Namanya Yanto. Umur 18 tahun. Lulusan SMP. Sehari-harinya mengamen di bus dan kereta api. Hobinya mendengarkan radio 107 FM jika sedang menunggu bus. Tahu kan? Itu lo, radio yang memutar lagu-lagu dangdut, yang penyiarnya sering pakai bahasa campur-campur, Kadang-kadang bahasa Indonesia, kadang juga bahasa daerah, sebentar-sebentar dipaksakan pakai bahasa Inggris. Yanto sering iseng menelepon sang penyiar dengan HP-nya (ah, biar pengamen begini, tapi Yanto punya “HP untuk rakyat”), bukan request lagu atau kirim salam, tapi mempromosikan diri.

“Aku mau nyanyi, Mbak, kali ada produser rekaman yang dengar”

“Astaga. Kamu lagi?” dari seberang menggerutu pelan

“Lha, ya to?”

“Aduh. Yanto, dibilangin susah banget sih”

“Kenapa to? Salah saya…?” Tuut tuuut. Telepon ditutup. “Eh mbak..mbak! Saya cari kerjaan!”

Yanto juga senang mengamati televisi yang layarnya terkadang bergoyang-goyang karena gangguan gelombang. Ada hubungannya juga mungkin, dengan emaknya yang suka pulang malam.

“Abis darimana, Mak? Capek sekali”

“Goyang…” jawabnya singkat, lalu masuk ke kamar. Batuk-batuk dan rintihan sakit terdengar dari dalam.

Yanto terdiam. Sudah satu minggu ini ia resah. Bukan apa-apa. Minggu lalu, saat ia sedang menunggu di halte dekat terminal, ada seorang lelaki tua buta berkacamata hitam dan berjanggut membawa tongkat. Di tangannya selebaran bertuliskan huruf arab, stempel, dan tanda tangan. Ia berjalan menyusuri trotoar, lalu tahu-tahu saja sudah memukul-mukul ringan kaki Yanto dengan tongkatnya. Ia berdiri di depan halte dan berceramah. Katanya, sekarang banyak orang mendadak hobi goyang. Di jalanan, polisi minta digoyang. Di panggung, wakil rakyat minta digoyang. Di pengadilan, hakim juga minta digoyang. Di rumah, suami minta digoyang. Aih. Yanto terkesiap. Alangkah mulianya pekerjaan ibunya kalau begitu, menghibur para aparat di negerinya. Sang lelaki tua lalu menunjuk-nunjuk hidung Yanto dengan tongkatnya, walaupun Yanto sempat sigap berkelit.

“Duit..duit..” tongkatnya mengenai kening Yanto

“Masnya ndak goyang dulu to?”

“Duit dulu donk duit…kasih duiiiit”

“Masnya ndak goyang ah! Saya gak mau kasih duit ah!” Yanto pergi. Kesal. Seenaknya saja bapak itu memukul-mukul keningnya dan minta uang. Dikira Yanto punya banyak uang apa? Gerutunya. Tapi Yanto akhirnya sadar, ibunya goyang untuk cari uang. Ia merasa bersalah.

“Ndak usah” kata ibunya waktu Yanto sempat berwacana ingin membantu ibunya mencari pekerjaan yang lebih layak. “Ndak usah! kamu ndak usah ikut-ikutan emak ah! Kamu ngamen saja!”

“Tapi, Mak, kata tetangga-tetangga di sini, goyangan emak, mahal lo”

“Hush, sotoy kamu. Hmm, tapi ya juga sih. Begini, emak goyang buat kamu dan adikmu lanjut sekolah. Harga-harga makin naik. Tahu kamu?!”

“O ya to?”

“Ya”

“Bener to?”

“Bener”

“Ma, Yanto mau sekolah!”

Yanto tak kehabisan akal. Sejak emaknya ditinggal bapak tiga tahun lalu karena jatuh dari lantai 40 saat pengerjaan proyek pembangunan gedung pemerintah, Yanto hanya merasa harus bertanggungjawab. Ia harus mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan.

****

Sebetulnya, sebelum mengamen, Yanto pernah bekerja di tempat yang tidak harus berpanas-panas. Pertama, ia diterima jadi pelayan di rumah makan. Yanto anak yang rajin. Saking rajinnya, ada rekan kerja yang iri sampai-sampai Yanto sering diguna-guna. Yanto lelah, ia berhenti. Sementara ibunya semakin kurus karena penyakit yang sampai sekarang Yanto tak tahu.

Lalu Yanto beralih jadi penjaga warnet. Lumayan, pekerjaan ini juga tidak harus berpanas-panas, tapi Yanto berpikir, mengamen saja dapat seratus ribu perhari. Jaga warnet? Yanto memilih berhenti.  Hingga suatu hari Yanto bertemu Minah, kawan SD-nya dulu di halte bus. Ia tahu pekerjaan Minah itu KEREN. Setiap hari, ia bisa mengantongi ratusan ribu rupiah, tapi tentu saja, lebih beresiko.

“Copeeeet!” teriak seorang ibu waktu mendapati seorang anak perempuan dengan rambut merah terbakar matahari berlari secepat kilat. Orang-orang mengejar Minah. Minah kaget karena tidak pernah ketahuan sampai sebegininya. Tiba-tiba ada mobil yang datang berlawanan arah. Brug! Tubuh Minah menabrak mobil. Yanto menahan nafas, mendapati kawannya berlumur darah. Sejak itu, ia bersepakat, tidak mau cari mati.

Sudah banyak pekerjaan yang dicobanya. Sebetulnya, ingin sekali ia meneruskan pekerjaan ayahnya jadi tukang bangunan. Tapi ibunya selalu melarang. Katanya sih trauma, karena ayahnya jatuh dari lantai atas. Yanto menghela nafas. Bagaimanapun, ia tetap harus cari kerja, untuk emaknya, untuk sekolah adik-adiknya. Ia mulai berpikir keras.

****

Karena tak menemukan pekerjaan yang cocok, Yanto jadi sering melamun. Dia jadi sering menunggu kereta ekonomi di peron, atau naik bus sembarangan saja. Sampai-sampai Yanto kelelahan. Sore hari nafasnya megap-megap karena saking lelahnya mengitari Jekardah, ibu kota negara. Ia melepaskan ukulele yang diselempangkannya. Sambil kipas-kipas di halte favoritnya. Tidak jauh dari tempat mahasiswa biasa demo. Demo? Yanto sadar, dari jauh sekawanan orang datang sambil mengangkat poster tinggi-tinggi dan berteriak-teriak.

Tak jauh pula dari halte, sebuah mobil berwarna hitam mentereng menepi. Seorang perempuan ke luar dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan kasar. Tak lama kemudian, seorang lelaki menyusul. Mereka saling beradu mulut.

“Sudah sampai sini saja! Anak-anak ikut aku! Lebih baik Papa urus negara saja!”

Yanto memperhatikan mereka dari kejauhan. Si perempuan membawa seorang anak lelaki. Ia berjalan terus membelakangi mobil, penuh dengan emosi. Sang lelaki menendang roda mobil, lalu masuk kembali ke dalam.

Dari arah yang berlawanan, tampak mobil polisi hilir mudik. Gerombolan demonstran semakin dekat, ia mengenali satu wajah familiar di sana.

“To, Yanto! Melu!” Emak Yanto! Emaknya ada di kerumunan demonstran itu. Ia memanggil Yanto dari jauh. Kepalanya menyembul dari keramaian, lalu menghampiri Yanto.

Melu Nto, harga-harga kabeh naik!” Nafas emaknya tersengal.

“Ndak mau aku ah, capek ini seharian keliling dengan bus, Mak. Emangnya emak sudah sembuh?”

“Kita harus ngomong langsung sama presiden, Nto, kalau kamu mau sekolah!” Yanto mulai berpikir. Ia mengiyakan. Sigap menyelempangkan ukulelenya lagi.

“Yo wis, siapa tahu aku bisa ngamen dan dapat uang lebih banyak di sana”

Maka Yanto ikut gerombolan demonstran, meninggalkan halte favoritnya, berjalan menuju gedung DPR bersama emaknya. Berpanas-panasan. Berdesak-desakkan, bernyanyi-nyanyi, berteriak-berteriak, bersusah payah.

“Prang!” ada yang pecah

“Kaca mobil, Mak! Itu mobil yang tadi berhenti di dekat halte to?”

“Prang!” pecah lagi

“Maaak!”

“Prang!” lagi, dari arah berbeda

“Maaak, di mana, Maaak?”

“Prang!” pecah

“Maaaak!”

“Prang!” pecah lagi-lagi

“Yantooo! Lari, Nto! Lariiiii!” Suara terakhir emak yang didengarnya, sebelum seseorang memeluk pinggang emak dan membawanya pergi dengan kasar. Tidak tahu ke mana. Keadaan semakin tidak terkendali. Asap putih mengepul mengudara. Yanto kalap, tak bisa melihat apapun. Matanya pedas. Ia tak tahu harus berbuat apa. Orang-orang yang tadi membersamai dirinya berpencar tak karuan.

“Mingggiiiiir” suara satu, tidak tahu dari mana. Yanto batuk-batuk. “Seraaaang!” suara dua, semakin kencang. Yanto tak tahan. “Bakaaaar! Jaraaah!” satu dua mobil tidak berbentuk lagi. Para demonstran menggoyang-goyangkan badan mobil.

Jalanan semakin banyak oleh kerumuman orang, dengan jaket warna-warni, dan wajah berjenis-jenis usia. Tidak peduli, sekalipun banyak yang terinjak-injak.

Yanto mencari-cari emaknya, tetap tidak tampak. Ia lalu menyelamatkan diri dan ukulelenya. Ia berlari sambil memanggil-manggil parau emaknya, “emaaaak!” Api berkobar di banyak sudut jalan. Yanto memanggil lagi, “emaaak!”. Suara tembakan terdengar di sana-sini, suara Yanto tidak bisa lebih keras, tapi ia terus memanggil “emaa…aak!” Nyanyian demonstran rupanya terdengar lebih keras, suara Yanto terkubur oleh nyanyian itu. Sekali lagi, “em…ak…” makin terkubur, “ee..m…..”, lebih terkubur, “…m” terkubur, “……..”

****

“Top!” seorang lelaki berbadan tinggi besar tersenyum senang.

“Sakit.… Mas, sudah cukup…”

Lelaki itu lalu pergi setelah merasa puas, meninggalkan seorang perempuan yang tidur telentang di lantai sebuah gudang. Keringat mengucur deras dari keningnya. Rambut si perempuan berantakan. Bajunya robek tak karuan. Tubuhnya lebam. Ia menggigit bibirnya perih.

“Yanto….” katanya lirih, “Emak mau berhenti goyang. Sakit sekali, Yanto…” Sayang, tak ada Yanto di sana (*)