Sudah lama saya tidak menulis edisi ‘Retorika Cinta’, hehe. Dulu saya sering share di Facebook. Saya ingin memulainya lagi. Ini sudah yang ke berapa ya, saya lupa.

Anyway, sedikit bercerita, enam tahun yang lalu, saya menemukan sebuah buletin, tercecer di lantai rumah. Dilihat-lihat, ternyata buletin itu terbitan Universitas Sultan Agung Tirtayasa (Untirta). Tidak tahu siapa yang membawanya. Ada satu puisi yang sangat menarik bagi saya. Puisi ini sangat sederhana, tapi begitu dalam–menurut saya waktu itu. Hingga sekarang saya masih ingat, tapi saya lupa siapa pengarangnya. Kalau tidak salah sih namanya, Wahyu, mahasiswa Untirta. Judulnya, saya lupa. Tapi bunyinya begini.

Maaf bila waktu itu

aku gagal membaca isyarat yang kau berikan

lewat hijau daun dan desau angin

Aku hanya gamang bersama arus sungai

Tak tuntas cinta ini kubawa ke muara

Tapi apakah kau dengar di balik cemas cuaca,

kusimpan rintih yang luka?

Kalau yang menulis seorang lelaki, tentu ini ditujukan untuk seorang perempuan. Saya rasa ini tentang cinta yang ragu-ragu.

Nah, si perempuan sudah memberi tanda bahwa ia mencintai si lelaki, tapi si lelaki nampaknya terlalu banyak berpikir. Kata ‘gagal’ dan ‘gamang’ menunjukkan keraguan si lelaki dalam mengungkapkan cintanya. Alhasil, dia menyesal dan meminta maaf karena ternyata cintanya tidak sampai ‘muara’, tidak sempat ia putuskan untuk ‘diungkapkan’ atau bisa jadi, tidak sampai bisa membuat komitmen. Kalau tebakan saya, si perempuan ternyata sudah bersama orang lain, hingga penyesalan itu semakin menjadi dan berubah menjadi luka.

Menariknya, si penyair menggunakan realitas alam dalam membuat puisi cintanya. Mirip gayanya Sapardi Djoko Damono. Alam tidak lagi dilihatnya sebagai representasi keindahan yang transedental, tetapi realitas zaman yang begitu memilukan. ‘Hijau daun’ dan ‘desau angin’ seolah-olah membawa pesan. ‘Arus sungai’ seolah-olah menunjukkan kegamangan, seperti halnya arus yang terus menerus bergerak tak tentu. ‘Muara’, yang seharusnya menjadi pemberhentian terakhir, atau simbol ketegasan, kemudian menjadi antiklimaks. Tampaknya sang lelaki berusaha tegar. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat ‘dibalik cemas cuaca kusimpan rintih yang luka’.

Namun, semua tentu telah berlalu, ia merasa gagal, dan menjadikan puisi sebagai media untuk mengungkapkan maaf, bukan lagi mengungkapkan cinta’. Ungkapan maaf adalah rhetoric of sacrifice si lelaki. Ia terhenti pada kata-katanya sendiri, dan berkorban merelakan seseorang yang dicintainya untuk orang lain.

Ada yang punya interpretasi lain?😀