Kau namakan waktu adalah debu

Yang tertinggal di atas bangku-bangku

Di tepi jalan, di antara tiang-tiang yang terjaga,

kau coba menerka,

nama yang mungkin tertangkap, dari bayang peristiwa

 

Adalah musim ke musim yang membuat bola mata itu tabah

Saat kau lipat uji seperti melipat kerah kemejaku

Pada episode yang telah lampau, kita pernah saling bertanya:

“apakah waktu akan memulangkannya sia-sia?”