Saya tiba-tiba jadi ingat sewaktu makan malam bersama kawan-kawan komunitas sastra, plus nonton Negeri 5 Menara🙂. Waktu itu saya berdebat dengan seorang kawan karena masalah teknis percetakan majalah. Saya mempertahankan argumen saya sambil menggebrak meja dengan ringan. Ada seorang anggota baru, yang cukup kenal dengan saya, sambil cengar/ir bilang, “Ternyata Kak Alfi bisa yah gebrak meja? hehe”.

Sambil ketawa saya bilang to, “kenapa? Emang aslinya saya lemah lembut”. Dan kawan-kawan lainpun langsung ‘nimpukin’ saya, haha. Salah seorang teman lelaki saya bilang, “Kalau orang baru liat dia sekali dua kali aja keliatan kalem, tapi gak tahu aja aslinya” lalu diapun tertawa

Saya hanya tersenyum. Jadi terpikir bagaimana karakter saya di banyak tempat. Ketika berhadapan dengan teman-teman gank, saya bisa menjadi orang yang ceria, bersemangat, dan agak ‘liar’, aiih. Karena tentu mereka yah sudah saya kenal, untuk apa juga jaim-jaim, hehe.

Tapi ketika saya mengajar, membina, atau berhadapan dengan orang yang lebih muda dan tua. Anyway, saya tipikal orang yang ‘penyabar’ dan ‘ngayom’ lo, haha.

To some extents, saya bisa menjadi dominan ketika sesuatu yang saya suka dibatas-batasi. Entah kenapa, ini lebih sering terjadi dalam keluarga alih-alih pergaulan sosial. Kasusnya, biasanya, soal plan hidup. Sikap keras kepala saya, tidak mau kalahnya saya, selalu dengan orangtua. Tapi ujung-ujungnya, pasti saya menurut. To tell you the truth, saya bukan tipikal dominan koleris. Dalam kehidupan sosial, saya bisa lebih banyak mendengar cerita teman dan menghargai pendapat orang lain alih-alih keras pada pendapat saya sendiri. Tentu saja kalau itu juga baik.

Dalam diri yang terdalam, saya tipikal orang yang lebih sering melihat sesuatu ke depan. Saya juga penikmat sastra, senang keteraturan, keindahan, dan sesuatu yang terjadwal. Tapi, ini tentu sikap buruk saya: tidak fokus. Ketika saya sudah asik dengan apa yang saya cintai, saya bisa lalai sewaktu-waktu dan harus terus diingatkan. Makanya, kadang yang bikin orang kesal dengan saya adalah sikap pelupa dan tidak detailnya saya. Tapi tentu saya punya cara untuk meminimalisirnya, yaitu dengan mencatat. Itulah sebabnya setiap ada agenda diskusi atau rapat ringan, saya selalu membawa buku catatan dan pena.

Saya juga tipikal yang bersemangat dan kadang-kadang dalam hati siap melompat. Hal kecil bisa berarti besar buat saya. Bahasa lainnya: kelewat ekspresif. Kritikan bagi saya itu penting, saya menghargai setiap masukan orang lain dan selalu berusaha untuk berubah.

Dalam kepimpinan organisasi, saya bukan tipikal yang fully authority. Saya demokratis tapi tidak bisa memaklumi ketika ada satu dua orang yang memiliki masalah di komunikasi. Bagi saya, keterbukaan itu hal sangat penting dalam urusan profesional. Saya tidak mau menyalah-nyalahkan orang lain, bukan juga tipikal judging dan tukang komentar a-z. Tapi saya tahu, bagaimana menyelesaikan masalah dengan diskusi yang baik. Sejujurnya saya tidak suka dibebani suatu jabatan tinggi. Bagi saya itu ribet dan bikin pusing, haha, tapi honestly, when you give me a responsibility, insyaAllah saya bisa bekerja sebaik-baiknya😀

Sebaliknya, ketika saya jadi ‘bawahan’, instruksi detail itu sangat penting, karena seringkali saya lost ketika terlalu banyak hal yang sedang saya tangani. Kerja tim bagi saya sangat penting, karena itu membantu saya yang kurang bisa multitasking😀.

Kalau disimpulkan, walaupun ini tidak ilmiah, tapi cukup representatif, saya tipe sanguinis-melankolis. Anyway, semoga kalian bisa bekerjasama dengan saya yah😉.