Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth (Robert Frost, the Road not Taken)

22 Maret, Pukul 23.08

Hari ini saya melanggar jam malam. Di atas jam 22.00 sebetulnya perut saya sudah lumayan mual kalau belum juga tidur. Mual karena HCL akan tiba-tiba meningkat secara tidak karuan. Tapi untuk malam ini saja, izinkan saya membagi sesuatu. Rasanya, mual kali ini berbeda.

Malam ini ada SMS yang membuat saya panik tingkat dewa. Mutia, kawan saya, mmh, sekaligus murid saya untuk belajar IELTS privat (sejenis TOEFL Internasional untuk persyaratan studi ke luar negeri), apapun lah namanya, mengirim SMS.

“Fiiiii T____T”

“Eh kenapa? Besok pengumuman??”

“Udah ada pengumumannya…”

“Eh, jadi gimana? Berapa IELTS-nya say?”

“T____T”

“Aduh, jangan buat gue penasaran. Nyampe ga?”

“T____T”

“Mutiiiiaaaa😦 aku jadi merasa bersalah iniiii” (beneran panik ampe mual)

“Bahaha, biar dramatis tuh emotnya. Itu ekspresi seneng maksudnya :p. dapet 6.5 fiii (kalau di convert ke TOEFL itu 570), hehe, lumayan lah ya buat pemula, wkwk”

“Haaah! Sumpah lo bikin gue dag dig dug plas. Alhamdulillah pas yah, fffh. Selamat Mutia. Lo pulang-pulang mesti bawa kincir angin segede gaban ya, fffh. Lo berhasil membuat gue mual-mual. Antara stress lo boongin dan tiba-tiba senang, haha😀  semoga berkah”

“Bahaha, pengen peluk deh dari jauh, makasih ya fii, makasih ya fii, makasih ya fii, makasih ya fii, makasih ya fii, makasih ya fii maaf yak belom nyampe 7.5”

“Hahaha, gue belum bisa berbuat banyak nih, tapi ini juga jadi pelajaran buat gue mut. Berkat ketekunan lo juga, lo bs mencapai cita-cita lo. Gue belajar banyak dari lo yang gak pernah les bahasa Inggris sebelumnya, tapi bisa belajar mandiri. Hihi. Gue terharu kalau temen gue seneng juga. Ini baru langkah awal Mut. Semoga ke depannya lu bisa buat anak-anak muda lainnya kayak lu juga J!!

“Fii T___T makasih yaa. Hehe. Gak tahu gimana caranya berterimakasih. Kalau gak ada temen belajar, mungkin gue bisa males banget . Thanx banget yah fi. Lo emang cocok banget jadi pengajar J”

Sudah dua kali Mutia gagal TOEFL IBT, dan tiba-tiba saja, dua bulan yang lalu dia SMS saya minta saya belajar TOEFL internasional.

“Fiiii, gue udah dapet letter of acceptance dari universitas di Belanda, TOEFL boleh nyusul, tapi gue gagal melulu. Bantuin gue fiiii. Gue pemalas fi, huhuhu”

“Hah?? Lo yakin mau sama gue?? TOEFL ITP lo 11 12 ama gue mut, yang internasional gue belum pernah tes. Tapi gue sedang ngajarin IELTS juga nih ama dosen dan peneliti di FE”

“GAK PERNAH TAHU FI KALAU BELUM MENCOBA”

Seperti ada petir menyambar-nyambar, setelah berdebat sana-sini, akhirnya saya putuskan, “Ok, kita mulai besok, dua kali seminggu kita belajar IELTS. Dengar-dengar sih lebih mudah daripada TOEFL internasional”

“Profesional fi”

“……………………” (suasana mendadak senyap)

Namanya Rahma Mutia. Saya berkenalan dengannya di lomba OIM UI dan forum ILDP UI 2 tahun yg lalu. Saat ini ia bekerja sebagai seorang asisten dosen di FTUI. Orangnya cerdas, ramah, tekun, tapi moody-an banget kalau belajar.

Satu bulan sebelumnya…

Mungkin memang sudah rejekinya Mutia. Saya pun akhirnya mengenal IELTS karena rekan kerja saya di NF. Suatu hari Pak Andri meminta saya untuk mengajari TOEFL seorang peneliti di FE, kawan istrinya. Dunia begitu sempit.

“Tapi Mbak, aku gak pernah tes TOEFL IBT, baru ITP aja mbak. Cuma aku emang sedang niat belajar IELTS” kata saya waktu mengobrol di rumahnya. Januari, kala itu.

“Oh ya udah gak papa”

“Aduh, tapi aku belum pernah tes IELTS mbak. Itu 2 juta kan ya sekali tes?”

“Gak papa fii”

“Mbak, yakin mau sama aku? Aku emang sedang kerja freelance2 aja sih”

“GAK PAPA FI”

“Toefl-ku ngepas standar ke luar lo mbak”

“Haha. Ya udah gak papa, kita belajar bareng aja. Aku udah ikut dua kali gagal terus nih. Haha. IBT juga gagal, udah les juga di lembaga dua kali, tetep aja gak bisa. Yang penting aku ada sistem deh biar gak males”

Namanya Mbak Elga (bukan nama sebenarnya), wanita karir yang bekerja sebagai peneliti. Orang yang lucu dan menyenangkan. Secara finansial beliau sangat mandiri. Memiliki rumah dan mobil pribadi. Belum berkeluarga. Sudah menyelesaikan S2-nya sejak 10 tahun yang lalu. Dan sangat berkeinginan untuk bisa studi doktor di luar. Tidak lama kemudian, datanglah Mutia. Rasa-rasanya saya seperti ketiban duren.

Dua orang partner saya ini membuat saya MATI KUTU. Siang malam saya belajar IELTS demi bisa mengajar (saya lebih senang menyebutnya ‘mengembangkan diri’). Untung saja ada Melody Violine, kawan saya satu kosan yang pada usia 22 tahun studi doktor di linguistik dengan perolehan IELTS 8 (kira2 650 TOEFL ITP). Buku-buku dia saya pinjam semua. Jungkir balik saya pelajari. Hal-hal gak penting seperti twitter berusaha saya off-kan (tapi ternyata susah juga, hahaha! *lempar tasbeh*). Hal-hal lebih berguna, seperti baca koran The Jakarta Post dan menulis bahasa Inggris setiap hari saya kerjakan (Nah. Ini bikin idup lebih tenang ternyata).

Saya rasa, saat kita memiliki keinginan kuat untuk terus belajar, tidak pantang menyerah, kita pasti akan mendapatkan apa yang kita cita-citakan. Kuncinya ‘berprasangka baik pada Allah’, maka rejeki akan mengalir tiada henti. Benar kata Ahmad Fuadi, bekerja keras, bersabar, dan niatkan karena Allah.

Saya melihat ada hubungan sebab akibat dalam alur hidup setiap orang. Misalnya dalam kasus saya, kalau waktu itu saya tidak ditelepon lagi untuk mengajar di NF dan mengiyakan, mungkin saya tidak akan bertemu Mbak Elga, apalagi terpikir untuk mengajari Mutia IELTS, sampai akhirnya dia ke Belanda, yeay! Kalau saja saya bekerja di tempat lain, mungkin ceritanya akan berbeda. Saya tidak akan bertemu dengan dua orang (asisten) dosen ini, tempat saya bisa memantapkan hati saya untuk fokus menjadi akademisi dan translator, lantas mengubur cita-cita menjadi jurnalis (ceritanya panjang, baca postingan titled ‘my first career journey’ haha!). Baiklah, mungkin ini memang sudah jalannya!🙂

Segala kesabaran, kerja keras, dan do’a akan terbayar pada waktunya. Hidup ini adalah pilihan, dan kita tetap harus bertanggungjawab pada pilihan itu.

Mari memilih jalan yang terbaik :)!

23 Maret, 00: 14