Belakangan, saya suka masak sendiri. Coba-coba ternyata lumayan enak juga. Daripada makan di warteg atau restoran yang pake MSG, buat lambung saya yang masih tahap penyembuhan kembung lagi, jadi saya masak sendiri saja. Dua porsi kangkung dan nasi yang dimasak dengan panci (kalau pake rice cooker kosan bakal lebih mahal, tambah 50 ribu, jadi cara tradisional saja). Setelah selesai makan, saya baru sadar, nyuci piringnya segambreng, padahal kangkung cuma 1 piring.

Masak tempe oreg, tempenya dapet 1 piring, cuci piringnya juga segambreng karena butuh abcde. Belum lagi waktu yang dibutuhkan buat ngiris bawang dan segala rupa. Repot juga. Tapi apa boleh buat, kalau mau sehat harus ada kemauan. Apalagi kalau punya maag yang lumayan kronis, harus marut kunyit setiap hari juga, dibuat jamu biar sembuh. HARUS SEMBUH.

Tiba-tiba setelah makan berakhir, saya ingat ibu, air mata saya menetes. Membayangkan nanti ketika rumah tangga, anak-anak saya rewel minta makan, lalu suami juga demikian adanya. Keikhlasan beliau yang membuat saya terharu.

Jadi ibu itu memang harus bisa multitasking, bangun subuh-subuh, menyiapkan ini itu untuk keluarga, lalu bekerja, lalu kadang tidak sempat makan dan bilang, “ya udah, ummi mah gampang yang penting anak2 dulu”. Saya baru merasakannya ketika jadwal begitu padat, pergi pagi pulang malam, kebutuhan lebih sering pakai uang sendiri setelah ada pekerjaan yang lumayan, dan kalau kos begini, harus jaga kesehatan sendiri. Mau bergantung pada siapa lagi?

Ya, saya hanya bisa menghantarkan doa untuk mereka.

Allaahummaghfirlii wali waali dayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shagiiraa

Orangtua telah mengajarkan saya banyak, terutama tentang kesabaran dan kemandirian. Semoga Allah memberkahi usia keduanya. Amin.