Belakangan ini, saya terlibat dalam sebuah proyek di kantor konsultan PR sebagai translator. Tentu tidak banyak yang bisa saya ceritakan, selain aktivitas duduk di depan komputer selama berjam-jam, menekuri lembar demi lembar summary media ekonomi bisnis pertambangan untuk di-translate ke dalam bahasa Inggris, dikejar-kejar deadline, dan hanya sekali-kali bisa berjalan untuk mengambil minum, shalat, dan makan.

Tidak terlalu menarik bagi saya, karena sejujurnya, pekerjaan duduk di depan komputer adalah hal yang membosankan. Walaupun pendapatan yang didapat bisa berkali-kali lipat dari biasanya. Aish. Tidak direncanakan juga bahwa akhirnya saya bekerja di sebuah gedung pencakar langit di Pondok Indah. Sebuah tempat yang sungguh, saya tidak pernah bayangkan.

Anyway, kita simpan dulu bagaimana pekerjaan saya. Ada hal yang lebih menarik sebetulnya, dibandingkan dengan bercerita bagaimana jadi orang kantoran. Perjalanan pulang pergi dengan bus yang padat adalah momen yang paling menggelikan bagi saya. Walau sudah 4.5 tahun saya tinggal di Depok, sampai sekarang saya masih takjub dengan sistem transportasi Jakarta yang karut-marut. Siapa yang tahan dengan naik kereta ekonomi atau bus di saat-saat terpadat? Saat semua karyawan kantor dengan pakaian rapi tiba-tiba berubah menjadi ‘singa-singa lapar di pagi buta?’ Apalagi kalau bukan demi berebut tempat duduk. Siapa juga yang tak tahan dengan oknum yang secara misterius mengamati tas kita dari jauh, siap menggasak barang berharga yang ada di dalam. Yang paling mengkhawatirkan,  tubuh para perempuan, digerayangi oleh lelaki yang tidak bertanggungjawab.

Hidup di Jakarta memang harus tahan banting. Tapi jangan sampai, pertahanan kuat kita dengan persaingan dunia kerja, serta sistem transportasi yang kacau itu membuat hati kita menjadi keras, tidak peka melihat sekitar. Itu menggejala, pada sebagian kita yang hanya peduli dengan urusan perut. Seperti kejadian yang saya alami beberapa hari yang lalu.

****

Suatu hari, di Deborah non-AC, saya mendapatkan sebuah pengalaman yang sebetulnya klasik, tapi tetap saja selalu kembali menyadarkan kita tentang kondisi ‘Jakarta’. Dalam satu bus, beberapa kali kondektur beradu mulut dengan tiga perempuan.

Perempuan pertama adalah seorang ibu dengan dua anak yang masih kecil. Mereka berdiri di bus, tidak mendapat tempat duduk. Sang kondektur tidak mau ibu dan dua anak itu naik bus karena tidak mau ambil resiko, kalau-kalau anaknya berdempetan dengan penumpang lain. Syukurlah, ada seorang lelaki yang berdiri, mempersilahkan ibu itu duduk. Saya jadi teringat, beberapa hari sebelumnya, kejadian yang sama terulang. Hanya saja, sama sekali tidak ada yang memberikan tempat. Kasian sekali anak balita itu. Sempurna, saya masih bisa menitikkan air mata melihatnya.

Perempuan kedua adalah seorang ibu-ibu paruh baya yang berdiri menghadap depan bus. FYI, untuk berdiri di bus, kita harus berdiri menghadap jendela agar bagian tengah bisa diisi dua orang yang saling berdiri membelakangi. Tapi ibu itu enggan berdiri.

“Bu…jangan berdiri kayak gitu donk, nih kayak dia” kata kondektur sambil menunjuk saya “Itu tasnya jangan di situ, jangan mentingin diri sendiri donk, Bu!” tukas sang kondektur

Sang ibu tak terima, ia marah-marah, merasa dirinya sudah berdiri pada tempatnya. “Siapa yang mentingin diri sendiri sih?! Ini kan ada yang lagi tidur, gimana saya mau simpan tasnya coba!!” responnya dengan wajah galak. Ada yang aneh dengan dialog itu. Saya masih berusaha mencerna.

Beberapa menit kemudian, ada seorang perempuan naik lagi. Tepat di saat bus sedang padat-padatnya. Bahkan kondektur sempat menghimpit saya untuk lewat sampai saya berteriak karena sesak nafas. Beberapa penumpang sudah mengeluh, kenapa masih saja menaikkan penumpang di saat seperti ini.

“Bu.., di sini donk, jangan mentingin diri sendiri!” kata kondektur, lagi-lagi, kepada ibu yang baru saja naik.

“Apa sih, heh, saya turun juga bisa kali! Siapa coba yang sembarangan naik-naikkin!”

“Eh…siapa yang naikkin, situ kan naik sendiri!”

“Lagian, udah tahu bis padet, masih aja naikin penumpang. Situ kali yang mentingin diri sendiri!”

Yah, hingga kalimat terakhir ibu itu terdengar, yang tersisa hanya keheningan di dalam bus. Orang-orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Seorang lelaki menggaruk-garuk lehernya yang berkeringat, seorang ibu terdiam membuang pandang ke jendela, seorang lelaki asik mendengarkan musik, lalu anak kecil yang duduk bersama ibunya berteriak ke luar jendela saat ada seorang lagi yang mau naik, “UDAH PENUH! Udah penuh tahu..”  Saya hanya tertawa kecil. Kalau saja bus ini isinya anak-anak semua, betapa entengnya kejujuran itu…

***

Walau sudah bertahun-tahun hidup di kota tetangganya, Depok, dan tidak terhitung menjajal sudut-sudut kota besar itu, tetap saja, selalu ada hal menarik yang membuat saya tertawa. Setiap saya sampai kantorpun, saya masih suka geli sendiri dengan rutinitas berpadat-padatan di bus Jakarta. Sambil menyeruput teh hangat, saya memandang keluar jendela dari lantai 17. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, perumahan padat di sisi belakangnya, Mall Pondok Indah juga tak jauh terlihat dari sana. Sayup-sayup saya dengar teman-teman kantor yang tertawa-tawa.

“Ah elu, baru gajian, udah ke Zara. Belagu lu”

“Kalau gue sih maunya tinggal nunggu duit suami…enak tuh jadi sosialita, haha” salah seorang teman saya bergurau.

“Itu gila yah kalau jadi sosialita, ada ibu-ibu pejabat, beli tas mahal di mangga dua, begitu ada temannya yang beli di Singapur, langsung tertekan dia, hiih”

“Anjriit, Garuda lagi promo nih, empat hari lagi. Hongkong, Singapur, Malaysia..”

Dan obrolan ngalor-ngidul yang berbicara tentang gaya hidup. Saya tertawa kecil. Ingat sekali waktu mengantar seorang teman membeli winter cloth untuk persiapan ke Rusia di GI.

“Ini beneran yah gue beli cloth harga segini di Zara. Di luar kan masih ada yang kelaparan…” kata kawan saya itu. Lugu.

Saya lantas tertegun, teman-teman lain tertawa dan bilang padanya, “Haha, dasar anak baru. Ya udah sih dibayarin perusahaan ini. Belum aja lu belum”. Kata kawan-kawan saya. Bergurau.

Sisa teh saya tinggal seteguk begitu obrolan berakhir. Saya kembali ke meja kerja dan menerjemahkan kembali beragam sheets tentang dunia korporat. Tentang saham yang naik turun, tentang regulasi pemerintah, tentang kerusakan lingkungan. Sempat tertegun cukup lama. Hingga satu lembar tisu saya ambil dari tas. Rasa-rasanya ada yang memerah…