Jum’at kemarin, tidak tahu apa yang menggerakkan saya untuk mengiyakan bertemu dengan seorang kawan yang cukup lama tidak saya temui.

“Haduh, rempong bener yak kita, kayak ibu-ibu mau arisan, haha” seorang perempuan dengan jilbab dan blouse biru, plus celana jeans hitam sangat sumringah begitu menemui saya di Perpus UI. Sebuah tas cangklong ditenteng di lengannya. Tampaknya, ia baru pulang kerja.

Nama perempuan yang saya temui itu adalah Beffy. Kawan saya satu jurusan. Ia sangat antusias saat berkesempatan menemui saya di perpus UI. Dengan terlebih dahulu membuat janji yang nyaris batal karena satu dan lain hal. Entah ada agenda mendadak, entah hujan deras, dan tidak membawa payung, entah, entah, entahlah apa pula yang mendorong dia mengirim SMS sehari sebelum bertemu, dan minta saya menemuinya untuk membicarakan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu. Makanya, saya bingung kenapa saya mengiyakan. Tapi tebakan saya, obrolan yang akan mengalir adalah

“Tentang mimpi, Teh….” Beffy memulai percakapan serius setelah obrolan random berlalu. Mata saya berkedip dua kali.

Sesungging senyum kemudian saya hadiahkan untuk Beffy. Ah, kawan saya yang satu ini, seringkali membuat saya merasa tidak ada masalah sama sekali dalam hidup. Hehe. Beffy yang saya kenal adalah sosok yang optimis, ceria, heboh, percaya diri, simple, easy going, dan tipikal ‘jalani saja sebisa mungkin’. Dia salah satu kawan perempuan saya yang kuliah dengan biaya sendiri, membiayai sekolah adiknya dengan hasil keringatnya sendiri, dan selalu tampak tak pernah terjadi apa-apa. Karena bagi dia hidup itu, “simple, jalani aja”.

“Ah OK!” Saya lalu tertawa. Cukup antusias. Beffy mengambil posisi duduk. Perempuan yang sering jadi MC dari satu panggung ke panggung lain ini kemudian bertanya tentang kesibukan saya, lalu ia mulai berbicara tentang pekerjaannya.

“Gue akhirnya resign dari dunia braodcast, akhirnya gue minggu lalu baru mulai ngajar di UKI, sambil tetap ngajar di LBI. Terjun ke pendidikan juga yah akhirnya, buahaha. Beda Teh, kalau ngajar itu lo berasa banget bermanfaat buat orang lain, hehe”

“Haha, gue mau ngajar di LBI belum buka-buka juga tuh teachers training”

Saya lanjut lagi bercakap dengan Beffy, tentang banyak hal, termasuk urusan karir di rumah tangga. Pertanyaannya adalah, “kita mau jadi apa, dan mau menjadikan anak kita apa?”

Tidak terasa, tujuh bulan sudah berlalu sejak kami ke luar dari ruang sidang skripsi. Dengan pekerjaan yang menumpuk karena mencari sesuap nasi, tertatih-tatih skripsi Beffy diselesaikan juga.

“Yah, lo tahu kan, anak2 obrolannya kerjaan melulu. Tapi kayak gak ada visi ke depan..…”

Kami kemudian berbicara tentang rencana karir dan studi. Tentang beasiswa fullbright, tentang niat untuk belajar TOEFL dan IELTS bersama, tentang Pak Diding, dosen kami (salam takzim untuk beliau) yang selalu setia dengan sedan lamanya, yang membiayai 3 adiknya agar bisa sekolah setinggi mungkin, yang pernah berjualan koran saat ia masih kuliah dulu, yang membantu saya mencari buku-buku skripsi walau ia bukan PS saya, yang memberikan saya surat rekomendasi saat saya berniat studi lagi di UI dengan jalur non-test. Semoga Allah memberkahi Bapak dan keluarga.

Satu jam sudah kami mengobrol, hingga tidak terasa di luar hujan begitu deras. Saya berkata kepada Beffy, “Bef, hujan itu waktu yang pas untuk berdoa”

“Ok, mari kita berdoa”

Sudah lebih dari satu semester sejak saya lulus dari UI. Beffy bukanlah satu-satunya kawan yang pernah mengobrol dengan saya tentang perjalanan hidupnya. Ada banyak orang yang singgah dalam kehidupan saya. Dan itu semua selalu menjadi obat untuk mempertahankan keyakinan saya yang fluktuatif. Mbak Esa, seorang peneliti dan dosen FE yang tak segan minta belajar  IELTS privat dengan saya; Muthia, kawan baik yang sudah dapat beasiswa di Belanda, dan tak segan minta belajar IELTS privat juga dengan saya, dalam kondisi ‘saya’ yang bahkan belum pernah tes IELTS sekalipun, hingga ada masanya saya belajar sungguh-sungguh demi bisa mengajar. Risma, Abai, Timmy, Lingga, yang masih yakin untuk belajar bersama. Adik-adik NF, yang suka saya ‘marahi’ karena TO bahasa Inggris selalu paling kecil di antara pelajaran MTK dan Bahasa Indonesia. Pak Diding yang berkenan memberikan kesempatan untuk me-list nama saya di proposal penelitiannya. Juga Elsa, yang baru saja mengajak saya untuk mengajar homeschooling🙂

Yang jelas, ujian dan pilihan-pilihan hidup di pascakampus begitu beragam. Termasuk pilihan untuk tidak mencari kerja tetap satu tahun ini, karena ingin studi lagi. Juga pilihan untuk tidak dikirim uang lagi oleh orangtua. Akhirnya pun saya memilih untuk (kelak) menjadi akademisi dan sekolah di dalam negeri dulu. Saya kubur impian saya untuk menjadi jurnalis VOA atau menjadi scriptwriter acara news di stasiun TV. Tapi tidak pernah mengubur cita-cita untuk bisa keliling dunia, hehe.

Untuk saat ini, saya hanya berpikir bagaimana caranya bisa mendapat uang atau beasiswa untuk S2 Linguistik karena adik perempuan saya semester depan ingin sekali masuk ITB. Tentu saja saya tak ingin merepotkan orangtua.

Di pascakampus, ada banyak hal tak terduga, baik suka maupun duka. Ada banyak orang yang singgah dalam kehidupan kita, bercerita tentang perjalanan hidupnya yang mencengangkan. Ada tangan-tangan Allah yang selalu bekerja, memilihkan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan tentu saja, satu pelajaran paling penting di pascakampus adalah: bahwa kita tidak selamanya mendapatkan apa yang kita inginkan. Itu yang saya sebut dengan: REAL LIFE. Maka sabar dan syukur, adalah dua hal yang jadi tunggangan.

“Suatu saat kita akan foto bareng di depan patung Liberty” kata saya mantap. Beffy mengamini.

Hujan semakin deras saja. Azan maghrib berkumandang. Kami berdua, masih meraba-raba, kelak kami jadi (seperti) apa (*)