banyak, baca saja majalah Katajiwa edisi #4. Yeah. Tunggu post saya selanjutnya, apa dan bagaimana ‘Majalah Katajiwa’ itu? :)