“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya”

Tak perlu saya cantumkan siapa sosok yang menyatakan pernyataan di atas. Mungkin terdengar sangat familiar di telinga para aktivis dakwah. Tentu saja beliau tidak main-main mengucapkan kata-kata tersebut. Ada satu hal yang saya garis bawahi dari pernyataan beliau, “biarlah saya yang menanggungnya”. Ya, biarlah saya yang menanggungnya. Penggalan kalimat tersebut bukan sekadar penggalan lalu yang hanya didengar dan direnungkan. Ada sebuah magnet yang menggerakkan, sebuah sikap meyakinkan yang tidak semua orang mampu mengatakan dan melakukan. Jika dirangkum dalam satu kata, maka kita akan dapati satu makna yang istimewa: Pengorbanan.

            Sesungguhnya, tidak mudah jika saya berbicara soal berkorban. Bagi diri ini yang masih jauh dari “sikap mau berkorban”, awal-awal kata ini terdengar sangat janggal. Tidak mungkin pengorbanan menjadi makna yang begitu istimewa bagi seorang “saya”, ia justru adalah gudang dari segala gudang kepenatan. Namun, tidak ada salahnya jika kita merenung sejenak, merehatkan hati dari kepenatan yang bersiraja. Biarlah seorang “saya” berbagi kata untuk teman-teman semua, agar kita bisa lebih tergerak untuk menyelami makna “berkorban” yang sesungguhnya.

Berani Bermimpi, Berani Memberi

            “Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu” (HR. Al Bukhari)

 

            Ada seseorang yang seringkali mengucapkan kata-kata agung, “Aku memiliki sebuah mimpi: Membangun Peradaban”. Kata-kata tersebut begitu menggerakkannya, ditulisnya kata-kata tersebut di secarik kertas dengan tinta emas, lalu ditempelnya di kamar kos berukuran 3×3 meter. Seperti halnya hukum tarik menarik, ia sadar jika tak ada energi memberi, maka ia tak akan mendapat energi menerima. Maka diketuklah pintu paksa dalam hatinya, bahwa memberi kebahagiaan adalah kunci menerima kebahagiaan, bahwa berani bermimpi berarti berani memberi.

Jika kita membawa sekeping hati ini untuk berlari dari kesibukan, maka sungguh kita akan memilih untuk berada di tempat sepi saja. Sendiri, tanpa “berkawan” konflik dan kepenatan. Betapa nikmatnya berada dalam zona kenyamanan. Betapa banyak wawasan, ide, dan kesempatan yang terlewatkan. Betapa banyaknya cerita orang-orang sukses yang tak terdengarkan. Dunia dinikmati sekadar untuk ditempati. Waktu terlewat, sekejap  menguap tanpa kontribusi. Betapa ingin karena kerja-kerja besar hati dihargai, tapi tak logis jika kita jarang sekali memberi.

Mari kita sejenak menengok aktivitas seorang kader dakwah seperti yang dituturkan oleh Hasan al-Banna. Pada ashar Kamis di akhir pekan, ia keluar dari bengkel tempat bekerja. Malamnya, ia sudah memberikan ceramah di sebuah pertemuan beberapa puluh kilometer dari tempatnya. Esok Jum’atnya , ia berkhutbah dengan bagus di tempat lain yang cukup jauh. Asharnya, ia memberikan pengarahan pada sebuah mukhayam yang diikuti ratusan pemuda dari berbagai penjuru. Lepas isya, ia menyampaikan arahan dalam sebuah daurah besar, ratusan kilometer dalam 30 jam ditempuhnya, suatu perjalanan yang melelahkan. Namun esoknya, dengan wajah cerah cemerlang, dan hati yang tenang, ia telah tiba di tempat kerjanya lebih cepat, tanpa ribut-ribut mengisahkan kerja besar yang baru diselesaikan.

Ketika mendapati kisah tersebut, saya jadi teringat perkataan seorang kawan saat ia mendapat sebuah penghargaan karena kinerja baiknya dalam sebuah organisasi, “Bagi saya, hidup adalah sebuah pohon, bukan bagaimana tangkainya menjulang ke atas, tapi bagaimana akarnya menghunjam ke bawah”. Setelah mendengar penuturannya, saya jadi merenung sejenak. Mungkin saja selama ini kita sering mengingat kebaikan apa saja yang sudah dilakukan, ada ego tersendiri bahwa kita mampu melewati onak dan duri, ada satu kebanggaan tersendiri bahwa kita diakui dalam organisasi, tapi betapa bila kita meletakkan hati ini terlalu tinggi, maka filosofi akar pohon yang menghunjam ke bawah tak akan berarti. Sungguh ingin hati ini menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta kita. Tanpa puja-puji. Tanpa arogansi.

Semoga saja, kita tidak termasuk orang-orang jenuh seperti yang diungkapkan oleh Sayyid Quthb:

Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya (Sayyid Quthb)

.

Menyalakan Lilin Ketulusan

 

            Betapa klisenya “satu kata” ini disebut, betapa ingin kita menutup telinga rapat-rapat agar tak terkesan terdoktrinkan. Bisa jadi kita sudah mencoba untuk membebas makna kata yang satu ini. Ada keyakinan yang menggerakkan ketika kita menjalankan berbagai aktivitas; kuliah, dakwah, bisnis, dan sebagainya. Walid bin Said Bahakim dalam bukunya yang berjudul Orang-orang yang Tidak Suka Popularitas menyatakan, sesungguhnya, salah satu faktor terpenting agar suatu kemenangan bisa diraih, dan di antara sebab-sebab diterimanya suatu amal, adalah tampilnya hati-hati yang tulus. Sementara, kebangkitan Islam saat ini justru masih mengalami banyak kekurangan, karena hati-hati yang tulus itu raib entah ke mana.

Menyalakan lilin ketulusan berarti membuka celah demi mendengarkan hati nurani. Mari mempertanyakan diri kita sejenak, masih tersisakah hati kita untuk menyalakan lilin ketulusan? Masih tersisakah cinderajiwa dalam kerja-kerja dakwah kita? Atau ia tenggelam karena rutinitas yang melenakan? Atau ia terlalu lama tertindih oleh diktat kuliah dan pekerjaan yang memperdayakan? Mungkin sejarah akan berkata lain jika Rasulullah tak menyalalan lilin ketulusan untuk mengemban risalah yang maha dahsyat. Mungkin sejarah tak akan berkisah tentang Umar bin Khatab yang membawakan sekarung beras seorang diri demi rakyatnya. Mungkin Abu Bakar tak akan diceritakan kurus kering jika ia tak mendermakan hartanya dengan keikhlasan. Pun Ustad Rahmat Abdullah, ia tak akan berani mengungkapkan, “biar saya yang menanggungnya”, jika sejak awal beliau tak menyalakan lilin ketulusan; lilin keikhlasan.

“…Di antara kotoran dan darah, ada susu yang khalis, ikhlas, murni, mudah ditelan bagi peneguknya” ( An-Nahl 66)

Menyalakan lilin ketulusan berarti memberi kesempatan bagi kita untuk membuka pintu kegembiraan. Anis Matta dalam bukunya Arsitek Peradaban mengatakan, kegembiraan dan kesedihan tidak berdiri sendiri. Mereka muncul karena motivasi, dan motivasi itu dibentuk oleh sejumlah keyakinan pemikiran, yang menjadi dasar dan reasoning dari perasaan yang ditimbulkannya kemudian. Saudaraku, bagi para aktivis dakwah, perjuangan mereka adalah perjuangan yang unik karena memadukan dua perasaan kontradiktif dalam perjalanannya. Hanya saja, pilihan di antara keduanya adalah suatu keharusan. Memang kesedihan dalam perjuangan adalah suatu bentuk ekpresi, tapi jika dibiarkan berlarut, maka pintu kegembiraan tak akan pernah terbuka dalam rumah perasaan kita. Ia juga tak akan terbuka untuk memberikan celah bagi cahaya keikhlasan.

Ketulusan bagi para pejuang akan melahirkan kebesaran jiwa. Ia adalah sikap yang menggerakkan visi dan misi seorang da’i. Jika seorang pejuang kehilangan misi perjuangannya, maka bisa jadi ia akan berubah wajah menjadi pecundang. Sebaliknya, jika seorang pecundang meluruskan orientasinya, maka dia akan menjadi pejuang. Pejuang tak pernah melupakan sejarah kejayaannya. Pejuang adalah seseorang yang menyelami makna pengorbanan. Kawan, boleh jadi orang lain melupakan sejarah kejayaannya, menaruhnya di belakang, dan menutup mata dari kebobrokan zaman, tapi bagi para da’i, sejarah adalah saat ini, ia sedang singgah di sini, ia meminta kita untuk melukisnya hari ini (AS)

Wallahu’alam bishshowab

 

Depok, 25 Februari 2009

Pukul 20.22

Saya menulis ini 3 tahun yang lalu, rasa-rasanya, rindu sekali dengan semangat menyeru kebaikan. Kehidupan telah berubah sedemikian rupa. Tapi semoga Allah selalu menjaga saya, di jalan ini. Kapan, dan di manapun saya berada. Amin.